Dark/Light Mode

Protelindo Gandeng World Mobile, Perluas Jangkauan 4G/5G via Stratosfer

Minggu, 13 September 2026 21:02 WIB
Foto: Protelindo.
Foto: Protelindo.

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) menggandeng Combined Space Technology Limited (World Mobile Stratospheric) untuk menghadirkan solusi konektivitas 4G dan 5G berbasis teknologi stratosfer di Indonesia.

Kemitraan eksklusif tersebut menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, terutama dalam memperluas akses telekomunikasi ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) serta kawasan yang masih mengalami blank spot.

Melalui perjanjian tersebut, Protelindo menjadi mitra operasional tunggal yang memegang hak komersial eksklusif untuk mengoperasikan teknologi pesawat High-Altitude Platform (HAP) milik World Mobile di Indonesia.

Teknologi tersebut nantinya berfungsi sebagai ekstensi jaringan yang dapat terhubung dan bersinergi dengan Mobile Network Operator (MNO) yang telah beroperasi.

Dengan pendekatan ini, perluasan jaringan ke wilayah yang sulit dijangkau diharapkan dapat dilakukan lebih efisien tanpa harus sepenuhnya mengandalkan pembangunan menara telekomunikasi di darat.

Solusi konektivitas yang dikembangkan mengandalkan Stratomast, pesawat stratosfer otonom yang menggunakan hidrogen cair sebagai sumber energi.

Baca juga : iForte dan Protelindo Rilis Cahaya Hati, Kolaborasi Raisa dan Eross

Pesawat tersebut dirancang beroperasi pada ketinggian sekitar 60.000 kaki dan mampu memancarkan sinyal 4G maupun 5G langsung ke perangkat smartphone standar.

Artinya, masyarakat tidak membutuhkan perangkat khusus ataupun kartu SIM baru untuk memanfaatkan konektivitas yang dipancarkan teknologi tersebut.

Dari sisi jangkauan, satu unit Stratomast diklaim mampu melayani sekitar 500.000 penduduk di wilayah dengan luas hingga 15.000 kilometer persegi.

Selain memiliki cakupan luas, teknologi konektivitas stratosfer ini juga menawarkan performa transfer data yang tinggi.

Kecepatan yang ditawarkan mencapai 200 Mbps untuk unduh dan 100 Mbps untuk unggah, dengan latensi di bawah 1 milidetik.

Angka tersebut diklaim memberikan performa yang jauh lebih cepat dibandingkan konektivitas satelit konvensional.

Baca juga : iForte Kembali Gelar Kompetisi Tari Nasional Untuk Generasi Muda

Stratomast juga dilengkapi muatan antena phased-array berbasis kecerdasan buatan (AI). Teknologi tersebut memungkinkan pembagian kapasitas sinyal disesuaikan dengan kebutuhan di wilayah darat secara real-time.

Dengan kemampuan adaptif tersebut, kapasitas jaringan dapat diarahkan secara lebih fleksibel sesuai dengan perubahan kebutuhan pengguna.

Aspek lingkungan juga menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan teknologi Stratomast. Pesawat ini menggunakan hidrogen cair sebagai sumber energi dengan daya mencapai 100 kW. Sistem tersebut diklaim hanya menghasilkan emisi berupa air.

Selain itu, pengoperasian teknologi dari stratosfer dinilai dapat menjadi alternatif untuk memperluas jaringan telekomunikasi tanpa harus membangun infrastruktur menara dalam jumlah besar di wilayah yang sulit dijangkau.

Teknologi konektivitas stratosfer tersebut juga dirancang dengan memperhatikan aspek kedaulatan data. Seluruh sistem akan beroperasi di dalam wilayah udara teritorial Indonesia.

Dengan demikian, rute data nasional diharapkan tetap berada dalam cakupan sistem yang beroperasi di wilayah Indonesia.

Baca juga : Bank Mandiri Guyur Anak Usaha TOWR Kredit Rp 2 T

Hal tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan infrastruktur digital nasional, khususnya ketika konektivitas diperluas ke kawasan terpencil dan wilayah perbatasan.

CEO World Mobile Group Micky Watkins menyatakan, teknologi tersebut membuka peluang besar bagi masyarakat di kawasan terpencil untuk memperoleh akses terhadap berbagai layanan digital.

"Konektivitas yang lebih luas diharapkan dapat mendukung kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi digital," jelasnya.

Di sisi lain, Protelindo menilai kerja sama tersebut menjadi jawaban atas tantangan geografis sekaligus pertimbangan ekonomi dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi darat di Indonesia.

"Kehadiran teknologi berbasis stratosfer diharapkan dapat melengkapi infrastruktur jaringan yang sudah ada, sekaligus mempercepat pemerataan konektivitas digital hingga ke wilayah yang selama ini sulit dijangkau," ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.