Dark/Light Mode

Bunga The Fed Dan BOJ Naik, Ekonom UOB: BI Masih Punya Ruang Bergerak

Jumat, 18 September 2026 14:25 WIB
Gedung Bank of Japan. (Foto: Pexels)
Gedung Bank of Japan. (Foto: Pexels)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan moneter Amerika Serikat dan Jepang bergerak ke arah yang lebih ketat. The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya, sementara Bank of Japan (BOJ) menyusul dengan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun.

The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4 persen dalam pertemuan pada Rabu (16/9/2026). Kenaikan ini merupakan yang pertama sejak Juli 2023.

Langkah The Fed tersebut langsung memengaruhi pasar keuangan global. Dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah. Pada perdagangan Kamis (17/9/2026), dolar AS berada di level Rp17.753, menguat 0,32 persen terhadap rupiah.

The Fed juga masih membuka peluang menaikkan suku bunga kembali hingga akhir tahun. Karena itu, pasar masih mencermati arah kebijakan bank sentral AS, terutama terhadap kemungkinan berlangsungnya era suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Baca juga : BRICS Sepakat Kerja Sama Gunakan Mata Uang Lokal

Di Jepang, BOJ pada Jumat (18/9/2026) akhirnya menaikkan suku bunga acuannya 25 bps menjadi 1,25 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam 31 tahun atau sejak 1995. Keputusan itu diambil dengan suara 7-2.

Kenaikan suku bunga BOJ semakin menjauhkan Jepang dari era suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Sebelumnya, perbedaan tingkat suku bunga AS dan Jepang menjadi salah satu faktor yang menekan yen terhadap dolar AS dan meningkatkan biaya impor Jepang.

Perubahan arah kebijakan dua bank sentral utama dunia tersebut turut menjadi perhatian bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, karena berpotensi memengaruhi arus modal, nilai tukar dan volatilitas pasar keuangan.

Namun, Ekonom Senior UOB Enrico Tanuwidjaja menilai dampak kenaikan suku bunga The Fed terhadap Indonesia relatif terbatas karena kebijakan tersebut sudah cukup diantisipasi oleh pasar.

Baca juga : BI: Penjualan Eceran Agustus 2026 Tumbuh 0,5 Persen

Menurut Enrico, Bank Indonesia juga telah mengambil langkah secara pre-emptive dengan menaikkan suku bunga acuan terlebih dahulu. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga untuk sementara waktu.

"Karena sudah cukup diantisipasi maka dampaknya minimal," ujar Enrico, saat dikontak Rakyat Merdeka, Jumat (18/9/2026). 

Ia menilai BI masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan apabila kondisi ke depan memang membutuhkan langkah tersebut.

"Bank Indonesia telah secara pre-emptive menaikkan suku bunga acuan terlebih dahulu. Oleh karena itu ada window untuk menahan suku bunga sementara waktu. Tapi BI masih memiliki ruang gerak untuk menaikkan suku bunga acuan apabila diperlukan," katanya.

Baca juga : BI Jangan Tunduk

Meski dampak langsung dinilai minimal, Enrico mengingatkan volatilitas pasar masih meningkat. Pergerakan rupiah, arus modal dan pasar keuangan domestik tetap perlu dicermati seiring perubahan arah kebijakan moneter global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.