Dark/Light Mode

MBG Berkah Penjual Bumbu & Sayur, Barang Cepat Berputar, Omzet Ikut Terdongkrak

Kamis, 13 Agustus 2026 07:19 WIB
Citra Triana, pedagang sayur, membereskan dagangannya di lapak Pasar Inpres, Jalan Cipedak, Palu Rabu (5/8/2026) malam. Pesanan MBG membuat barang lebih cepat berputar dan omzet terdongkrak. FOTO: Bambang Trismawan/RM.ID
Citra Triana, pedagang sayur, membereskan dagangannya di lapak Pasar Inpres, Jalan Cipedak, Palu Rabu (5/8/2026) malam. Pesanan MBG membuat barang lebih cepat berputar dan omzet terdongkrak. FOTO: Bambang Trismawan/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa berkah bagi Citra Triana dan Diah Manik Pratiwi alias Wiwi, pedagang bumbu dan sayur di Palu, Sulawesi Tengah. Pesanan bahan pangan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda Sulawesi Tengah membuat barang dagangan mereka lebih cepat berputar dan omzet ikut terdongkrak.

Keduanya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi pemasok kebutuhan dapur SPPG Polda Sulteng. Mereka kini melayani pesanan dalam jumlah lebih besar dibandingkan sebelum menjadi pemasok MBG.

Setiap hari, dapur SPPG membutuhkan berbagai bahan untuk menyiapkan makanan bagi penerima manfaat. Sayuran, gula, terigu, garam, bawang hingga bumbu masakan harus tersedia sesuai kebutuhan. Bagi pedagang seperti Citra dan Wiwi, kebutuhan rutin tersebut menjadi pasar baru bagi usaha mereka.

Citra, 30, sudah mengenal dunia perdagangan sejak kecil. Ia terbiasa membantu orang tuanya berjualan sebelum akhirnya menjalankan usaha sendiri.

Dari kiosnya di Jalan Cipedak, Palu, Citra menjual berbagai jenis sayuran. Ada wortel, kentang, kol, sawi hingga kacang panjang. Sejak Januari, sebagian dagangannya mulai dipasok untuk kebutuhan dapur MBG.

Pesanan dari SPPG membuat aktivitas di kiosnya semakin sibuk. Sayuran yang datang dari petani harus segera dipilah, dibersihkan, lalu disiapkan sesuai pesanan sebelum dikirim ke dapur.

Baca juga : Barang Cepat Berputar, Omzet Ikut Terdongkrak

Dalam sehari, Citra bisa menerima pesanan dari tiga hingga empat dapur. Pada waktu tertentu, jumlahnya bahkan mencapai lima dapur. Bertambahnya pesanan ikut mengerek omzet usaha. 

"Alhamdulillah pendapata meningkat sekitar 70 hingga 80 persen setelah menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG," kata Citra, saat ditemui di lapaknya, Pasar Inpres, Jalan Campedak, Palu, Rabu (5/8/2026) malam. 

Kesibukan tersebut juga membuat Citra membutuhkan tambahan tenaga. Saat ini, dua pekerja membantunya menyiapkan pesanan. Ketika permintaan sedang tinggi, jumlah pekerja bisa bertambah menjadi tiga orang.

Beberapa jenis sayuran juga membutuhkan penanganan sebelum dikirim. Wortel, misalnya, harus dicuci dalam jumlah besar setelah tiba dari petani. "Kalau banyak sekali, kadang tiga orang yang bantu bekerja," tuturnya.

Bagi Citra, pesanan dari SPPG membuat perputaran barang di kiosnya lebih cepat. Ia tidak lagi hanya mengandalkan pembeli eceran, tetapi juga mendapat pesanan dalam jumlah besar dan rutin.

Ia berharap program MBG terus berjalan agar pasar bagi pedagang kecil seperti dirinya tetap terbuka.

Baca juga : Ini Bukti MBG Sarat Gizi Dan Aman Dari Zat Bahaya

"Semoga program MBG berkelanjutan dan bisa berjalan dalam waktu panjang," harapnya.

Citra Triana membereskan wortel dagangannya di lapak Jalan Cipedak, Rabu malam. Pesanan MBG membuat aktivitas jualannya semakin ramai. Foto: BCG/RM.

Berkah serupa dirasakan Wiwi. Dari kiosnya di Jalan Cipedak, ia memasok berbagai kebutuhan dapur SPPG Polda Sulteng, mulai dari gula, terigu, garam, sambal, bawang hingga bumbu kering dan basah.

Sebelum menjadi pemasok MBG, Wiwi lebih banyak melayani pembelian eceran. Warga sekitar datang membeli kebutuhan rumah tangga dalam jumlah kecil. Nilai belanjanya pun terkadang hanya Rp5.000 hingga Rp10 ribu.

Pola tersebut berubah setelah pesanan dari dapur MBG masuk. Barang yang sebelumnya terjual sedikit demi sedikit kini dapat keluar dalam jumlah lebih besar. Gula, misalnya, bisa dipesan hingga 20 kilogram. Garam pun dapat dipesan satu atau beberapa bal sekaligus.

"Dulu omzetnya sedikit, sekarang pesanannya dalam jumlah banyak," kata Wiwi.

Perubahan pola penjualan tersebut ikut meningkatkan omzet. Wiwi memperkirakan pendapatannya naik sekitar 80 persen setelah menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG.

Baca juga : Ara Percepat Penyediaan Perumahan Untuk Rakyat

Namun, manfaat pesanan SPPG tidak berhenti di kios. Permintaan bawang merah dan bawang putih yang sudah dikupas ikut membuka pekerjaan bagi ibu-ibu rumah tangga di sekitar tempat usahanya.

Sekitar tiga perempuan membantu mengupas bawang. Mereka membawa bawang yang sudah ditimbang ke rumah, kemudian mengembalikannya setelah selesai dikupas. Untuk pekerjaan tersebut, mereka mendapat upah sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000.

"Kasihan ibu-ibu yang di rumah jaga anak. Sambil kupas bawang kan bisa," jelas Wiwi.

Pekerjaan sederhana tersebut memberi kesempatan kepada para ibu untuk mendapatkan tambahan penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah terlalu lama. Di sisi lain, Wiwi dapat memenuhi permintaan dapur SPPG terhadap bahan yang sudah siap digunakan.

Bagi Wiwi, pola tersebut menjadi salah satu manfaat yang paling terasa dari meningkatnya pesanan MBG. Barang di kiosnya lebih cepat berputar, sementara pekerjaan tambahan ikut mengalir kepada warga sekitar.

"Program ini sangat membantu pedagang kecil, semoga tetap berjalan dan tidak ditutup," katanya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.