Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Gerak Cepat, Waskita Karya Salurkan Ribuan Bantuan Untuk Korban Gempa NTT
- Juventus Menang Tipis di Pekan Pertama Serie A 2026/27
- Ibrahima Konate Ingin Buktikan Diri Di Real Madrid
- Atasi Karhutla Riau, Prabowo Minta Bangun 306 Sumur Bor Di Dekat Hotspot
- Calon Bos OJK Sarjito Beberkan Tantangan Bursa Mineral RI Agar Dipercaya Dunia
Calon Bos OJK Sarjito Beberkan Tantangan Bursa Mineral RI Agar Dipercaya Dunia
Senin, 24 Agustus 2026 15:38 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito menyampaikan tiga tantangan struktural yang dihadapi Bursa Mineral RI untuk menuju kedaulatan pasar dan penciptaan nilai ekonomi yang optimal.
Hal ini disampaikan Sarjito dalam paparan berjudul Kedaulatan Pasar untuk Kemakmuran Rakyat: Membangun Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang Dalam, Transparan, Likuid, dan Dipercaya Dunia, saat menjalani fit and proper test Calon Anggota Dewan Komisioner OJK 2026 di hadapan Komisi XI DPR RI, Senin (24/8/2026). Berikut rinciannya:
1. Kedaulatan Dalam Pembentukan Harga
Sarjito menyoroti fakta harga acuan yang masih terbentuk di luar negeri dan produksi besar yang belum diikuti pengaruh kuat dalam price discovery.
"Bagaimana mungkin, kita sebagai produsen atau penghasil timah terbesar dunia atau penghasil nikel terbesar dunia, mohon maaf, tetapi harganya tidak ditentukan oleh negara kita sendiri. Ada yang di London Metal Exchange, Shanghai Futures Exchange, Chicago Mercantile Exchange, dan juga di Singapura," kata Sarjito.
Baca juga : Mensesneg: Bursa Mineral Disiapkan, Kemungkinan Namanya Icomex
"Ini tentu saja menjadi masalah serius. Kita penghasil terbesar tapi tidak bisa mempengaruhi harga," imbuhnya.
2. Integritas Perdagangan & Potensi Kebocoran Ekonomi
Sarjito menyebut risiko under-invoicing, transfer pricing, dan pelarian devisa sebagai faktor risiko yang sangat merugikan penerimaan negara. Dia pun menyayangkan data perdagangan yang masih tersebar di berbagai institusi, dan belum terintegrasi secara optimal.
Karena itu, Sarjito menekankan pentingnya menjaga nilai ekonomi nasional melalui perdagangan yang transparan dan pengawasan yang efektif.
3. Belum Optimalnya Integrasi & Kedalaman Pasar
Sarjito mengatakan, ekosistem perdagangan mineral dan komoditas strategis RI saat ini masih sangat terfragmentasi. Terkait hal tersebut, Sarjito menekankan pentingnya upaya memperluas keterlibatan pelaku pasar melalui peningkatan kapasitas dan pemahaman, melakukan diversifikasi produk, serta penanganan perdagangan dan perantaraan tanpa izin.
Baca juga : Sudiyo Jalani Uji Kepatutan Calon Hakim Ad Hoc Tipikor
Atas tiga hal tersebut, Sarjito mengusulkan delapan pilar kebijakan strategis pengembangan BMKS untuk membangun arsitektur kepercayaan dari infrastruktur pasar hingga harga referensi Indonesia yang kredibel. Yakni Trusted Infrastructure, Trusted Market, Trusted Player, Trusted Product, Trusted Data, Trusted Regulator, dan Trusted Ecosystem, dan Trusted Price.
"Kalau kita belajar dari China, sebelum Shanghai Future Exchange dibentuk, mereka melakukan upaya sistematis selama dua dekade. China melakukan semua, mengimpor mineral-mineral dari negara lain, kemudian mendorong industri nasional untuk memakainya dan spying di banyak yurisdiksi dengan memakai smelter-smelter. Sehingga, bisa mengetahui kekuatan negara lain. Termasuk tentu di Indonesia," papar Sarjito.
"Karena itu, ekosistem ini harus saling terkoneksi. OJK tidak bisa menjadi sole regulator yang berjalan sendiri. OJK harus berkoordinasi dengan lembaga lain seperti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk memastikan ekosistem berjalan dengan baik," tandasnya.
Baca juga : Thomas Djiwandono Jalani Fit and Proper Test Deputi Gubernur BI
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya