Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dr. Julita Lea Dorong Guru Pahami Anak Sebelum Tentukan Strategi Pembelajaran
Minggu, 18 Oktober 2026 14:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dokter dan Konsultan Anak Berkebutuhan Khusus Dr. Julita Lea Lestari mendorong guru sekolah dasar (SD) memahami karakteristik, kemampuan, tantangan, dan kebutuhan anak sebelum menentukan strategi pembelajaran. Pemahaman tersebut menjadi dasar agar pendekatan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
“Guru perlu memahami anak secara utuh sebelum menentukan strategi pembelajaran. Jangan hanya melihat masalah atau perilaku yang muncul di kelas, tetapi kenali juga kekuatan, kemampuan, kebutuhan, dan cara belajar anak,” ujar Dr. Julita Lea.
Pesan tersebut disampaikan dalam Workshop dan Pengembangan Guru GLITERJAK T2 bertema “Deteksi Dini dengan Empati: Peran Guru SD dalam Mengenali Karakteristik dan Kebutuhan Khusus Anak pada Masa Awal Sekolah Dasar” yang diikuti sekitar 50 guru SD di wilayah Jakarta Timur 2. Kegiatan berlangsung di SMAN 58 Jakarta pada Selasa, 22 September 2026.
Workshop tersebut dirancang untuk membantu guru melihat anak secara lebih utuh, tidak hanya berdasarkan perilaku yang tampak di ruang kelas, tetapi juga dengan mengenali kekuatan, kemampuan, kebutuhan, dan cara belajarnya.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Seksi Bidang PTK Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Urip Tarsam dan Kepala Suku Dinas Pendidikan Kota Administrasi Jakarta Timur Wilayah 2 Horale Tua Simanulang. Hadir pula ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) SD dari setiap kecamatan.
Workshop GLITERJAK T2 berangkat dari kebutuhan di lapangan, ketika guru kerap berhadapan dengan anak yang mengalami kesulitan mengikuti instruksi, hambatan membaca, mudah frustrasi, atau menunjukkan perilaku yang mengganggu proses pembelajaran.
Baca juga : Terapi Modul SOBAT Tingkatkan Keterampilan Sosial Anak Autisme
Melalui pendekatan See the Child, peserta diajak mengubah cara pandang terhadap anak. Anak tidak semata-mata dilihat dari masalah atau perilaku yang muncul, tetapi juga dari kekuatan, kemampuan, kebutuhan, dan cara belajarnya.
Untuk membantu guru melakukan pengamatan secara lebih objektif, workshop memperkenalkan kerangka 5M, yakni Masalahnya Apa, Muncul di Mana, Melakukan Apa, Mampunya Apa, dan Membutuhkan Apa.
Peserta juga diperkenalkan dengan prinsip observasi Lihat, Dengar, Hitung serta pemahaman fungsi perilaku melalui pendekatan ABC. Pembahasan kemudian diperdalam melalui sesi yang disampaikan RR. Baiduri, Konselor Anak, Remaja dan Keluarga. Berdasarkan pengalaman di lingkungan sekolah, peserta diajak memahami bagaimana guru kelas dan guru bimbingan dan konseling (BK) dapat melihat anak dari sudut pandang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Sesi tersebut juga menekankan pentingnya kolaborasi ketika seorang anak membutuhkan dukungan lebih lanjut. Memasuki sesi praktis, Dr. Julita Lea menyampaikan materi “How to Become an Impactful Teacher”.
Dia menekankan bahwa strategi pembelajaran perlu disusun berdasarkan hasil pengamatan dan pemahaman terhadap karakteristik anak.
“Melalui observasi yang objektif, guru dapat mengenali apa yang menjadi tantangan anak, di mana dan bagaimana tantangan itu muncul, kemampuan apa yang sudah dimiliki, serta dukungan apa yang dibutuhkan. Dari situ, guru bisa menentukan langkah pembelajaran yang lebih tepat,” jelas Dr. Julita Lea.
Baca juga : Lestari Dorong Perkuat Sistem Pembelajaran Adaptif Hadapi Ancaman Bencana
Untuk membantu guru menerjemahkan hasil pengamatan menjadi langkah yang lebih terstruktur, Dr. Julita Lea memperkenalkan tiga formulir berdasarkan kerangka 5M dan observasi objektif.
Form 1 digunakan untuk deteksi dini dan membangun profil belajar anak, Form 2 untuk menyusun Program Pembelajaran Individual, sedangkan Form 3 digunakan ketika guru perlu memahami perilaku secara lebih mendalam dan menyusun rencana dukungan.
Setelah memahami kerangka tersebut, peserta melanjutkan kegiatan dengan studi kasus bersama Yuliana Jamal, Konsultan Program dan Parenting Keluarga Anak Berkebutuhan Khusus. Dua kasus digunakan untuk menunjukkan bagaimana informasi mengenai seorang anak dapat diterjemahkan ke dalam ketiga formulir tersebut.
Berbeda dari seminar yang hanya berfokus pada pemaparan materi, workshop ini melibatkan peserta secara langsung dalam praktik. Ketiga narasumber bersama-sama mendampingi guru selama proses latihan.
Melalui contoh kasus yang ditampilkan dalam video, peserta diajak mengamati situasi yang terjadi, menentukan informasi yang relevan, mendiskusikannya, kemudian mencoba menuangkan hasil pengamatan ke dalam Form 1, Form 2, dan Form 3.
Dengan pendekatan tersebut, guru tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai deteksi dini, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam mengubah hasil pengamatan menjadi pemahaman mengenai kebutuhan anak, kemudian menyusunnya menjadi rencana dukungan yang dapat diterapkan di sekolah.
Baca juga : Guru di Bandung Barat Manfaatkan Papan Digital dan AI untuk Pembelajaran
Dokumen kegiatan mencatat peserta mengikuti diskusi dan tanya jawab secara aktif hingga kegiatan berakhir. Bagi Dr. Julita Lea, seluruh proses tersebut bermuara pada prinsip memahami anak sebelum menentukan strategi pembelajaran.
Ketika guru mampu mengenali kemampuan, tantangan, dan kebutuhan anak dengan lebih baik, dukungan yang diberikan dapat menjadi lebih terarah.
“Setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda. Karena itu, guru perlu melihat anak secara menyeluruh agar strategi dan dukungan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhannya,” pungkas Dr. Julita Lea.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya