Dark/Light Mode

Indeks & Rupiah Perlu Diperkuat

Rabu, 14 Oktober 2026 07:40 WIB
Ilustrasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: Rizki Syahputra/RM.id)
Ilustrasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: Rizki Syahputra/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terjebak di zona merah. Rupiah memang menguat tipis, tetapi posisinya masih dekat Rp 18 ribu per dolar Amerika Serikat (AS). Pemangku kebijakan dituntut memperkuat kepercayaan pasar dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global, serta proses reformasi pasar modal.

Berdasarkan data RTI Business, pada perdagangan Selasa (13/10/2026), IHSG dibuka di level 5.914,98. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 5.828,679 hingga 5.930,083. IHSG akhirnya ditutup melemah 10,171 poin atau 0,17 persen ke level 5.925,97.

Nilai transaksi mencapai Rp 10,739 triliun dengan volume perdagangan 36,499 miliar saham dan frekuensi 1,473 juta kali transaksi. Sebanyak 336 saham menguat, 290 saham melemah, dan 168 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 10.422,440 triliun.

Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati menilai, pelemahan IHSG terjadi karena pelaku pasar masih mencermati perkembangan kajian Morgan Stanley Capital International (MSCI). Perhatian utama tertuju pada risiko penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier.

Baca juga : Danantara Umumkan 100 BUMN Dengan Pelayanan Pelanggan Terbaik

Berbeda dengan IHSG, rupiah berhasil menguat pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Mata uang Garuda naik 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp 17.900 per dolar AS, dari penutupan sehari sebelumnya di angka Rp 17.913 per dolar AS.

Meski menguat, rupiah masih berada di dekat level Rp 18 ribu per dolar AS. Pergerakan kurs pun tetap dibayangi ketidakpastian global.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong menilai, penguatan rupiah ditopang meredanya tekanan jual pada obligasi pemerintah global dan pelemahan dolar AS. Harga minyak mentah dunia yang turun akibat aksi ambil untung menjelang rilis data inflasi AS pada Rabu (14/10/2026) turut menjadi faktor pendukung.

Sementara itu, pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, perhatian investor masih tertuju pada kajian penyedia indeks global, termasuk MSCI. Indonesia masih berada dalam status pembekuan atau freeze terkait sejumlah perubahan indeks.

Baca juga : Kasus Suap HGB Di BPN, KPK Sita Mobil Milik Mantan Bupati Kebumen

“Hal yang menjadi perhatian MSCI adalah transparansi dalam pembentukan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI),” kata Ibrahim.

Di tengah tekanan pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa risiko penurunan IHSG ke level 5.000-an sebenarnya telah diperhitungkan sejak Februari 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, regulator memperkirakan reformasi pasar modal akan memicu koreksi indeks sebagai bagian dari proses normalisasi.

Namun, tekanan yang terjadi ternyata tidak hanya berasal dari reformasi, tetapi juga dipengaruhi sentimen eksternal. “Kami pikir ini akibat reformasi saja, akan terjadi normalisasi sejauh itu,” ujar Hasan dalam acara BIG Market Insights 2026 yang digelar Bisnis Indonesia Group, Kamis (8/10/2026).

Meski demikian, Hasan menegaskan, pergerakan pasar saham tidak bisa dikaitkan hanya dengan reformasi atau pengumuman lembaga pemeringkat.

Baca juga : Sarankan Perkuat Literasi Keuangan, NasDem Sedih Guru Banyak Terjerat Pinjol

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, bank sentral tidak dapat mengumumkan target nilai tukar secara spesifik. Pengumuman semacam itu berpotensi menjadi acuan spekulasi pasar dan justru membatasi ruang gerak kebijakan.

Menurut Destry, keberhasilan BI tidak semata-mata diukur dari kemampuan mempertahankan rupiah pada level tertentu. [UMM/MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.