Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Manchester Siap Jadi Tuan Rumah KTT G20 2027
- Laga Indonesia Vs Malaysia, Polri Siapkan Rekayasa Lalu Lintas & Kantung Parkir
- Siapkan 2.373 Personel, Polri Pastikan Keamanan & Kelancaran FIFA ASEAN 2026
- Tiket Kapal PELNI Kini Bisa Dipesan H-60 Sebelum Berangkat
- PSS Sleman Terpuruk, Pieter Huistra Manfaatkan Jeda FIFA Matchday
Kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial seseorang yang memengaruhi cara berpikir, merespons perasaan, serta mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kesehatan mental berada dalam kondisi yang baik, seseorang mampu mengelola stres dengan adaptif, bekerja secara produktif, dan menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar. Sebaliknya, ketika keseimbangan ini terganggu terutama akibat tekanan berlebih dari lingkungan kerja, kemampuan seseorang untuk berfungsi secara optimal akan menurun secara drastis dalam berbagai aspek kehidupan.
Setiap tahunnya, tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (World Mental Health Day). Peringatan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang isu-isu kesehatan mental di seluruh dunia. Pada tahun 2024, salah satu fokus utama adalah kesehatan mental di tempat kerja, sebuah isu yang kian relevan di tengah tantangan pekerjaan modern.
Di lingkungan kerja saat ini, menyelesaikan tugas hingga larut malam atau menghadapi tumpukan pekerjaan sudah menjadi hal umum. Target yang tinggi dan batas waktu yang ketat sering membuat pekerja kurang memperhatikan kondisi kesehatan mental mereka. Banyak orang menganggap rasa lelah, cemas, dan stres sebagai konsekuensi biasa yang harus diterima demi mencapai kemajuan karir.
Baca juga : Pentingnya Promosi Kesehatan Dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat
Namun, membiarkan pikiran terus-menerus digempur oleh beban kerja berlebih tanpa adanya jeda dapat memicu terjadinya burnout. Kondisi ini merupakan bentuk kelelahan fisik, mental, dan emosional yang sangat mendalam, di mana seseorang mulai kehilangan motivasi, merasa tidak berdaya, hingga mengalami penurunan efektivitas kerja secara signifikan.
Stres pekerjaan yang memuncak tidak hanya merusak suasana hati, tetapi juga dapat merembet pada gangguan kesehatan fisik yang nyata, seperti masalah pencernaan, insomnia parah, sakit kepala berulang, hingga penurunan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental di tengah kesibukan bukanlah sebuah kemewahan semata, melainkan sebuah kebutuhan mendasar yang sangat penting bagi setiap orang.
Untuk merawat kondisi mental adalah berani mengenali kapasitas serta batas kemampuan diri sendiri. Selain itu, berkomunikasi secara jujur dan profesional dengan rekan kerja atau atasan mengenai kendala beban kerja dapat membuka ruang diskusi untuk menemukan titik terang, seperti pembagian tugas yang jauh lebih proporsional. Sering kali rasa kewalahan muncul karena kita berusaha menyelesaikan seluruh tanggung jawab dalam satu waktu tanpa adanya perencanaan yang realistis.
Baca juga : Gummy Buah: Klaimnya Sehat, Isinya Gula!
Di samping pengelolaan tugas pribadi, peran aktif perusahaan juga sangat penting dalam menyediakan ekosistem kerja yang kondusif. Manajemen dapat menetapkan batas komunikasi pekerjaan setelah jam kantor selesai serta memfasilitasi program bantuan konseling bagi karyawan. Penerapan budaya kerja yang memanusiakan pekerja ini terbukti mampu menciptakan organisasi yang jauh lebih sehat.
Membangun lingkungan kerja yang sehat tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga pada kualitas hidup para pekerja. Kesehatan mental yang baik membantu individu mengatasi tekanan, bekerja lebih efektif, dan memberikan kontribusi positif bagi organisasi. Tetapi, lingkungan kerja yang penuh tekanan tanpa dukungan emosional yang memadai hanya akan merugikan kedua belah pihak.
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), masalah kesehatan mental di tempat kerja dapat menyebabkan kerugian ekonomi global hingga 1 triliun dolar AS per tahun akibat berkurangnya produktivitas. Selain itu, WHO memperkirakan bahwa lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia menderita depresi, banyak di antaranya terkait erat dengan tekanan di tempat kerja.
Baca juga : Stunting Masih Menjadi Tantangan bagi Anak Indonesia
Pekerjaan memang sebuah bentuk tanggung jawab yang harus diselesaikan dengan baik, tetapi kesehatan mental adalah fondasi utama agar seseorang dapat terus berkarya secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Karir merupakan sebuah perjalanan maraton, bukan lari cepat yang menghabiskan seluruh energi di awal. Menjaga pikiran tetap sehat, tenang, dan seimbang di tengah tumpukan tugas adalah investasi terbaik untuk mempertahankan kualitas hidup, baik di dalam lingkungan profesional maupun dalam kehidupan personal sehari-hari.
Artikel ini ditulis oleh Mutiara, Luthfiah Mawar M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Putri Namira, Latan Sabila Lubis, Peggi Aulia, Nabila Atika Rahma, Sri Rahma, Salsabila Siregar, Aninda Listya, dan Sitti Fhadilah Pasaribu dari IKM 8 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
IKM8 UINSU Stambuk2026d
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya