Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Berpacu dengan Waktu, Inovasi Pertamina Menjaga Kedaulatan Energi
Kamis, 29 Oktober 2026 09:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketika konsumsi minyak melampaui produksi domestik, Pertamina mengandalkan inovasi teknologi, optimalisasi sumur eksisting, dan percepatan eksplorasi untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia. Indonesia sedang berpacu dengan waktu.
Kebutuhan minyak masih tinggi, sementara produksi domestik menghadapi tantangan penurunan alamiah di berbagai lapangan.
Ketika impor menjadi penyangga kebutuhan, setiap upaya meningkatkan produksi dari sumur yang sudah beroperasi dan menemukan cadangan baru menjadi semakin berarti bagi ketahanan energi nasional.
Persoalannya bukan sekadar menemukan minyak di dalam perut bumi. Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) juga dituntut mampu mengangkat minyak yang semakin sulit diproduksikan, memperpanjang usia produktif lapangan, dan menerapkan teknologi yang tepat agar sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Di tengah tantangan tersebut, inovasi bukan lagi sekadar pilihan teknologi. Inovasi menjadi salah satu instrumen untuk mempersempit kesenjangan antara kebutuhan dan produksi energi nasional.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai Indonesia telah menghadapi tantangan serius dalam memenuhi kebutuhan minyak sejak menjadi pengimpor neto minyak (net oil importer) pada 2002–2003.
"Hari ini konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) kita sudah mencapai 1,6 juta hingga 1,8 juta barel per hari (bph), sedangkan produksi atau lifting minyak mentah nasional hanya berkisar 550.000 hingga 600.000 bph. Tanpa penemuan cadangan raksasa baru, laju penurunan alami (decline rate) produksi migas yang mencapai 20 hingga 23 persen per tahun akan memaksa keran impor terbuka makin lebar," ujar Komaidi di Jakarta, belum lama ini.
Kesenjangan antara konsumsi dan produksi tersebut menggambarkan besarnya tantangan yang harus dihadapi Indonesia. Ketergantungan pada impor bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan bakar, melainkan juga membuat perekonomian rentan terhadap gejolak harga energi global dan kebutuhan devisa.
Sementara itu, pengembangan lapangan migas membutuhkan waktu dan investasi besar.
Komaidi mengingatkan, penemuan cadangan baru dapat memerlukan waktu sekitar empat hingga lima tahun sebelum produksinya mengalir. Artinya, upaya menjaga pasokan tidak bisa hanya mengandalkan eksplorasi.
Petugas Pertamina melakukan koordinasi di atas kapal pendukung kegiatan lepas pantai dengan mengutamakan aspek keselamatan dan keandalan operasional. Dukungan layanan maritim dan penerapan standar keselamatan menjadi bagian penting dalam menunjang aktivitas industri hulu minyak dan gas bumi (migas). (Foto: Ilustrasi aktivitas operasional lepas pantai-Dok. Pertamina)
Optimalisasi lapangan yang telah berproduksi perlu berjalan beriringan dengan pencarian cadangan baru. Di sinilah teknologi diuji: bukan semata-mata dari kecanggihannya, melainkan dari kemampuannya menjawab persoalan produksi di lapangan.
Mengangkat Potensi dari Lapangan Matang
Salah satu perusahaan yang mengambil peran dalam upaya tersebut adalah PT Elnusa Tbk (Elnusa), penyedia jasa energi terintegrasi dalam Subholding Upstream Pertamina.
Melalui layanan dan teknologi hulu migas, Elnusa mendukung upaya peningkatan produksi sekaligus optimalisasi aset yang telah beroperasi. Memasuki 2026, Elnusa mengusung tema strategi Discover Technology and Innovation Age.
Strategi ini diarahkan untuk memperkuat kapabilitas teknologi perusahaan dan menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan operasional.
Direktur Utama PT Elnusa Tbk Litta Ariesca menjelaskan, pengembangan inovasi dilakukan melalui kolaborasi dalam ekosistem Pertamina Group.
Fungsi Technology Innovation and Infrastructure PT Pertamina (Persero) disinergikan dengan Upstream Technology PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Kolaborasi tersebut penting karena setiap lapangan memiliki karakteristik berbeda. Kondisi geologi, usia sumur, tekanan reservoir, dan fasilitas produksi membutuhkan pendekatan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
"Elnusa berkomitmen menghadirkan solusi yang benar-benar dibutuhkan di lapangan untuk meningkatkan produksi migas, baik melalui penerapan teknologi mutakhir, penyesuaian peralatan (unit adjustment), maupun pengembangan teknologi tepat guna (fit-for-purpose technology)," tegas Litta pada Kamis (22/10/2026).
Pendekatan tersebut menempatkan inovasi sebagai instrumen untuk menyelesaikan persoalan operasional.
Teknologi tidak cukup hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga harus mampu meningkatkan produktivitas, menjaga keandalan fasilitas, dan memberikan manfaat yang dapat diukur.
Salah satu penerapannya adalah teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) berbasis polymer flooding di Lapangan Rama, yang dikelola Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES).
Pada 8 Juli 2026, injeksi polimer perdana dimulai dalam proyek percontohan tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan teknologi peningkatan perolehan minyak di wilayah lepas pantai Indonesia.
Teknologi CEOR memanfaatkan bahan kimia, dalam hal ini polimer, untuk membantu memperbaiki pergerakan minyak di dalam reservoir menuju sumur produksi.
Pendekatan tersebut dapat digunakan pada lapangan matang yang masih menyimpan minyak, tetapi semakin sulit diproduksikan dengan metode konvensional.
Petugas melakukan pengukuran menggunakan alat survei di kawasan vegetasi untuk mendukung kegiatan eksplorasi migas. Survei seismik membantu memetakan struktur geologi bawah permukaan sebagai dasar identifikasi potensi cadangan minyak dan gas bumi. (Foto: Ilustrasi survei lapangan-Dok. Pertamina)
Bagi industri hulu migas, potensi ini penting. Ketika pengembangan lapangan baru membutuhkan waktu dan investasi besar, peningkatan perolehan minyak dari lapangan yang telah beroperasi menjadi salah satu pilihan untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.
Namun, dimulainya injeksi polimer belum dengan sendirinya membuktikan peningkatan produksi. Keberhasilan teknologi tersebut perlu dinilai melalui hasil pengujian, perubahan produksi dibandingkan kondisi awal, keekonomian proyek, serta keberlanjutan kinerjanya.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Energi dan Keandalan Layanan Publik
Dengan demikian, ukuran keberhasilan inovasi bukan hanya ketika teknologi mulai diterapkan, melainkan ketika manfaatnya dapat dibuktikan secara teknis dan ekonomis.
Membuka Peluang dari Sumur Eksisting
Selain mengoptimalkan lapangan matang, inovasi juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan produksi sumur yang telah tersedia.
Contohnya adalah penerapan teknologi velocity string pada kegiatan dual completion Sumur BNG-68 di Adera Field, wilayah kerja Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4.
Teknologi velocity string menggunakan pipa berdiameter lebih kecil untuk meningkatkan kecepatan aliran fluida, terutama gas, pada kondisi sumur tertentu.
Sementara itu, dual completion memungkinkan dua lapisan reservoir diproduksikan melalui satu sumur dengan konfigurasi yang dirancang sesuai kondisi teknis.
Pada 22 Januari 2026, Elnusa melaporkan penerapan kembali teknologi tersebut di Sumur BNG-68. Produksi yang dilaporkan dari lapisan L1 mencapai 281 barel minyak per hari (BOPD) dan 0,32 juta kaki kubik standar gas per hari (MMSCFD).
Adapun lapisan N2 menghasilkan 123 BOPD dan 3,31 MMSCFD. Angka tersebut menunjukkan produksi yang dilaporkan dari masing-masing lapisan.
Namun, tanpa data pembanding sebelum penerapan teknologi dan informasi mengenai kondisi operasi, besarnya tambahan produksi yang secara khusus dihasilkan oleh teknologi tersebut belum dapat dipastikan.
Meski demikian, penerapan teknologi ini memperlihatkan upaya mengoptimalkan potensi sumur yang sudah tersedia. Pendekatan tersebut melengkapi strategi eksplorasi lapangan baru dengan memaksimalkan aset eksisting.
Salah satu wilayah kerja panas bumi yang dikelola Pertamina melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (Foto: Dok. Pertamina)
Dalam industri migas, keputusan penerapan teknologi harus mempertimbangkan karakteristik reservoir, tekanan, komposisi fluida, kondisi fasilitas, dan risiko operasi.
