Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Pertamina Buka Akses Digital bagi Anak Disabilitas Netra di MotoGP Mandalika
- Kinerja Melesat, Bank Mandiri Buyback Saham Dan Tebar Dividen
- Mbappe Brace, Real Madrid Hajar RB Leipzig
- Jakmania Dilarang Hadiri 6 Laga Tandang, PSSI Sanksi Persija-Persita
- Madura United Vs Persib Bandung, Jadwal Padat Jadi Kendala
Maruly Apresiasi Respons ASDP Tangani Kebakaran KMP Batumandi
Kamis, 22 Oktober 2026 21:47 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Koordinator Komunitas Pengguna Kapal Penyeberangan Nusantara (KPK-PN) Maruly Hendra Utama mengapresiasi respons PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) dalam menangani kebakaran KMP Batumandi. Menurutnya, keselamatan penumpang dan awak kapal harus menjadi prioritas utama dalam setiap keadaan darurat pelayaran.
Maruly menilai, penanganan insiden kapal terbakar perlu dilihat secara menyeluruh. Penilaian tidak hanya berfokus pada kondisi akhir kapal, tetapi juga mencakup penyelamatan jiwa, pengendalian kebakaran, pencegahan pencemaran laut, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
“Dalam situasi darurat seperti kebakaran KMP Batumandi, ukuran paling mendasar adalah bagaimana keselamatan jiwa diprioritaskan dan risiko lanjutan dikendalikan. Penanganan tidak cukup hanya memadamkan api, tetapi juga harus memperhitungkan keamanan alur pelayaran, potensi pencemaran laut, kondisi kapal, dan kebutuhan investigasi. Dari perspektif itu, langkah-langkah tanggap darurat ASDP patut diapresiasi,” ujar Maruly dalam keterangannya.
Maruly yang pernah mengikuti pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta health, safety, and environment (HSE) mengatakan, penanganan keadaan darurat membutuhkan keputusan yang mempertimbangkan berbagai risiko sekaligus. Keputusan yang terburu-buru dapat menimbulkan persoalan baru jika tidak memperhitungkan kondisi kapal, keselamatan penumpang, dan aktivitas pelabuhan.
Ia menempatkan keberhasilan evakuasi sebagai salah satu aspek terpenting dalam evaluasi penanganan kebakaran. Berdasarkan informasi yang dihimpun KPK-PN, seluruh penumpang KMP Batumandi berhasil dievakuasi. Namun, tiga orang dilaporkan mengalami cedera dan mendapatkan penanganan medis.
Maruly menegaskan, informasi mengenai korban dan proses evakuasi perlu merujuk pada konfirmasi resmi pihak berwenang.
“Penyelamatan jiwa merupakan prioritas yang tidak bisa ditawar. Ketika penumpang berhasil dievakuasi dan mendapatkan pertolongan medis, hal tersebut menjadi bagian penting dari keberhasilan respons darurat. Kita harus memberikan apresiasi kepada awak kapal dan seluruh unsur yang terlibat, sekaligus memastikan evaluasi dilakukan agar kesiapsiagaan semakin kuat,” katanya.
Menurutnya, kesiapan operasional menjadi faktor penting dalam menghadapi keadaan darurat. Latihan keselamatan, pemahaman awak kapal terhadap prosedur evakuasi, ketersediaan peralatan penyelamatan, serta koordinasi dengan petugas berwenang perlu terus ditingkatkan.
Baca juga : ASDP Pastikan Penanganan Klaim, Kawal Pemenuhan Hak Korban KMP Batumandi
Maruly juga menyoroti pentingnya menentukan lokasi penanganan kapal yang terbakar secara cermat. Kapal yang berada di dermaga atau kolam pelabuhan dapat menimbulkan risiko tambahan bagi fasilitas pelabuhan, kapal lain, petugas, dan kelancaran lalu lintas pelayaran.
Dalam kondisi tertentu, penanganan di perairan yang lebih aman dapat menjadi pilihan. Namun, keputusan tersebut harus didasarkan pada penilaian teknis dan kondisi aktual di lapangan.
“Keputusan mengenai lokasi penanganan kapal terbakar bukan perkara sederhana. Ada aspek keselamatan manusia, potensi rambatan kebakaran, stabilitas kapal, kondisi angin dan arus, serta kelancaran operasional pelabuhan. Karena itu, lokasi harus ditentukan berdasarkan kondisi aktual dan penilaian teknis, bukan semata-mata pertimbangan kemudahan,” jelasnya.
Maruly menambahkan, kapal yang akhirnya terbalik atau tenggelam setelah mengalami kebakaran tidak otomatis menunjukkan kegagalan seluruh proses penanganan darurat. Evaluasi perlu membedakan keberhasilan menyelamatkan manusia, upaya mengendalikan api, dan kemampuan mempertahankan kondisi fisik kapal.
Ia menjelaskan, kebakaran berkepanjangan berpotensi merusak lambung dan sekat kedap air. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan air laut masuk ke dalam kapal dan mengganggu stabilitas. Air pemadam yang terkumpul di bagian tertentu, angin, arus, serta kerusakan sistem permesinan juga dapat memengaruhi kondisi kapal.
“Apabila sebuah kapal akhirnya tenggelam setelah mengalami kebakaran, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seluruh penanganan daruratnya gagal. Harus dibedakan antara upaya menyelamatkan manusia, upaya mengendalikan kebakaran, dan kemampuan mempertahankan kondisi fisik kapal. Ketiganya berkaitan, tetapi memiliki indikator penilaian yang berbeda,” tegasnya.
Meski demikian, Maruly menekankan bahwa penjelasan tersebut bukan kesimpulan mengenai penyebab tenggelamnya KMP Batumandi. Penyebab pasti harus ditentukan melalui pemeriksaan teknis dan investigasi pihak berwenang, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sesuai kewenangannya.
Investigasi diperlukan untuk memeriksa kronologi kebakaran, kondisi kapal, kerusakan struktur, stabilitas, dan kemungkinan faktor penyebab lainnya. Dengan demikian, penilaian terhadap kinerja operator dapat didasarkan pada bukti, bukan asumsi.
Baca juga : ASDP Gerak Cepat Tangani Insiden KMP Batumandi
Selain keselamatan penumpang, Maruly mengapresiasi langkah mitigasi potensi pencemaran laut yang disebut dilakukan dalam penanganan insiden tersebut. Kapal yang terbakar berpotensi mengalami kebocoran bahan bakar, minyak pelumas, atau cairan lain yang dapat mencemari perairan.
Berdasarkan bahan keterangan yang diterima, ASDP mendapat dukungan pihak terkait, termasuk Pertamina di sekitar Pelabuhan Merak, untuk memasang oil boom dan menyiapkan oil skimmer di sekitar kapal.
Oil boom berfungsi membatasi penyebaran minyak di permukaan air, sedangkan oil skimmer digunakan untuk mengumpulkan minyak yang mengapung. Efektivitas peralatan tersebut bergantung pada kondisi cuaca, arus, karakteristik tumpahan, dan kecepatan penanganan.
“Langkah antisipasi pencemaran harus diapresiasi karena risiko insiden kapal tidak berhenti pada kebakaran. Ada kemungkinan kebocoran minyak dan dampak terhadap lingkungan laut. Kesiapan oil boom dan oil skimmer merupakan bagian dari mitigasi yang penting, sepanjang ditempatkan dan dioperasikan sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menilai persiapan melibatkan perusahaan penyelamatan kapal atau salvage company penting untuk mengantisipasi penanganan lanjutan. Tim penyelamatan dapat membantu menilai kondisi kapal, merancang langkah pengamanan, menangani potensi kebocoran, dan mempersiapkan tindakan penyelamatan atau pengangkatan kapal jika diperlukan.
Maruly mengingatkan, penanganan pascakebakaran harus memperhatikan kebutuhan investigasi. Kapal yang mengalami insiden dapat menyimpan bukti penting untuk mengungkap sumber api, pola penyebaran kebakaran, dan kondisi sistem keselamatan.
Karena itu, pemindahan kapal ke dermaga atau galangan perlu mempertimbangkan keselamatan, kondisi kapal, kebutuhan pemeriksaan, serta risiko selama pemindahan. Koordinasi dengan pihak berwenang juga diperlukan agar proses investigasi tidak terganggu.
“Jangan sampai keinginan untuk segera memindahkan kapal justru mengabaikan keselamatan atau mengganggu proses investigasi. Namun, jika kapal menimbulkan ancaman serius terhadap jiwa manusia, tindakan darurat harus dipertimbangkan oleh pihak yang berwenang. Yang terpenting, setiap keputusan mempunyai dasar teknis dan pertimbangan keselamatan yang jelas,” tegasnya.
Baca juga : ASDP Apresiasi Nelayan KMP Batumandi & Masyarakat Pesisir Pererat Silaturahmi
Maruly berharap hasil investigasi dapat menjelaskan penyebab insiden secara transparan dan menjadi dasar perbaikan bagi ASDP maupun industri penyeberangan nasional. Evaluasi, menurutnya, harus menghasilkan rekomendasi konkret untuk mencegah kejadian serupa.
Ia mengingatkan, KMP Batumandi merupakan bagian dari armada yang mendukung konektivitas Pulau Jawa dan Sumatra melalui Selat Sunda. Kapal jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro) tersebut melayani angkutan penumpang dan kendaraan pada lintasan Merak–Bakauheni.
Dalam bahan keterangan KPK-PN, kapal tersebut disebut dibangun dengan nilai investasi sekitar Rp161 miliar bersama kapal sejenis, KMP Legundi dan KMP Sebuku. Kapal mulai dibangun sekitar 2013 dan beroperasi pada 2015. Data mengenai nilai investasi, spesifikasi, dan kapasitas kapal perlu dicocokkan dengan dokumen resmi sebelum dipublikasikan.
Menurut Maruly, insiden ini tidak boleh langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya kelemahan desain atau kualitas pembangunan kapal. Penilaian teknis harus menunggu hasil pemeriksaan yang kompeten.
“ASDP patut mendapatkan apresiasi atas langkah-langkah tanggap darurat yang telah dilakukan sebagaimana informasi yang tersedia. Namun, apresiasi dan evaluasi harus berjalan beriringan. Kita perlu menghargai upaya penyelamatan, mendukung investigasi yang objektif, dan memastikan setiap rekomendasi keselamatan benar-benar diterapkan,” tutupnya.
Maruly menegaskan, keselamatan pelayaran merupakan tanggung jawab bersama operator kapal, awak kapal, regulator, otoritas pelabuhan, tim penyelamat, dan seluruh pemangku kepentingan. Penanganan yang terukur, transparan, dan berorientasi pada keselamatan diperlukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan penyeberangan nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya