Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Pertamina Buka Akses Digital bagi Anak Disabilitas Netra di MotoGP Mandalika
- Kinerja Melesat, Bank Mandiri Buyback Saham Dan Tebar Dividen
- Mbappe Brace, Real Madrid Hajar RB Leipzig
- Jakmania Dilarang Hadiri 6 Laga Tandang, PSSI Sanksi Persija-Persita
- Madura United Vs Persib Bandung, Jadwal Padat Jadi Kendala
Batu Bara Masih Jadi Primadona, Efisiensi Jadi Kunci Konsumsi Jangka Panjang
Kamis, 8 Oktober 2026 15:44 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Batu bara masih menjadi salah satu sumber energi penting bagi Indonesia di tengah proses transisi menuju energi yang lebih bersih.
Melimpahnya sumber daya dan harga yang relatif terjangkau membuat batu bara dinilai masih memiliki peran dalam menopang kebutuhan energi nasional sekaligus menjaga daya saing industri.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 97,96 miliar ton dan cadangan sekitar 31,9 miliar ton.
Besarnya potensi tersebut menjadi salah satu alasan batu bara masih digunakan sebagai bahan bakar pembangkit energi nasional.
Penggunaan batu bara secara efisien dinilai dapat menjaga keberlanjutan pemanfaatan komoditas tersebut dalam jangka panjang.
Pasokan yang melimpah membuat harga batu bara relatif terjangkau sehingga dapat membantu menjaga daya beli masyarakat.
Selain sektor energi, batu bara juga berperan dalam mendukung pertumbuhan industri nasional.
Baca juga : IRESS: Kunci DMO Batu Bara untuk Listrik, Smelter Swasta Jangan Lagi Dihitung
Sejumlah sektor, seperti tekstil, semen, serta makanan dan minuman, bergantung pada pasokan listrik dengan harga yang kompetitif.
Jika tarif listrik meningkat akibat peralihan secara masif ke sumber energi yang lebih mahal, kenaikan biaya tersebut berpotensi dibebankan industri kepada konsumen melalui harga produk.
Secara global, Indonesia berada di peringkat keempat sebagai negara pengonsumsi batu bara terbesar, dengan total konsumsi mencapai 5,15 exajoule (EJ), berdasarkan data Statistical Review of World Energy.
Namun, mempertahankan batu bara sebagai salah satu sumber energi nasional dalam jangka panjang membutuhkan sejumlah penyesuaian.
Pemanfaatannya dinilai tidak cukup hanya sebagai bahan mentah, tetapi perlu didorong melalui hilirisasi, penerapan teknologi bersih, dan diversifikasi produk.
“Batu bara masih memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Tantangannya adalah bagaimana komoditas ini dimanfaatkan secara lebih efisien dan memberikan nilai tambah,” ujar Komisaris PT Andalan Artha Primanusa Ivan Victor Salim.
Salah satu upaya hilirisasi dapat dilakukan dengan mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair atau Coal to Liquid (CTL).
Baca juga : Kepentok Efisiensi Anggaran, Jakarta Tolak Beri Hibah Truk Sampah ke Bogor
Proses tersebut mengolah batu bara berkalori rendah menjadi bahan bakar minyak (BBM) atau solar sintetis yang diharapkan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Langkah lainnya adalah melalui gasifikasi batu bara, yakni mengubah batu bara menjadi syngas yang dapat diproses lebih lanjut menjadi dimetil eter (DME), metanol, amonia untuk pupuk, hingga bahan baku industri petrokimia.
Dukungan teknologi bersih juga dapat dilakukan melalui dekarbonisasi dan penggunaan teknologi pembakaran yang lebih efisien.
Salah satunya melalui penerapan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk menangkap dan menyimpan karbon sehingga dapat menekan emisi gas rumah kaca.
Penggunaan teknologi pembakaran yang lebih efisien dan ramah lingkungan pada fasilitas industri serta pembangkit listrik juga menjadi alternatif untuk mengurangi dampak lingkungan dari pemanfaatan batu bara.
Di sisi lain, penguatan regulasi dan kebijakan dalam negeri dinilai tidak kalah penting. Penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dapat memberikan kepastian pasokan, harga, dan kuota batu bara untuk kebutuhan dalam negeri.
Kebijakan tersebut juga dinilai penting agar fluktuasi harga batu bara di pasar global tidak secara langsung memengaruhi ketersediaan dan harga di dalam negeri.
Baca juga : RSUP Dr. Sardjito Pakai Gas Bumi PGN, Efisiensi Capai 75 Persen
Menurut Ivan, pemanfaatan batu bara dalam proses transisi energi perlu dilakukan secara bertahap. Langkah tersebut dapat berjalan beriringan dengan upaya mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
Kementerian ESDM sebelumnya menyampaikan bahwa ketersediaan energi nasional masih akan didominasi sumber daya berbasis fosil, salah satunya batu bara.
Komoditas tersebut belum sepenuhnya ditinggalkan karena belum terdapat sumber energi pengganti dengan jumlah pasokan dan tingkat keandalan yang setara.
“Tantangannya sekarang bukan lagi sekadar bagaimana memproduksi batu bara, tetapi bagaimana mengolah dan memanfaatkannya dengan lebih efisien serta memberikan nilai tambah bagi kebutuhan dalam negeri,” tambah Ivan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya