Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
BRI Salurkan Kredit UMKM 1.235 Triliun, Tumbuh 8 Persen
Minggu, 25 Oktober 2026 06:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kredit Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencapai Rp1.235,4 triliun hingga akhir triwulan II-2026 atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan. Capaian ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan kredit UMKM secara nasional yang hanya 2,32 persen per Agustus 2026.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, penguatan UMKM menjadi bagian dari kontribusi perseroan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Langkah tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Hery menyebut, dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi momentum bagi BRI untuk semakin menyelaraskan strategi bisnis dengan prioritas pembangunan nasional, khususnya dalam memperkuat fondasi ekonomi masyarakat.
“Khususnya dalam memperkuat fondasi ekonomi masyarakat,” ujar Hery dalam keterangan resmi, Kamis (22/10/2026).
Menurut Hery, penguatan ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan pembangunan merupakan prioritas Pemerintah yang berkaitan erat dengan karakteristik bisnis dan mandat BRI.
Karena itu, perseroan memperluas akses pembiayaan produktif, meningkatkan kapasitas usaha masyarakat, serta mendorong pemerataan ekonomi hingga tingkat desa.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah pertanian. Hingga akhir triwulan II-2026, pembiayaan BRI ke sektor tersebut mencapai Rp239,46 triliun.
Baca juga : Hujan Mulai Guyur Bekasi dan Tangsel
Langkah ini sejalan dengan Asta Cita ke-2, khususnya dalam mendukung swasembada pangan nasional melalui peningkatan produktivitas pertanian dan kapasitas petani.
Dukungan terhadap sektor produktif juga tercermin dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga akhir September 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp167,01 triliun kepada 2,7 juta debitur, setara 87,9 persen dari total alokasi tahun ini sebesar Rp190 triliun.
Dari total penyaluran tersebut, Rp114,76 triliun atau 68,71 persen diarahkan ke sektor produksi. Sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 42,82 persen.
“KUR menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung agenda Pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan dan membangun ekonomi nasional dari tingkat akar rumput,” kata Hery.
Selain menyalurkan pembiayaan, BRI memperkuat pemberdayaan usaha mikro melalui Holding Ultra Mikro bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian.
Hingga triwulan II-2026, ekosistem tersebut melayani 33,8 juta debitur aktif dan mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan mikro. Melalui sinergi tersebut, sekitar 2,3 juta debitur telah naik kelas atau memperoleh akses layanan dan pembiayaan yang lebih luas.
Pengembangan kapasitas UMKM juga dilakukan melalui platform linkumkm by BRI yang telah dimanfaatkan lebih dari 17,6 juta pelaku UMKM.
Baca juga : Kimi Antonelli Selangkah Lagi Jadi Juara F1 Termuda
Sementara itu, 54 Rumah BUMN telah menyelenggarakan lebih dari 19.525 pelatihan dengan sekitar 654.351 UMKM terdaftar.
Kredit UMKM Nasional Tumbuh Terbatas
Di tengah pertumbuhan kredit BRI, penyaluran kredit UMKM secara nasional justru tumbuh terbatas.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, kredit UMKM tumbuh 2,32 persen secara tahunan menjadi Rp1.529,38 triliun per Agustus 2026. Pertumbuhan ini tertinggal dari kredit perbankan yang mencapai 13,65 persen dan kredit korporasi sebesar 22,8 persen pada periode yang sama.
Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorinny mengatakan, perlambatan kredit UMKM pada 2026 dipicu melemahnya daya beli masyarakat, peningkatan rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL), serta sikap hati-hati perbankan.
Menurut dia, proses perbankan yang kaku dan kekhawatiran kehilangan agunan membuat sebagian pelaku usaha beralih ke alternatif pembiayaan, seperti layanan pinjaman daring berbasis peer-to-peer (P2P) lending.
Hermawati juga menyoroti persaingan dengan produk impor yang dijual lebih murah dibandingkan produk dalam negeri. Kondisi tersebut menekan pasar pelaku usaha kecil sekaligus membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengambil pembiayaan eksternal.
“Market pelaku UMKM harus bersaing dengan barang impor yang harganya jauh lebih murah dibandingkan produk dalam negeri milik UMKM,” kata Hermawati kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Banyak Anggota Kabinet Masuk RS
Hermawati menambahkan, sebagian pelaku UMKM lebih memilih menggunakan dana pribadi atau financial technology (fintech) dibandingkan pembiayaan perbankan karena khawatir menghadapi risiko ketika gagal membayar pinjaman.
“Barang impor yang bersaing dengan UMKM terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga menjadi tantangan terbesar bagi industri kecil,” ucapnya.
Senada, Ekonom Senior Prasasti Center Piter Abdullah menilai pertumbuhan kredit UMKM masih rendah, padahal sektor tersebut menjadi salah satu penopang perekonomian Indonesia.
Piter melihat, perbankan semakin selektif menyalurkan kredit dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan domestik serta risiko kredit macet.
Karena itu, bank besar yang memiliki likuiditas memadai pun cenderung berhati-hati. Namun, bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tidak sepenuhnya mengalami kondisi serupa karena didorong pemerintah untuk menyalurkan kredit.
“Secara nasional, kredit perbankan akan bertumbuh kencang lagi jika ada sentimen positif yang dapat mendorong tingkat investasi dan konsumsi di masyarakat,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya