Dark/Light Mode

Rupiah Nyaris Rp 18.000 Per Dolar AS, Ini Penjelasan BI

Kamis, 15 Oktober 2026 10:02 WIB
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: Dwi Pambudi/RM.id)
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (Foto: Dwi Pambudi/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin G. Hutapea menyampaikan penjelasan tentang perkembangan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 17.950 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (15/10/2026). Melemah 0,26 persen dibanding penutupan sebelumnya, yang bercokol di angka Rp 17.903 per dolar AS.

Erwin menyebut rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan dan meningkat dibanding periode sebelumnya, mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif oleh The Fed.

Selain itu, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 105 dolar AS per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan.

Baca juga : Rupiah Melemah ke Level Rp 17.914 Per Dolar AS Pagi Ini

Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan yield US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 bps ke level 4,90 persen.

Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi.

"Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan (regional), dengan pelemahan terbatas secara quarter-to-date (QTD) sebesar 0,17 persen," jelas Erwin dalam keterangan resmi, Kamis (15/10/2026).

Menurutnya, cadangan devisa tercatat terjaga di level 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.

Baca juga : Indeks & Rupiah Perlu Diperkuat

Erwin memastikan, BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik, dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya.

Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Bank Indonesia mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang," papar Erwin.

Baca juga : OJK-BI Perkuat Pengawasan Hadapi Tantangan Era Digital

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.