Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
IHSG Pulih Cepat Pasca Demo, RI Masih Jadi Magnet Investor
Kamis, 4 September 2025 07:25 WIB
Sebelumnya
Sementara, Direktur NEXT Indonesia Herry Gunawan menjelaskan, secara umum perdagangan bursa digerakkan oleh persepsi atau sentimen. Jika sentimen investor kurang baik, mereka akan bereaksi negatif.
Faktanya, kondisi bursa relatif stabil. “Ini mengisyaratkan investor yakin bahwa pemerintah mampu mengatasi masalah dengan baik, sehingga mereka punya rasa optimistis,” ulas Herry kepada Rakyat Merdeka, Rabu (3/9/2025).
Dia juga pede pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2025 masih mentereng. Terlihat dari sejumlah indikator yang menunjukkan kinerja positif. Di antaranya, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Agustus di atas 50 persen, yang menunjukkan sedang berekspansi.
Baca juga : Prabowo Kunjungan ke China, Situasi Dalam Negeri Aman
Begitu juga dengan Indeks Keyakinan Konsumen yang naik. Sementara inflasi secara tahunan yang masih di angka 2,3 persen menunjukkan masih dalam batas kendali. “Indikator ini semua menjadi insentif untuk menggerakkan ekonomi. Karena itu, ada harapan kondisi ekonomi di kuartal III bisa lebih baik,” kata Herry.
Meski begitu, dia menyarankan agar Pemerintah menjaga suasana tetap kondusif agar iklim berusaha terjaga dengan baik. Dari sisi belanja, sebaiknya Pemerintah mendorong ke belanja modal untuk memberikan efek ganda bagi perekonomian.
Herry juga berpesan agar Pemerintah memberi perhatian terhadap sektor usaha padat karya di tengah situasi yang masih dinamis. “Karena menyangkut tenaga kerja yang banyak, dan dampaknya pada indikator konsumsi rumah tangga,” imbuhnya.
Baca juga : Diterima di Gedung Kura-kura, Mahasiswa Sampaikan Unek-unek ke Dasco Cs
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian mengatakan, inflasi di angka 2,3 persen dan neraca perdagangan surplus 4,17 miliar dolar AS mencerminkan kuatnya fundamental ekonomi di tengah guncangan.
Selain dua indikator tersebut, Fakhrul juga menyebut kondisi likuiditas sangat baik untuk menjaga nilai tukar rupiah dengan permintaan terhadap Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk. Pada lelang, Selasa (2/9/2025), penawaran sukuk tembus Rp 41,86 triliun. Naik dibandingkan permintaan sebelumnya yang hanya Rp 33,1 triliun.
“Ini menunjukkan bahwa kondisi tubuh sektor keuangan kuat, tapi jangan lupa, bahwa sektor keuangan yang kuat harus menyokong sektor riil,” pesan Fakhrul.
Baca juga : Bulan Depan, DPP PDIP Tetapkan Ketua DPD Sultra
Soal fenomena belakangan ini, Fakhrul menyarankan pemerintah membentuk Komite Stabilitas Sektor Riil. Mengingat, konsep yang sama sudah berhasil dilaksanakan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Tujuannya, banyak. Mulai dari deteksi dini dan koordinasi, menjaga stabilitas sistem keuangan, protokol manajemen krisis, hingga koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan prudensial. [MEN/DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya