Dark/Light Mode

APKASINDO Luncurkan hargasawitindonesia.id, Dorong Harga Sawit Lebih Transparan

Selasa, 18 Agustus 2026 16:11 WIB
Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung saat peluncuran hargasawitindonesia.id di Jakarta, awal Agustus 2026.
Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung saat peluncuran hargasawitindonesia.id di Jakarta, awal Agustus 2026.

RM.id  Rakyat Merdeka - Puluhan tahun menghadapi keterbatasan informasi harga tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO), jutaan petani kelapa sawit swadaya kini mendapat akses informasi melalui platform digital hargasawitindonesia.id.

Platform yang diluncurkan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO) tersebut dirancang untuk meningkatkan transparansi harga sekaligus memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok sawit nasional.

Peluncuran platform yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu berlangsung di Hotel 101 Urban, Jakarta, awal Agustus lalu. Kegiatan mengusung tema “Transparansi Data Harga Sawit untuk Petani Maju dan Industri Berkelanjutan”.

Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung mengatakan keterbukaan informasi menjadi salah satu syarat penting untuk mewujudkan keadilan harga bagi petani.

Menurut Gulat, sekitar 42 persen kebun sawit Indonesia dikelola petani. Karena itu, akses terhadap informasi harga menjadi faktor strategis dalam meningkatkan kesejahteraan pekebun.

“Kalau semua pelaku memiliki informasi yang sama mengenai harga CPO dan TBS, posisi tawar petani akan jauh lebih kuat,” kata Gulat.

Dashboard hargasawitindonesia.id menyajikan informasi harga TBS petani, harga CPO nasional dan internasional, perbandingan harga petani swadaya dan plasma, analisis disparitas harga antardaerah hingga proyeksi pergerakan harga.

Informasi tersebut disajikan dalam format berbasis web sehingga diharapkan mudah diakses dan dipahami petani.

Baca juga : Indonesia Berpeluang Jadi Raja Biogas Sawit Dunia

Gulat mengatakan dashboard tidak hanya menyajikan harga CPO Indonesia, Malaysia dan Rotterdam, tetapi juga memperlihatkan disparitas harga TBS antardaerah serta perbandingan harga yang diterima petani swadaya dan plasma.

“Keterbukaan data ini bukan untuk mempertentangkan petani dengan industri. Justru kita ingin menciptakan ekosistem yang lebih sehat karena seluruh pihak memiliki referensi informasi yang sama,” ujarnya.

APKASINDO juga menyoroti manfaat program biodiesel B50 yang dinilai belum sepenuhnya tercermin pada harga yang diterima petani.

Menurut Gulat, dashboard tersebut dapat membantu mengidentifikasi penyebab terjadinya disparitas harga. Data yang terkumpul juga diharapkan dapat menjadi bahan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan yang lebih berpihak kepada pekebun.

Sebelum diluncurkan secara resmi, platform tersebut diklaim telah mencatat sekitar lima juta kunjungan dalam waktu kurang dari satu bulan sejak diperkenalkan.

Dukungan terhadap digitalisasi informasi harga juga disampaikan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.

Ketua Kelompok Pemasaran Hasil Ditjen Perkebunan Elvyrisma Nainggolan, yang mewakili Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, mengatakan digitalisasi informasi harga merupakan langkah positif yang sejalan dengan transformasi sektor perkebunan.

Menurut Elvyrisma, sebagian data harga yang dikelola pemerintah masih dilakukan secara manual. Kehadiran dashboard digital dapat mempercepat penyebaran informasi sekaligus membuka ruang partisipasi lebih luas bagi petani swadaya.

Baca juga : Menkop: Hilirisasi Kelapa Sawit Berbasis Koperasi Perkuat Daya Tawar Petani

Ke depan, platform tersebut berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai sumber data, termasuk KPBN, ICDX dan referensi harga internasional.

“Kita semua berharap semakin banyak organisasi petani yang ikut berkontribusi mengirimkan data sehingga gambaran harga di lapangan menjadi lebih akurat,” ujarnya.

Dilengkapi Proyeksi Harga

Tim IT DPP APKASINDO menyebut aplikasi tersebut dirancang dari perspektif petani agar mudah digunakan. Selain informasi harga TBS dan CPO, dashboard dilengkapi grafik tren, analisis disparitas harga, kalkulator serta proyeksi berbasis machine learning.

Fitur tersebut diharapkan membantu petani membaca arah pergerakan pasar sekaligus mengambil keputusan usaha berdasarkan data.

Aspek keamanan juga diperkuat melalui sistem hardening untuk menghadapi potensi ancaman siber. Gulat mengungkapkan, sempat ada pihak yang meminta aplikasi tersebut dihentikan dengan imbalan uang. Namun, permintaan tersebut ditolak.

Dalam diskusi peluncuran, muncul pula persoalan mengenai kemungkinan perbedaan antara harga yang tercantum dalam aplikasi dengan harga pembelian di pabrik kelapa sawit (PKS).

Gulat mengatakan APKASINDO telah menyiapkan fitur pelaporan yang memungkinkan petani melaporkan perbedaan harga yang signifikan.

Baca juga : 298 Pekebun Paser Ikuti Pelatihan Budidaya Lewat Good Agricultural Practices

Laporan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus memperkuat pengawasan terhadap tata niaga TBS di lapangan.

APKASINDO juga berharap dukungan pemerintah, termasuk Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, dapat mendorong pengembangan platform sebagai bagian dari program sarana dan prasarana Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Peluncuran hargasawitindonesia.id turut dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Pusat Riset Teknologi Proses Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN dan DPP APKASINDO tentang riset pengembangan usaha dupa dan aromaterapi berbasis biomassa sawit dan kemenyan.

Kegiatan tersebut dihadiri pejabat BPDP, perwakilan asosiasi pengusaha dan petani sawit, mahasiswa serta media.

Bagi APKASINDO, hargasawitindonesia.id tidak sekadar menjadi papan informasi harga. Platform tersebut diarahkan menjadi pusat data dan analisis sawit yang dapat dimanfaatkan petani, akademisi, peneliti, industri dan pemerintah.

Dengan informasi yang lebih terbuka, petani diharapkan memiliki referensi yang lebih kuat dalam menentukan keputusan usaha dan memperjuangkan harga yang lebih adil.

Digitalisasi informasi harga tersebut pada akhirnya diharapkan menjadi bagian dari pembenahan tata niaga sawit nasional. Transparansi data diharapkan memperkuat posisi tawar petani sekaligus membangun hubungan yang lebih sehat antara pekebun, industri dan pemerintah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.