Dark/Light Mode

IBC dan CBL International Dirikan Perusahaan Patungan Manufaktur Sel Baterai

Rabu, 16 Oktober 2024 21:47 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Industri Baterai Indonesia atau Industry Battery Corporation (IBC) melakukan penandatanganan Interim Agreement dan Akta Pendirian Perusahaan Patungan Manufaktur Sel Baterai dengan CBL International Development Pte. Ltd., di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rabu (16/10/2024).

Penandatanganan tersebut disaksikan langsung Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo.

Kerja sama ini merupakan upaya strategis IBC dalam mendorong program hilirisasi nikel dan pengembangan industri baterai terintegrasi serta dalam rangka mengembangkan rantai pasok baterai kendaraan listrik, mulai dari hulu hingga ke hilir.

Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci baterai di pasar global.

Dalam kerja sama ini, IBC terlibat dalam rantai nilai di segmen hilir, antara lain manufaktur baterai material, manufaktur sel baterai dan daur ulang baterai.

Baca juga : Ini Materi Yang Disodorkan Prabowo Untuk Para Calon Menteri

“Hari ini kami melaporkan bahwa JV 5 kami, Proyek Manufaktur Battery Cell saat ini telah memasuki tahap awal dan berlokasi di Karawang, Jawa Barat,” ujar Direktur Utama IBC Toto Nugroho.

Melalui upaya bersama, IBC dan CBL ingin mengembangkan proyek ini secara bertahap dengan tujuan untuk menginvestasikan sejumlah total 1,18 miliar dolar AS dan mencapai total kapasitas produksi 15 GWh per tahun.

“Akan cukup untuk memenuhi permintaan domestik dan global,” tuturnya.

General Manager of International Business Manufacturing Operations of CATL Gordon An menyebutkan, proyek pabrik baterai merupakan komponen kunci dalam membangun rantai dan ekosistem industri kendaraan listrik dan baterai listrik di Indonesia.

“Kami bersedia untuk secara aktif memanfaatkan kelebihan kami dalam inovasi teknologi dan manufaktur, dan berharap dapat bekerja sama dengan mitra kami di Indonesia untuk mendukung pengembangan upaya elektrifikasi di Indonesia,” tuturnya.

Baca juga : Angkutan Umum Mesti Nyaman Dan Terintegrasi

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo membeberkan peran IBC dan pemegang saham yang lain.

Dia menyatakan, IBC dapat menjadi pemain utama yang mampu mengundang investor dan mitra untuk masuk pada market atau industri baterai, yang lebih terdepan daripada global player lain pada industri baterai.

“Kita juga harus cepat, agile dan adaptif dalam mengeksekusi proyek ini,” ingatnya.

Selain itu, harus mengamati perubahan teknologi yang muncul di bidang kendaraan listrik, sehingga dapat lebih kompetitif.

“Harapannya, pada tahun 2027 kita sudah bisa melihat hasil JV yang pada hari ini ditandatangani, yaitu battery cell,“ tutur Tiko, sapaan akrabnya

Baca juga : BI Dan Bank Sentral Jepang Perpanjang Kerja Sama BSA

Dengan mempertimbangkan potensi cadangan nikel Indonesia, Project Dragon diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasokan global baterai kendaraan listrik.

Selain itu, proyek ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia.

Seperti, menciptakan lapangan kerja, menarik investasi asing dan meningkatkan kapasitas industri energi terbarukan di Indonesia.

Proyek ini juga tidak diragukan lagi akan mendukung komitmen Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emissions pada tahun 2060.

Melalui kolaborasi multipihak, termasuk pemerintah, BUMN, dan mitra internasional, Indonesia bergerak menuju masa depan yang mandiri dalam energi yang berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.