Dark/Light Mode

Hadapi Tantangan Literasi Ekonomi Syariah, BI Diminta Gandeng Jurnalis-Akademisi

Minggu, 16 November 2025 18:24 WIB
Foto: Hendrawan KW/RM.
Foto: Hendrawan KW/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Penguatan literasi ekonomi syariah di era digital menghadapi sejumlah tantangan yang tak ringan. Perlu strategi dan perencanaan yang matang agar kampanye ekonomi syariah berhasil serta diterima masyarakat.

Hal itu dikatakan praktisi komunikasi yang juga pegiat literasi ekonomi syariah Erwin Dariyanto, dalam Training of Trainer (ToT) Ekonomi Syariah yang digelar oleh Bank Indonesia bekerjasama dengan Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi).

ToT digelar selama dua hari sejak Jumat (14/11) hingga Sabtu (15/11) di Hotel Sari Pacific Jakarta. Salah satu medium yang bisa digunakan untuk mengkampanyekan ekonomi syariah adalah melalui media massa.

Namun, di era digital seperti saat ini kampanye di media massa memiliki setidaknya dua tantangan, yakni rendahnya minat baca dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi informasi.

Dua tantangan ini, menurut Erwin harus disikapi dengan serius. Menghadapi rendahnya minat baca masyarakat misalnya, harus disikapi dengan membuat artikel-artikel ringan yang menarik.

Baca juga : Indonesia Bidik Peringkat Satu Pusat Ekonomi Syariah Global di 2029

"Masyarakat suka dengan berita berita ringan, menarik dan inspiratif. Mereka tidak suka dengan berita dengan bahasa, katakanlah terlalu tinggi yang sulit dipahami," kata Erwin yang juga Managing Editor detik.com ini.

Bank Indonesia, serta kementerian dan lembaga yang terkait dengan literasi ekonomi syariah harus berkolaborasi dengan para jurnalis dan praktisi komunikasi.

Hal ini penting karena banyak istilah istilah dalam ekomomi syariah yang masih sulit dipahami masyarakat awam.

Menurut Erwin banyak istilah ekonomi syariah hanya bisa dipahami oleh para akademisi, praktisi dan pelaku industri syariah. Padahal kampanye ekonomi syariah harus menyasar semua pihak hingga level masyarakat umum.

"BI (Bank Indonesia) bersama kementerian dan lembaga terkait ekonomi syariah harus duduk bareng dengan jurnalis, praktisi dan akademisi untuk merumuskan kampanye ekonomi syariah dengan bahasa ringan yang mudah dipahami masyarakat," papar Erwin yang juga salah satu Ketua Departemen di Forjukafi ini.

Baca juga : Pertamina Sigap Tangani Kasus Motor “Brebet”, Publik Diminta Tak Panik

Selain dengan judul ringan, menarik, dan bahasa mudah dipahami, Erwin melanjutkan, artikel ekonomi syariah bisa dilengkapi dengan infografis, tabel, foto juga video. Visualisasi artikel bisa mengatasi masalah rendahnya minat baca masyarakat.

"Orang yang awalnya gak tertarik (membaca) namun karena fotonya menarik, infografisnya bagus, ada video jadi tertarik untuk membaca," jelas Erwin.

Sementara menghadapi tantangan perubahan perilaku masyarakat dalam mendapatkan informasi harus disikapi dengan inovasi, dan adaptasi.

Di era digital saat ini masyarakat lebih banyak menerima informasi dari media sosial. Kampanye ekonomi syariah harus dilakukan menggunakan semua platform yang sedang trend di masyarakat.

"Apakah itu YouTube, Twitter, Instagram, Tiktok atau Facebook," kata Erwin.

Baca juga : Airlangga Dorong Penguatan Kerja Sama Ekonomi Strategis Dengan Amerika Serikat

Mengakhiri paparannya, Erwin mengajak para jurnalis, pegiat kehumasan di kementerian dan lembaga yang jadi peserta ToT untuk tak henti henti mengkampanyekan literasi ekonomi syariah.

"Kolaboratif, dan inovatif. Dalam melakukan penguatan literasi ekonomi syariah, nangan ragu untuk melakukan ATM, amati, tiru dan modifikasi," tutup Erwin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.