Dark/Light Mode

Industri Manufaktur Tetap Ekspansif, IKI September 2025 Capai 53,02

Selasa, 30 September 2025 20:29 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief memberikan pemaparan mengenai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan September 2025 di Jakarta, Selasa (30/9). (Foto: Kemenperin)
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief memberikan pemaparan mengenai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan September 2025 di Jakarta, Selasa (30/9). (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka -

Kinerja industri manufaktur Indonesia tetap menunjukkan ketangguhan di tengah dinamika global dan domestik. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2025 yang berada di level 53,02 atau masih dalam zona ekspansi.

Meski melambat tipis 0,53 poin dibandingkan Agustus 2025 (53,55), capaian IKI September 2025 lebih tinggi 0,54 poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 52,48.

“Dari 23 subsektor industri yang kami analisis, pada Agustus lalu sebagian besar mengalami kontraksi, dengan rincian 19 subsektor kontraksi dan 4 subsektor ekspansi,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, pada September 2025 kondisi membaik signifikan. Sebanyak 12 subsektor industri mencatat ekspansi, sementara yang masih kontraksi berkurang menjadi 11 subsektor. “Artinya aktivitas produksi meningkat seiring tingginya permintaan, didukung ketersediaan bahan baku dan teknologi,” ujarnya.

Febri menyebutkan, terdapat delapan subsektor yang beralih dari kontraksi pada Agustus menjadi ekspansif di September 2025. Kedelapan subsektor tersebut antara lain industri pengolahan tembakau, industri kulit, alas kaki, kayu, bahan kimia, farmasi, kendaraan bermotor, alat angkutan lainnya, serta furnitur. Perubahan status produksi ini dipengaruhi faktor musiman, meningkatnya permintaan, dan berkurangnya persediaan.

Sementara itu, perlambatan IKI dipengaruhi turunnya indeks variabel pesanan dan persediaan produk, meski masih berada dalam zona ekspansi. Variabel pesanan tercatat 53,79 atau turun 3,59 poin dibanding Agustus 2025, sedangkan variabel persediaan produk berada di level 55,86 atau turun 1,18 poin. Adapun variabel produksi naik 5,01 poin menjadi 49,85, namun masih dalam zona kontraksi.

“Kontraksi variabel produksi sudah berlangsung empat bulan terakhir. Namun perbaikan pada September memberi sinyal awal pemulihan, menunjukkan pelaku usaha mulai meningkatkan aktivitas meski dengan langkah hati-hati,” kata Febri.

Pada IKI September 2025, sebanyak 21 subsektor industri yang mengalami ekspansi menyumbang 97,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas triwulan II-2025. Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri pencetakan dan reproduksi media rekaman (KBLI 18) serta industri minuman (KBLI 11).

Sebaliknya, dua subsektor yang masih terkontraksi adalah industri komputer, barang elektronik dan optik (KBLI 26), serta jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan (KBLI 33). Kontraksi pada industri komputer dan barang elektronik dipicu lemahnya permintaan domestik dan ekspor akibat tingginya ketergantungan impor, termasuk membanjirnya produk murah dari China.

Adapun kontraksi subsektor jasa reparasi dan pemasangan mesin dipengaruhi penurunan pesanan dari sektor otomotif dan manufaktur umum. “Sifat job order subsektor ini musiman dan sangat bergantung pada industri utamanya, sehingga volatilitas pesanan tinggi,” jelas Febri.

Dari sisi pasar, IKI berorientasi ekspor pada September 2025 mencapai 53,99, turun 0,12 poin dibanding Agustus, namun masih ekspansif. Semua variabel pembentuk IKI ekspor tercatat ekspansif, menandakan terjaganya permintaan luar negeri. Untuk pasar domestik, IKI berada di level 51,92 atau turun 0,72 poin, tetapi tetap ekspansif.

Meskipun terjadi perlambatan, optimisme pelaku usaha meningkat. Tingkat optimisme terhadap kondisi enam bulan mendatang naik menjadi 69,6 persen dari 68,1 persen pada Agustus. Sementara itu, tingkat pesimisme turun menjadi 6,1 persen dari 6,6 persen.

“Kami menilai tren ekspansi ini perlu dijaga dengan kebijakan pro-industri yang konsisten. Penurunan bunga acuan baik oleh The Fed maupun BI membuka ruang pembiayaan industri, investasi, dan perluasan pasar. Namun stabilitas politik, nilai tukar, serta dukungan fiskal akan sangat menentukan daya saing industri ke depan,” ujar Febri.

Berdasarkan survei IKI September 2025, sebanyak 77,6 persen responden menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil. Sebanyak 31 persen menyatakan usahanya membaik, 46,6 persen stabil, dan 22,4 persen menurun. Optimisme pelaku usaha untuk enam bulan mendatang terus meningkat dalam tiga bulan terakhir, dengan 69,6 persen menyatakan optimis, 24,3 persen stabil, dan 6,1 persen pesimis.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.