Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani optimistis, penerapan tarif impor yang dikenakan Amerika Serikat terhadap China, Kanada, dan Meksiko akan membuka peluang ekspor yang lebih besar bagi Indonesia.
“Tarif yang lebih tinggi pada barang China akan membuat produk mereka lebih mahal di pasar AS. Ini membuka kesempatan bagi produk Indonesia untuk lebih kompetitif,” ujar Rosan dalam seminar Dampak Perang Tarif Terhadap Peluang Ekspor Indonesia yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) di Jakarta, Selasa (25/3/2025) malam.
Menurut Rosan, perusahaan-perusahaan AS yang sebelumnya mengandalkan impor dari China kemungkinan besar akan mencari alternatif dari negara lain, termasuk Indonesia. Hal ini membuka peluang bagi berbagai sektor ekspor Indonesia seperti tekstil, elektronik, furnitur, dan produk pertanian.
Baca juga : Perang Dagang AS-China Berdampak Ke Ekspor, RI Perlu Perkuat Pasar Domestik
Selain itu, banyak perusahaan multinasional yang berbasis di China dapat mempertimbangkan Indonesia sebagai lokasi baru untuk operasional mereka guna menghindari tarif tinggi dari AS. “Indonesia memiliki peluang untuk menarik investasi ini, terutama di sektor manufaktur dan industri berorientasi ekspor,” tambah Rosan.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno menekankan, pentingnya upaya Indonesia dalam memperkuat hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Ia menyarankan agar Indonesia menjajaki negosiasi tarif atau perjanjian perdagangan bebas guna meningkatkan akses pasar.
“Negosiasi bisa membantu menurunkan atau bahkan menghilangkan tarif impor bagi produk unggulan Indonesia seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan produk pertanian, sehingga lebih kompetitif di pasar AS,” jelas Arif Havas.
Baca juga : Cair dalam 30 Menit, Gadai Barang Mewah Kini Makin Mudah
Sementara itu, Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya N. Bakrie, menegaskan bahwa perubahan global ini bukan sekadar tantangan, tetapi juga peluang besar bagi Indonesia.
“Kita harus memperkuat industri dalam negeri dan memperluas pasar ekspor dengan strategi yang tepat agar bisa mengambil manfaat maksimal dari perang tarif AS-China ini,” ujarnya.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Erwin Aksa, juga mengingatkan bahwa Indonesia harus bertindak cepat dalam memanfaatkan momentum ini. “Kita tidak boleh hanya menjadi penerima manfaat pasif. Jika kita tidak segera bertindak, negara lain seperti Vietnam dan Meksiko bisa mengambil alih peluang ini,” tegas Erwin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya