Dark/Light Mode

Kondisi Global & Domestik Masih Menantang

OJK Happy Sektor Jasa Keuangan Tetap Solid

Kamis, 6 Maret 2025 06:40 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar (kanan). (Foto: Tedy Kroen/RM)
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar (kanan). (Foto: Tedy Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap terjaga, meski kondisi ekonomi global masih tak menentu. Hal tersebut tercermin dari surplusnya neraca perdagangan yang terus berlanjut dan kinerja yang solid dari SJK.

“Sektor jasa keuangan dapat terjaga. Sekalipun tantangan perekonomian global dan juga perkembangan domestik terjadi dinamika,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam hasil Rapat De­wan Komisioner (RDK) Bulanan Februari 2025 secara virtual, Selasa (4/3/2025) sore.

Mahendra mengatakan, meskipun volatilitas pasar masih tinggi akibat ketidakpastian ke­bijakan ekonomi dan geopolitik, kinerja eksternal Indonesia tetap solid. Ini tercermin dari surplus neraca perdagangan yang terus berlanjut.

Pada Januari 2025, sambung Mahendra, surplus perdagangan Indonesia mencapai 3,45 miliar dolar AS (Amerika Serikat) atau setara Rp 56,31 triliun, tumbuh 71 persen secara tahunan.

“Volatilitas pasar tetap tinggi, seiring ketidakpastian kebijakan ekonomi dan geopolitik yang terus berkembang,” ucap mantan Wakil Menteri Keuangan ini.

Mahendra juga memperki­rakan, pertumbuhan ekonomi global relatif stagnan, seiring dengan penurunan laju inflasi di beberapa negara maju, serta ketidakpastian ekonomi dan perkembangan geopolitik.

Di Amerika Serikat (AS), per­ekonomian tetap solid didukung aktivitas ekonomi dan konsumsi domestik. Inflasi berada di kisa­ran 3 persen pada Januari 2025 dan Indeks Harga Konsumen/IHK (Consumer Price Index/CPI) meningkat naik 3,3 persen.

Hal ini menunjukkan tekanan harga di luar energi dan pangan masih cukup tinggi. Pasar tenaga kerja AS cukup kuat dan kebi­jakan moneter cenderung netral.

Baca juga : Real Sociedad Vs Manchester United, Setan Merah Ogah Kepleset Lagi

“Indikator tersebut yang mem­buat The Fed (Bank Sentral AS) diramal hanya akan pangkas (suku bunga-red) satu hingga maksimal dua kali tahun 2025,” ucap mantan Wakil Menteri Perdagangan ini.

Dari segi geopolitik, imbuh­nya, upaya penyelesaian perang Rusia Vs Ukraina juga belum menemukan titik terang, seka­lipun telah dilakukan berbagai pertemuan tingkat internasional. Di pertemuan terakhir antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, terlihat jelas tidak mencapai kesepakatan.

Selain itu, rencana penerapan tarif baru AS terhadap mitra dagang utamanya semakin pasti akan diterapkan. Hal itu akan meningkatkan ketidakpastian di perekonomian, utamanya perdagangan global.

Di perekonomian China, cen­derung stagnan dengan tingkat inflasi rendah di level 0,5 persen dan indeks harga produsen mengalami kontraksi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae membeberkan, di industri perbankan, penyaluran kredit konsumsi masih menunjukkan kinerja yang positif di tengah kekhawatiran pelemahan daya beli masyarakat.

“Secara keseluruhan, kinerja intermediasi perbankan melan­jutkan tren pertumbuhan double digit pada Januari 2025 sebesar 10,27 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 7.782 triliun,” jelas Dian, dalam kesempatan yang sama.

Secara sektoral, kredit kon­sumsi pada periode yang sama tercatat tumbuh 10,37 persen yoy.

Dari segi kualitas kredit konsumsi juga tetap terjaga, dengan rasio Non Performing Loan (NPL) gross itu masih sebesar 2,02 persen.

Baca juga : Tenis Indian Wells Open 2025, Alcaraz Incar Gelar Ketiga

Porsi kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan tercatat sebesar 0,29 persen, dan terus mencatatkan pertumbuhan yang tinggi secara tahunan.

Per Januari 2025, baki debit kredit BNPL yang dilaporkan dalam SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan), tumbuh sebesar 46,45 persen yoy menjadi Rp 22,57 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 24,44 juta.

“Artinya, bisa dikatakan nominal maupun juga total debitur itu juga terus mening­kat,” ujarnya.

Dia menekankan, dalam me­nyalurkan kredit konsumtif, bank akan selalu melakukan analisis kelayakan debitur. Dengan mempertimbangkan ke­mampuan membayar calon debi­tur, serta stabilitas keuangan.

“Bank itu wajib memper­hatikan prinsip kehati-hatian. Kemudian ada manajemen risiko dan tata kelola yang baik,” tegasnya.

Diketahui, per Januari 2025, penyaluran kredit perbankan pada mencapai Rp 7.782 triliun atau tumbuh 10,27 persen yoy. Pertumbuhan tersebut sedikit melambat dibandingkan bulan Desember yang tumbuh 10,39 persen yoy.

Bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi pen­dorong utama pertumbuhan kredit yaitu sebesar 10,98 persen yoy.

Secara keseluruhan, kuali­tas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL (Non Performing Loan) gross sebesar 2,18 persen (Desember 2024: 2,08 persen) dan NPL net sebesar 0,79 persen (Desember 2024 0,74 persen).

Baca juga : Naura Ayu, Belajar Jadi Istri Patuh

Sedangkan Loan at Risk (LaR) juga menunjukkan tren penu­runan, menjadi sebesar 9,72 persen (Desember 2024 9,28 persen).

Terpisah, Chief Economist PT Bank Permata Tbk atau Permata Bank Josua Pardede mengatakan, kondisi likuiditas yang ketat, tidak bisa memaksa perbankan menyalurkan kredit mereka dengan kencang.

“Jika melihat dari potensi per­ekonomian, pertumbuhan kredit tahun ini diperkirakan masih di kisaran 10 persen sampai 10,78 persen secara tahunan atau yoy,” ujar Josua kepada Rakyat Merdeka, Rabu (5/3/2025).

Tercatat, kredit perbankan pada 2024 mencapai 10,39 persen yoy. Meski begitu, hal tersebut tak membuat bank akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit karena harus menyesuai­kan dengan kondisi likuiditas mereka.

“Sebelum mempercepat ekspansi kredit, bank harus memas­tikan kondisi likuiditasnya tetap stabil agar tidak menimbulkan biaya pendanaan yang lebih mahal ke depannya,” katanya.

Josua menekankan, tantangan tetap ada. Terutama dari sisi capital outflow yang masih bisa berlanjut akibat ketidakpas­tian global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.