Dark/Light Mode

Isu Karhutla Akan Dibawa Ke KTT ASEAN

Semangatnya Cari Solusi, Bukan Saling Menyalahkan

Sabtu, 24 Oktober 2026 07:40 WIB
Petugas berupaya memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Foto: Dok. Kemenhut)
Petugas berupaya memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Foto: Dok. Kemenhut)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia berpotensi menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-49 ASEAN di Manila, Filipina, November mendatang. Indonesia diminta tidak sekadar merespons kritik negara tetangga, tetapi mengambil inisiatif untuk memimpin penyelesaian masalah lintas batas tersebut dengan semangat mencari solusi, bukan saling menyalahkan.

Dukungan untuk membawa isu Karhutla di panggung KTT ASEAN disuarakan sejumlah wakil rakyat di Senayan.

Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan menilai, Indonesia perlu membawa data, agenda evaluasi, dan peta jalan penanganan karhutla ke forum tertinggi ASEAN.

“Indonesia yang harus mengambil inisiatif dan kepemimpinan dengan membawa data, agenda evaluasi, dan roadmap perbaikan bersama di KTT, agar Indonesia yang pegang kendali solusi regional ini,” kata Daniel, yang akrab disapa DJ, kepada Rakyat Merdeka, Jumat (23/10/2026).

Menurut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, penanganan karhutla dan kabut asap lintas batas merupakan kepentingan bersama negara-negara di kawasan. Kerja sama tersebut telah memiliki landasan melalui ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) dan Piagam ASEAN.

Baca juga : Pengembangan TPPU, KPK Sita BMW Listrik Milik Suami Bupati Pekalongan

Karena itu, Daniel menilai, inisiatif membawa persoalan ini ke KTT ASEAN justru dapat menunjukkan kepemimpinan dan kekuatan diplomasi Indonesia. Forum tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi, kesiapsiagaan, serta pertukaran pengalaman antarnegara dalam mencegah dan menangani karhutla.

“Karena dampak karhutla ini dirasakan lintas negara, penanganannya tanggung jawab dan perlu dukungan bersama. Supaya kejadian serupa tidak berulang dan tidak merugikan Indonesia maupun negara tetangga,” ujarnya.

Meski demikian, Daniel mengingatkan agar kerja sama internasional tidak mengabaikan kedaulatan nasional. Penanganan karhutla di wilayah Indonesia, kata dia, tetap menjadi tanggung jawab pemerintah Indonesia.

“Forum KTT ASEAN ke-49 harus menjadi wadah kerja sama setara dan saling menghormati, bukan alat untuk menekan atau mengatur kebijakan dalam negeri Indonesia,” tegasnya.

Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan menilai, rencana pembahasan kabut asap lintas batas dalam KTT ASEAN ke-49 dapat menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama regional. Menurutnya, negara-negara ASEAN sebenarnya telah memiliki kerangka kerja sama melalui AATHP.

Baca juga : Serahkan Bintang Tanda Jasa Kepada Rektor UIII

Karena itu, forum tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi pelaksanaan kesepakatan, sekaligus memperbaiki mekanisme penanganan karhutla. “Terutama dalam sistem peringatan dini, pertukaran data titik panas, operasi pemadaman bersama, serta pengawasan terhadap perusahaan yang kegiatan usahanya berpotensi menyebabkan kebakaran,” tuturnya.

Rosihan menekankan, tanggung jawab korporasi harus ditegakkan secara adil dan transparan, termasuk jika persoalan tersebut melibatkan investasi lintas negara.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan menyatakan pemerintahnya akan mengangkat isu kabut asap lintas batas dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN menjelang KTT ke-49 di Manila, November 2026. Malaysia ingin mendorong mekanisme regional yang dinilai lebih efektif untuk menangani persoalan kabut asap.

“Kami sudah memiliki mekanisme ASEAN untuk bencana alam, tetapi kabut asap tidak termasuk atau diklasifikasikan sebagai bencana alam. Jadi, ini akan menjadi salah satu isu yang akan saya angkat dalam pertemuan dengan rekan-rekan sejawat saya,” kata Hasan di Kompleks Bunga Raya, Sepang, Malaysia, Senin (12/10/2026).

Meski mengangkat persoalan tersebut, Hasan mengakui pemerintah Indonesia sedang berupaya maksimal memadamkan kebakaran. Malaysia berharap langkah penanganan dapat semakin efektif agar dampak asap lintas batas tidak terus berulang.

Baca juga : Dimas P. Wardhana: Masih Banyak PR Yang Butuh Perhatian Serius

Diketahui, KTT ASEAN ke-49 dijadwalkan berlangsung pada 16–18 November 2026 di Metro Manila, Filipina. Pertemuan tersebut akan membahas berbagai agenda regional, termasuk kerja sama ekonomi, transformasi digital, penguatan UMKM, dan koordinasi pendanaan.

Menanggapi rencana Malaysia membawa isu kabut asap ke forum ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI menegaskan pemerintah Indonesia serius menangani karhutla.

“Pemerintah Indonesia sangat serius dalam menangani hal ini,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Vahd Nabyl Mulachela dalam konferensi pers, Kamis (22/10/2026).

Vahd memahami kekhawatiran negara-negara tetangga terhadap dampak kabut asap. Namun, dia menegaskan ASEAN sebenarnya telah memiliki mekanisme untuk membahas persoalan tersebut dan mekanisme itu sudah berjalan.

Indonesia, lanjutnya, mengedepankan semangat kerja sama dan dialog. Pemerintah juga terbuka mempertimbangkan bantuan dari negara mitra sesuai kebutuhan serta kondisi di lapangan. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.