Dark/Light Mode

Mengupas Strategi Pengelolaan Sampah di Permukiman Padat

Minggu, 4 Oktober 2026 21:16 WIB
Ilustrasi penumpukan sampah. (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi penumpukan sampah. (Gambar dibuat dengan AI)

Sampah sering dianggap sebagai persoalan sepele: dibuang ke tempat penampungan, lalu selesai. Padahal, ketika pengelolaannya buruk, sampah dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Persoalan ini semakin kompleks di permukiman padat karena keterbatasan ruang, infrastruktur sanitasi, akses layanan, serta kesadaran masyarakat yang belum merata.

Di kawasan padat penduduk, sampah yang menumpuk dapat menyumbat drainase, mencemari lingkungan, dan menjadi tempat berkembangnya berbagai vektor penyakit. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan leptospirosis. Karena itu, sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai masalah kebersihan, tetapi juga sebagai persoalan kesehatan masyarakat.

Sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat, kami melihat persoalan ini secara lebih kritis. Kebiasaan membuang sampah sembarangan memang menjadi salah satu faktor, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Keterbatasan tempat penampungan, pengangkutan yang tidak teratur, kondisi ekonomi, kepadatan hunian, hingga lemahnya pengelolaan di tingkat masyarakat juga ikut memengaruhi. Menyalahkan masyarakat tanpa melihat kondisi tersebut justru membuat masalah menjadi semakin sulit diselesaikan.

Baca juga : Peran Keluarga dalam Mendukung Kesehatan Ibu dan Anak

Salah satu persoalan yang masih terlihat adalah kesadaran yang cenderung bersifat individual. Sebagian orang menjaga kebersihan rumahnya, tetapi belum tentu memiliki kepedulian yang sama terhadap lingkungan sekitar. Padahal, kesehatan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Rumah yang bersih tidak akan cukup apabila saluran air, jalan, dan lingkungan di sekitarnya dipenuhi sampah.

Lalu, apa yang dapat dilakukan? Pengelolaan sampah perlu dimulai dari tingkat komunitas. RT/RW dapat bekerja sama dengan kader kesehatan, PKK, karang taruna, dan masyarakat untuk membangun kebiasaan memilah serta mengurangi sampah dari rumah. Bank sampah juga dapat dikembangkan bukan hanya sebagai tempat mengumpulkan sampah bernilai ekonomi, tetapi sebagai sarana edukasi dan pembentukan kebiasaan baru.

Namun, partisipasi masyarakat tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan pemerintah. Ketersediaan tempat penampungan, armada pengangkut, jadwal pengangkutan yang konsisten, serta fasilitas sanitasi yang layak merupakan bagian penting dari solusi. Edukasi juga perlu dilakukan dengan pendekatan yang tidak menghakimi. Masyarakat perlu dilibatkan dalam menemukan solusi sesuai kondisi lingkungan mereka, bukan sekadar diberikan larangan.

Baca juga : Tantangan Menjadi Mahasiswa di Masa Awal Perkuliahan

Pengelolaan sampah juga sebaiknya dihubungkan dengan program kesehatan yang sudah berjalan, seperti Posyandu dan Puskesmas. Dengan pendekatan tersebut, sanitasi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Masalah sampah menunjukkan bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh perilaku individu. Ada faktor sosial, ekonomi, lingkungan, dan kebijakan yang saling berkaitan. Karena itu, solusi yang dibutuhkan bukan sekadar menambah tempat sampah, tetapi membangun sistem pengelolaan yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat.

Sebagai calon tenaga kesehatan masyarakat, kami tidak cukup hanya memahami teori. Kami perlu turun ke lapangan, melihat persoalan secara langsung, mendengarkan masyarakat, dan ikut mencari solusi yang realistis. Perubahan sanitasi dimulai dari kebiasaan kecil, tetapi keberhasilannya membutuhkan kerja bersama. Ketika sampah mulai dikelola, lingkungan menjadi lebih sehat, dan masyarakat pun memiliki kesempatan yang lebih besar untuk hidup dalam lingkungan yang layak dan sehat.

Baca juga : Risiko Kesehatan dalam Penyimpanan Makanan Sisa

Artikel ini ditulis oleh Kesya Maulida, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

IKM10 UINSU Stambuk 2026c
IKM10 UINSU Stambuk 2026c
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.