Dark/Light Mode

Astra Kantongi Pendapatan Rp 323,4 Triliun di 2025

Jumat, 27 Februari 2026 21:55 WIB
Foto: Astra.
Foto: Astra.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Astra International Tbk (ASII) menunjukkan daya tahan bisnis sepanjang 2025. Di tengah tekanan harga batu bara dan pelemahan pasar mobil nasional, grup usaha ini tetap mencatatkan pendapatan bersih Rp 323,4 triliun.

Angka tersebut turun tipis 2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp 328,5 triliun pada 2024. Meski demikian, skala pendapatan yang tetap bertahan di atas Rp 320 triliun mencerminkan fondasi usaha yang solid dengan portofolio terdiversifikasi.

Seiring capaian itu, laba bersih Astra tercatat Rp 32,8 triliun pada 2025, turun 3 persen dibandingkan Rp 33,9 triliun pada tahun sebelumnya. Laba bersih per saham juga turun 3 persen menjadi Rp 810 dari Rp 837.

Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menegaskan bahwa tekanan eksternal memang memengaruhi kinerja, namun struktur bisnis yang berimbang mampu menjaga stabilitas.

“Pada tahun 2025, laba Grup mengalami penurunan terutama disebabkan harga batu bara yang lebih rendah dan lemahnya pasar mobil baru. Namun, kinerja bisnis Grup tetap resilien didukung oleh kontribusi yang baik dari bisnis-bisnis lainnya,” ujar Djony dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (27/2/2026).

Lini Usaha Jadi Penyeimbang

Secara divisi, sektor Otomotif & Mobilitas masih menjadi kontributor terbesar dengan laba bersih Rp 11,4 triliun, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga : CIMB Niaga Kantongi Laba Bersih Rp 6,9 Triliun di 2025

Pasar mobil nasional turun 7 persen menjadi 804.000 unit, namun pangsa pasar Astra tetap kuat di level 51 persen.

Penjualan sepeda motor nasional justru naik 1 persen menjadi 6,4 juta unit, dengan pangsa pasar PT Astra Honda Motor stabil di 78 persen.

Bisnis komponen melalui Astra Otoparts juga mencatat kenaikan laba 18 persen menjadi Rp 1,8 triliun. Divisi Jasa Keuangan mencatat pertumbuhan paling konsisten.

Laba bersih naik 9 persen menjadi Rp 9,0 triliun, didorong peningkatan portofolio pembiayaan. Nilai pembiayaan baru tumbuh 5 persen menjadi Rp 112,3 triliun.

Sebaliknya, divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi & Energi turun 24 persen menjadi Rp 9,1 triliun. Penurunan terutama dipicu harga batu bara yang lebih rendah serta berkurangnya aktivitas jasa penambangan.

Namun, bisnis emas menjadi penopang berkat kenaikan harga jual rata-rata hingga 40 persen. Divisi Agribisnis mencatat lonjakan laba 28 persen menjadi Rp.1,2 triliun seiring kenaikan harga CPO 11 persen.

Baca juga : Kredit Bank Mandiri Naik 15,62 Persen Tembus Rp 1.511,4 Triliun di Januari 2026

Infrastruktur naik 24 persen menjadi Rp 1,3 triliun berkat kenaikan tarif dan volume lalu lintas tol. Teknologi Informasi tumbuh 33 persen dan properti melonjak 224 persen, terutama dari kontribusi aset gudang industri dan akuisisi baru.

Fundamental Menguat, Dividen Tetap Tebal

Dari sisi neraca, ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 7 persen menjadi Rp 228,9 triliun.

Nilai aset bersih per saham meningkat 8 persen menjadi Rp 5.692. Kas bersih di luar anak usaha jasa keuangan tercatat Rp 7,2 triliun.

Sementara utang bersih anak usaha jasa keuangan naik menjadi Rp 64,9 triliun, sejalan dengan ekspansi pembiayaan. Astra mengusulkan dividen final Rp 292 per saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan April 2026.

Jika ditambah dividen interim Rp 98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025, total dividen mencapai Rp.390 per saham dengan rasio pembayaran 48 persen.

Perseroan juga menuntaskan program pembelian kembali saham senilai Rp.2 triliun pada Januari 2026 dan melanjutkan tahap kedua sebesar Rp 685 miliar yang selesai pada 25 Februari 2026.

Baca juga : Visi Kesehatan Kepulauan 2050

“Pada program tersebut, saham telah dibeli kembali sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan terkait pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan,” ujar Djony.

Strategi dan Prospek 2026

Selain kinerja operasional, Astra aktif melakukan aksi korporasi sepanjang 2025, termasuk akuisisi mayoritas saham PT Mega Manunggal Property Tbk, peningkatan kepemilikan di Halodoc dan Hermina, serta penyelesaian akuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam pada Februari 2026.

Manajemen juga tengah melakukan tinjauan strategis komprehensif terhadap portofolio bisnis, yang hasilnya ditargetkan rampung pada penghujung semester I-2026.

Ke depan, Astra memperkirakan sentimen konsumen akan membaik meskipun beberapa sektor masih menghadapi tantangan.

“Astra akan tetap berfokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin, dengan memanfaatkan posisi neraca Astra yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan,” tutup Djony.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.