Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 50% Travel Umrah Tak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan dan Digitalisasi Perizinan
- Masinis KA Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Tabrakan Maut di Bekasi
- RUU Perampasan Aset, Gerindra: Harus Ada Ganti Rugi untuk Korban Salah Sita
- Bintang/Sofyan ke Perempat Final Voli Pantai, Imam/Fairuz Terhenti
- Mega Terharu dengan Perhatian Prabowo Takziah atas Wafatnya Guruh
Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dolar AS, Ini Penjelasan BI
Selasa, 29 September 2026 14:45 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga mencapai level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (29/9/2026) pagi.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi berlanjutnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal.
Menurut dia, kondisi tersebut sejalan dengan kenaikan harga minyak hingga di atas 108 dolar AS per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.
"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi," kata Erwin dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Baca juga : Rupiah Tembus Rp 18.001 Per Dolar AS Pagi Ini
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS lebih lanjut. Hal itu tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau UST tenor 10 tahun yang kembali mencapai 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007.
Meski demikian, BI menilai pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan regional. Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,67 persen.
Di sisi lain, posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.
Erwin menegaskan BI akan tetap hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental perekonomian.
Baca juga : IHSG & Rupiah Kompak Merah
Selain itu, BI mengelola struktur suku bunga di pasar uang melalui penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar (pro-market).
Efektivitas stabilisasi nilai tukar juga diperkuat dengan menjaga kecukupan likuiditas, antara lain melalui peningkatan insentif untuk instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai bagi perbankan dalam rangka pendanaan luar negeri.
"Intervensi akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ujarnya.
BI, lanjut Erwin, juga terus melakukan koordinasi dan komunikasi secara intensif dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca juga : Harga Minyak Naik, Rupiah Tertekan Ke Level Rp 17.940
"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," kata Erwin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya