Dark/Light Mode

Kilang Masih Vital, Pertamina Percepat Produksi SAF dan Bahan Bakar Hijau

Rabu, 19 November 2025 17:37 WIB
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro (kiri), Direktur Manajemen Risiko PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Prayitno (tengah) dan Redaktur Ekonomi Kontan Azis Husaini, dalam Brunch Talk “Kilang Pertamina untuk Indonesia: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, Hilirisasi, Transisi & Ketahanan Energi.” (Foto: Dinul/E2S)
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro (kiri), Direktur Manajemen Risiko PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Prayitno (tengah) dan Redaktur Ekonomi Kontan Azis Husaini, dalam Brunch Talk “Kilang Pertamina untuk Indonesia: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, Hilirisasi, Transisi & Ketahanan Energi.” (Foto: Dinul/E2S)

RM.id  Rakyat Merdeka - Meskipun dunia bergerak menuju energi baru dan terbarukan, industri kilang minyak dinilai belum memasuki senjakala.

Di satu sisi, tren global justru menunjukkan kapasitas kilang terus bertambah, hanya terjadi pergeseran jenis produk yang dihasilkan.

Di sisi lain, teknologi yang dikembangkan Pertamina memungkinkan kilang menghasilkan bahan bakar rendah karbon, termasuk sustainable aviation fuel (SAF) dari minyak jelantah.

Hal itu mencuat dalam Brunch Talk Editor Emining Society (E2S) bertema “Kilang Pertamina untuk Indonesia: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi, Hilirisasi, Transisi & Ketahanan Energi", di Jakarta, Rabu (19/11/2025).

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menegaskan bahwa secara global, kilang masih menjadi tulang punggung energi.

“Kalau kita lihat data internasional, kapasitas kilang nambah, hanya produknya yang geser. Di Uni Eropa bergeser ke petrokimia, sementara di kawasan Pasifik termasuk Indonesia, China, dan India, sebagian besar masih memproduksi bahan bakar minyak,” ujarnya.

Baca juga : Kilang Pertamina Lampaui Target, Reduksi Emisi Capai 390 Ribu Ton CO₂e

Menurut dia, anggapan bahwa kilang akan “berakhir” akibat transisi energi tidak sepenuhnya akurat. Selama kebutuhan energi fosil masih dominan—terutama di negara-negara Pasifik—kilang tetap berperan vital.

Bahkan kata dia, dalam skenario ekstrem ketika dunia berhenti menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM), kilang dapat beralih sepenuhnya memproduksi petrokimia.

Karena itu, proyek peningkatan kapasitas dan kualitas kilang seperti Refinery Development Master Plan (RDMP) menjadi relevan. Kompleksitas kilang yang digambarkan melalui Nelson Complexity Index (NCI) menentukan fleksibilitas pengolahan.

“Di Indonesia, yang tertinggi baru Cilacap dan Balongan, kisaran 11,7. Di atas 10 itu sudah bagus. Di global, salah satu yang besar kilang Jamnagar di India dengan kapasitas 1,24 juta barel per hari dan NCI 14,” jelasnya.

Namun Komaidi mengingatkan bahwa investasi kilang kerap terhambat kebijakan harga BBM yang masih dikendalikan pemerintah, termasuk pada jenis nonsubsidi.

“Mau tidak mau sebagai penugasan negara, Pertamina harus siap melaksanakan. Meski margin-nya tidak cukup menarik,” katanya.

Baca juga : Di COP30 Brazil, Pertamina Perkuat Kolaborasi Global Atasi Perubahan Iklim

Sementara itu, transformasi kilang Pertamina kini berjalan paralel dengan agenda transisi energi, sesuai asta cita Presiden Prabowo Subianto.

Direktur Manajemen Risiko PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Prayitno mengungkapkan bahwa Kilang Cilacap kini mampu mengolah turunan minyak sawit RBDPO menjadi green diesel atau Hydrotreated Vegetable Oil (HVO).

“Secara kualitas, produk ini sangat bagus, meski cost masih tinggi karena bahan bakunya juga tinggi,” ujarnya.

Kilang yang sama juga memproduksi SAF dari minyak jelantah yang sudah dibersihkan lalu dicampur dengan bahan baku fosil. Kandungan minyak nabatinya baru 2,5 persen, tetapi produk ini sudah diuji terbang dari Jakarta ke Bali pada Agustus lalu.

“Minyak jelantah yang selama ini dibuang sebenarnya bisa menciptakan added value. SAF ini sudah diuji terbang dari Jakarta ke Bali dan hasilnya aman,” kata Prayitno.

Pertamina tengah menyiapkan pembangunan kilang baru khusus produksi SAF, dengan bahan baku dari minyak jelantah, Palm Oil Mill Effluent (POME), dan sumber nabati lainnya.

Baca juga : Komitmen Turunkan Stunting, Pertamina SEHATI Sehatkan Anak Bangsa

Produk ini memiliki peluang pasar domestik maupun ekspor, terutama melihat Singapura yang mulai mewajibkan SAF 1 persen pada 2026.

Selain mendorong produk rendah karbon, kilang juga meningkatkan efisiensi operasional melalui penggunaan panel surya (solar panel) dan penerapan prinsip keberlanjutan atau Environmental, Social, and Governance (ESG).

“Penilaian ESG Pertamina juga baik, menunjukkan bahwa selain bisnis, kami memperhatikan lingkungan dan masyarakat,” ujar Prayitno.

Pertamina mengusung dual growth strategy, yakni mengoptimalkan bisnis eksisting sekaligus mengembangkan portofolio rendah karbon seperti panas bumi (geothermal), bioetanol, dan energi terbarukan lain.

Prayitno menegaskan bahwa ruang hilirisasi masih luas, termasuk pengembangan produk petrokimia, Liquefied Petroleum Gas (LPG), dan berbagai kerja sama industri.

Diskusi dalam forum E2S itu menunjukkan bahwa kilang kini berperan sebagai jembatan penting: memenuhi kebutuhan energi terkini sekaligus menjadi platform transformasi menuju masa depan energi yang lebih bersih.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.