Dark/Light Mode

APP Group Pacu Pembiayaan Karbon Dan Restorasi Hutan Di COP30

Rabu, 19 November 2025 10:21 WIB
Foto: APP Group
Foto: APP Group

RM.id  Rakyat Merdeka - Peran sektor swasta Indonesia dalam memperkuat aksi iklim global kembali mendapat sorotan pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-30 (COP30).

Dalam rangkaian dialog tingkat tinggi yang mempertemukan pemerintah, lembaga internasional, organisasi konservasi, lembaga keuangan, dan pelaku industri global, APP Group menegaskan komitmennya memperkuat solusi iklim berbasis alam, integritas pasar karbon, serta restorasi hutan tropis melalui pendekatan lanskap terpadu dan kolaborasi multipihak.

Direktur APP Group, Suhendra Wiriadinata menyatakan, kesehatan ekosistem merupakan fondasi utama keberlanjutan industri berbasis sumber daya alam.

“Industri pulp dan kertas hanya dapat bertumbuh di atas lanskap yang sehat. Karena itu, investasi pada restorasi, teknologi pemantauan, dan kolaborasi multipihak adalah strategi bisnis untuk memperkuat ketahanan rantai pasok, menurunkan risiko operasional, serta membangun kepercayaan pasar global,” ujarnya.

Melalui platform keberlanjutan Regenesis, APP Group melanjutkan transformasi pengelolaan lanskap dari Forest Conservation Policy (2013) menuju Forest Positive Policy. Kerangka ini menyertakan komitmen investasi sebesar US$30 juta per tahun selama satu dekade untuk pemulihan ekosistem, pengelolaan gambut, konservasi keanekaragaman hayati, pengembangan karbon biru, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga : Asianet Mantapkan Layanan Usai Dapat Kepastian Atas Dua PO

Seluruh inisiatif tersebut mendukung target nasional FOLU Net Sink 2030, implementasi Article 6 Paris Agreement, serta penguatan pasar karbon Indonesia melalui IDXCarbon.

Dalam forum COP30, berbagai pemangku kepentingan menegaskan bahwa efektivitas restorasi hutan tropis membutuhkan perpaduan pendekatan ilmiah, legitimasi sosial, dan pembiayaan jangka panjang.

Direktur WWF Indonesia, Aditya Bayunanda menekankan, pentingnya pemilihan area intervensi yang strategis secara ekologis dan sosial. “Pilihlah area dengan habitat penting, keanekaragaman hayati tinggi, atau wilayah dengan jasa lingkungan beragam—bukan hanya karbon, tetapi juga air dan budaya yang perlu dilindungi,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Beria Leimona, Theme Leader CIFOR–ICRAF, yang menegaskan bahwa keberhasilan kolaborasi bertumpu pada relevansi sosial dan partisipasi masyarakat. “Selain solusi berbasis sains, kita perlu memperhatikan legitimasi. Mendengarkan pengetahuan lokal dan melibatkan masyarakat dalam negosiasi adalah kunci keberlanjutan,” ujarnya.

Semangat kolaboratif ini menguat melalui peluncuran Tropical Forests Forever Facility (TFFF) di Paviliun Indonesia, yang melibatkan Pemerintah Indonesia, Brazil, Uni Emirat Arab, sektor energi, lembaga internasional, dan sektor swasta dalam pembiayaan jangka panjang untuk konservasi dan restorasi hutan tropis.

Baca juga : APP Kenalkan Dua Proyek Karbon Berbasis Alam Indonesia Di COP30 Brazil

Deputi Menteri Koordinator Bidang Aksesibilitas dan Keamanan Pangan, Nani Hendiarti menegaskan, solusi berbasis masyarakat merupakan fondasi utama keberlanjutan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia dan Uni Emirat Arab tengah mengembangkan Nature and Climate Partnership yang mencakup konservasi keanekaragaman hayati, penguatan perhutanan sosial, tata kelola yurisdiksional, dan mekanisme pendanaan inovatif. “Perlindungan hutan bukan hanya soal menanam pohon, tetapi memastikan masyarakat sekitar hutan memperoleh manfaat nyata,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Laksmi Wijayanti menekankan, pentingnya inovasi pembiayaan dan kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pemulihan ekosistem.

“Pembiayaan karbon dan blended funding dapat menjembatani modal global dengan aksi lokal. Jika diterapkan dengan integritas, mekanisme ini berpotensi memulihkan jutaan hektare lahan dan memperkuat mata pencaharian masyarakat,” ujarnya.

Chief Sustainability Officer APP Group, Elim Sritaba menegaskan, tata kelola iklim memerlukan integrasi sains, tata kelola yang kuat, dan kemitraan setara dengan masyarakat serta pemerintah.

“Melalui kerangka Regenesis, kami ingin memastikan setiap keputusan berbasis bukti ilmiah, namun tetap mempertimbangkan realitas sosial di lapangan,” tuturnya.

Baca juga : RI-Dunia Usaha Perkuat Pembiayaan Hutan Berkelanjutan Di COP30

Dengan memadukan teknologi pemantauan, pendekatan ilmiah, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi multipihak, APP Group memperkuat kontribusi Indonesia dalam tata kelola hutan tropis global. 

Kehadiran perusahaan di COP30 mencerminkan komitmen jangka panjang untuk menjaga kelestarian ekosistem, memperkuat pasar karbon yang berintegritas, serta memastikan sektor industri berkontribusi nyata terhadap ketahanan iklim dan pembangunan nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.