Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- 50% Travel Umrah Tak Aktif, Kemenhaj Rombak Aturan dan Digitalisasi Perizinan
- Masinis KA Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Tabrakan Maut di Bekasi
- RUU Perampasan Aset, Gerindra: Harus Ada Ganti Rugi untuk Korban Salah Sita
- Jutaan Hektare Lahan Rusak di Kalimantan Ternyata Masih Bisa Dipulihkan
- Mega Terharu dengan Perhatian Prabowo Takziah atas Wafatnya Guruh
RM.id Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama memerah pada perdagangan Senin (28/9/2026). Keduanya tertekan sentimen domestik dan global.
IHSG ditutup melemah 1,51 persen atau 94 poin ke level 6.147,86. Indeks LQ45 juga turun 9,30 poin atau 1,50 persen menjadi 611,81. Sementara itu, rupiah ditutup melemah 75 poin atau 0,42 persen ke level Rp 17.978 per dolar AS.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi kenaikan yield obligasi global akibat kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed. Harga minyak yang masih tinggi juga turut memberikan tekanan.
“Harga minyak yang masih tinggi juga memberikan tekanan,” ujarnya di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Baca juga : Di Kanwil BPN Jatim, KPK Temukan ATM Rekening Khusus Penampung Setoran
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, tekanan terhadap IHSG tidak hanya berasal dari kenaikan yield US Treasury. Kebijakan BEI terkait penurunan batas harga minimum saham menjadi Rp 1 juga dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas. “Terutama pada saham berharga rendah,” ujarnya, Senin (28/9/2026).
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik membantah, penghapusan batas harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 memberikan sentimen negatif terhadap IHSG. Menurut dia, penerapan perdana kebijakan tersebut justru berjalan dengan baik.
“Seluruh proses mulai dari pre-opening sampai pembukaan pasar dan sampai dengan saat ini, seluruh proses kegiatan perdagangan itu berjalan baik,” kata Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah terjadi akibat kombinasi tingginya permintaan dolar AS dari importir, arus keluar dana asing, serta penguatan indeks dolar AS.
Baca juga : Bestari Barus: Pengaruh Jokowi Di PSI Sangat Besar
Menurut dia, sentimen pasar juga masih dibayangi kekhawatiran terhadap eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Investor cenderung berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri pada pekan ini.
“Dari AS, akan ada data rilis tenaga kerja dan inflasi. Dari domestik, data inflasi dan perdagangan,” kata Lukman.
Pengamat Ekonomi Ibrahim Assuaibi mengatakan, lonjakan harga minyak turut menekan perekonomian global. “Konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari 2026,” ujarnya, Senin (28/9/2026).
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut mendorong bank sentral di berbagai negara menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi juga meningkatkan biaya pinjaman pemerintah dan berpotensi mempersempit ruang fiskal.
Baca juga : Adi Prayitno: Tantangan Utama PSI Adalah Mesin Politik
Ia mengatakan, Kementerian Keuangan dan BI perlu memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Langkah tersebut antara lain melalui optimalisasi pertumbuhan ekonomi, penguatan sektor eksternal, pengelolaan likuiditas, pengendalian inflasi, dan pendalaman pasar keuangan. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya