Dark/Light Mode

7 Indikator Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Gejolak Global

Jumat, 18 September 2026 15:09 WIB
Menkeu RI Suahasil Nazara (kiri) dan Wamenkeu Juda Agung beserta jajaran dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (18/9/2026). (Foto: dok. Kemenkeu)
Menkeu RI Suahasil Nazara (kiri) dan Wamenkeu Juda Agung beserta jajaran dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (18/9/2026). (Foto: dok. Kemenkeu)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara menegaskan, kinerja perekonomian Indonesia tetap resilien di tengah gejolak global. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid, inflasi yang terkendali, hingga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terjaga.

Menurutnya, pemerintah terus mencermati perkembangan global sebagai bagian dari langkah antisipasi dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Dinamika geopolitik dengan konflik Timur Tengah masih menjadi risiko utama. Sementara itu, perubahan suku bunga Amerika Serikat berpotensi memengaruhi kondisi pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Kondisi suku bunga global diperkirakan masih akan berada dalam situasi higher for longer. Karena itu dampaknya terhadap perekonomian domestik perlu terus diantisipasi," kata Suahasil dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Jumat (18/9/2026).

"Salah satu antisipasinya adalah antisipasi yang harus dilakukan oleh APBN," imbuhnya. 

Berikut 7 poin yang menunjukkan kinerja perekonomian Indonesia tetap resilien di tengah gejolak global, menurut Suahasil:

1. Ekonomi Tumbuh 5,45 Persen

Baca juga : Menkeu Suahasil Pastikan Layanan Pengaduan Masyarakat Tetap Berlanjut

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I – 2026 tercatat sebesar 5,45 persen.

2. Inflasi Agustus 2026 Tercatat 3,19 Persen

Suahasil menyebut inflasi pada Agustus 2026 masih berada di level sasaran inflasi 3,19 persen.

“Itu (angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi, Red) adalah angka-angka yang cukup memberikan confidence kepada kita bahwa perekonomian Indonesia itu stay resilient. Indonesia itu tetap resilien pekonomiannya, gerak ekonominya, gerak di masyarakat,” jelas Menkeu.

3. Aktivitas Penjualan & Konsumsi Tetap Tumbuh 

Ketahanan perekonomian Indonesia antara lain tercermin dari aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah indikator seperti penjualan mobil dan sepeda motor, penjualan semen, serta konsumsi menunjukkan pertumbuhan.

4. Keyakinan Konsumen Menguat

Ketahanan perekonomian Indonesia juga ditandai oleh menguatnya keyakinan konsumen. Sementara penjualan riil kembali berada dalam fase ekspansif.

Baca juga : Suahasil: Arus Modal Masuk Indonesia Pulih, Inflow Tembus Rp141,6 Triliun

Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur tetap menjadi indikator yang perlu dicermati karena sektor manufaktur Indonesia turut dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global.

"Jadi, harus kita waspadai, kita tidak boleh lengah. Tapi, Indonesia kondisi ekonominya cukup resilien, malah saya bisa katakan sangat resilien," jelas Suahasil.

5. Akumulasi Capital Inflow Tembus Rp141,6 Triliun

Arus modal ke pasar keuangan domestik kini mulai pulih. Pemerintah mencatat akumulasi capital inflow hingga 11 September 2026 mencapai Rp141,6 triliun.

Untuk Surat Berharga Negara (SBN), arus modal asing secara neto tercatat sebesar Rp40,8 triliun didukung kredibilitas fiskal.

Sementara itu, arus masuk pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat sebesar Rp171,6 triliun, sejalan dengan penurunan penerbitan SRBI oleh Bank Indonesia.

6. Keseimbangan Primer APBN Positif 

Baca juga : APBN Agustus 2026 On Track, Suahasil: Defisit Rp240,1 Triliun Terkendali

Ketahanan ekonomi domestik juga tercermin dari kinerja fiskal. Hingga akhir Agustus 2026, kinerja APBN tetap kuat dengan keseimbangan primer yang berada di posisi positif.

7. Defisit APBN 0,93 Persen Dari PDB

Defisit anggaran masih berada dalam batas yang terkendali. Suahasil menjelaskan, pendapatan negara hingga Agustus 2026 dibukukan dengan angka Rp 2.055,6 triliun atau mencakup 65 persen dari target. Sementara belanja negara mencapai Rp 2.295 triliun.

"Maka defisitnya adalah Rp 240,1 triliun, yang artinya adalah 0,93 persen dari PDB kita,” pungkas Menkeu. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.