Dark/Light Mode

BI Tahan Suku Bunga 5,5 Persen, Ekonom: Langkah Tepat Di Tengah Tekanan Global

Rabu, 18 Juni 2025 18:44 WIB
Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto. (Foto: Ist)
Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar 17–18 Juni 2025. Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto menilai keputusan ini sebagai langkah yang tepat dan terukur di tengah tekanan global dan gejolak geopolitik yang masih berlanjut.

Selain mempertahankan BI Rate, bank sentral juga menahan suku bunga Deposit Facility di level 4,75 persen dan Lending Facility di 6,25 persen.

“Keputusan ini sejalan dengan upaya menjaga ekspektasi inflasi agar tetap dalam sasaran 2,5±1 persen serta mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang saat ini terjaga secara fundamental, meski dibayangi tensi geopolitik tinggi seperti konflik militer antara Israel dan Iran,” kata Ryan Kiryanto, dalan keterangan tertulis kepada Rakyat Merdeka/RM.ID, Rabu (18/6/2025).

Baca juga : BI Tahan Bunga Acuan Di Level 5,50 Persen

Menurut Ryan, sikap kebijakan moneter BI yang pro stability berjalan seiring dengan kebijakan makroprudensial yang pro growth. Ia menilai, BI memberi sinyal ruang pelonggaran ke depan, jika ekspektasi inflasi tetap terkendali dan rupiah stabil.

“Ketika BI Rate sudah on the right track, terbuka ruang relaksasi makroprudensial, misalnya dengan memberi insentif likuiditas kepada perbankan agar ekspansi kredit bisa makin agresif,” ujarnya. 

Namun, dari sisi permintaan, Ryan menekankan perlunya dorongan dari kebijakan fiskal. Ia mendorong akselerasi belanja pemerintah pusat dan daerah untuk menciptakan proyek-proyek padat modal dan padat karya yang mampu menggairahkan dunia usaha.

Baca juga : Diskusi Iwakum, Pakar Ekonomi Ungkap Perbedaan Judi Kelas Bawah & Kasino

“Permintaan kredit bisa meningkat jika dunia usaha dan rumah tangga punya kepercayaan. Di sinilah kebijakan fiskal countercyclical berperan strategis, bersinergi dengan moneter,” tambahnya.

Ryan juga menyarankan agar pembiayaan usaha tidak hanya mengandalkan perbankan, tapi juga digali dari pasar modal melalui penerbitan saham dan obligasi. Hal ini, menurutnya, bisa sekaligus memperdalam dan memperkuat likuiditas pasar keuangan domestik.

“Dengan bauran kebijakan yang harmonis fiskal, moneter, makroprudensial, dan pasar modal. BI bisa menjaga rupiah, menahan inflasi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.