Teknologi yang memberikan hasil baik pada satu sumur belum tentu menghasilkan kinerja serupa di sumur lain. Karena itu, kemampuan menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan lapangan menjadi bagian penting dari inovasi.
Tantangannya bukan sekadar menemukan metode baru, melainkan memastikan metode tersebut tepat guna, aman, dan layak secara ekonomi.
Mempercepat Pencarian Cadangan Baru
Optimalisasi sumur eksisting tetap memiliki batas. Tanpa penemuan cadangan baru, produksi dari lapangan matang pada akhirnya menghadapi tantangan penurunan alamiah reservoir. Karena itu, upaya mempertahankan produksi harus berjalan beriringan dengan eksplorasi.
Salah satu teknologi yang mendukung tahap awal eksplorasi adalah survei seismik, yang membantu menggambarkan struktur geologi bawah permukaan melalui analisis gelombang seismik.
Pada Juli 2026, Elnusa menuntaskan survei seismik tiga dimensi (3D) Kandawulo di Selat Makassar, Sulawesi Barat. Survei yang mencakup area 2.500 kilometer persegi tersebut selesai dalam 56 hari, atau 20 hari lebih cepat dari target 76 hari. Kegiatan itu juga mencatat 99.120 jam kerja aman tanpa kecelakaan.
Penyelesaian survei lebih cepat berpotensi meningkatkan efisiensi waktu pelaksanaan pekerjaan dan mempercepat ketersediaan data untuk evaluasi berikutnya.
Data seismik menjadi salah satu dasar bagi perusahaan untuk memahami struktur geologi bawah permukaan dan mengidentifikasi prospek eksplorasi. Meski demikian, survei yang selesai lebih cepat tidak berarti cadangan minyak baru otomatis ditemukan.
Keberhasilan eksplorasi tetap bergantung pada interpretasi data, pengeboran, serta pembuktian keberadaan hidrokarbon secara teknis dan ekonomis.
Dari tiga contoh tersebut, terlihat jalur inovasi yang saling melengkapi. CEOR diarahkan untuk meningkatkan perolehan minyak dari lapangan matang, velocity string mendukung optimalisasi sumur eksisting, sedangkan survei seismik membantu menyediakan data untuk pencarian prospek baru.
Ketiganya memperlihatkan bahwa inovasi hulu migas tidak selalu berbentuk penemuan teknologi yang sepenuhnya baru. Penyesuaian teknologi, penerapan metode yang sesuai dengan karakteristik lapangan, dan peningkatan efisiensi pekerjaan juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga pasokan.
Memastikan Inovasi Layak Diterapkan
Teknologi yang menjanjikan belum tentu dapat langsung digunakan dalam skala komersial. Industri migas membutuhkan investasi besar dan menghadapi risiko operasional tinggi sehingga setiap inovasi harus melewati pengujian teknis dan penilaian keekonomian.
SVP Technology Innovation and Implementation PT Pertamina (Persero) Hana Timoti menjelaskan, pengembangan teknologi di Pertamina mengacu pada standar global, antara lain Technology Readiness Level (TRL) yang diadopsi dari standar National Aeronautics and Space Administration (NASA).
Selain kesiapan teknologi, Pertamina menilai kesiapan komersial melalui Commercial Readiness Index. Penilaian ini diperlukan agar teknologi tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga memiliki prospek penerapan yang layak bagi perusahaan.
"Kami memadukan penerapan teknologi dengan sisi komersial agar inovasi yang dilakukan, mulai dari tahap teknis hingga eksekusi dapat berjalan optimal, terutama dalam mendukung afiliasi dan subholding di Pertamina Group seperti sektor hulu," ujar Hana Timoti belum lama ini.
Prinsip tersebut menjadi penting karena keberhasilan penelitian di laboratorium tidak otomatis menjamin hasil serupa di lapangan. Kondisi sumur, karakteristik reservoir, fasilitas yang tersedia, dan biaya penerapan dapat memengaruhi hasil akhir.
Diperlukan pengujian, penyesuaian, dan evaluasi untuk memastikan manfaat teknologi sebanding dengan biaya serta risiko penerapannya.
Baca juga : ASCOPE ke-51 Sepakati Penguatan Arsitektur Energi ASEAN Untuk Generasi Mendatang
Dalam konteks ini, sinergi antara Elnusa dan ekosistem teknologi Pertamina menjadi penghubung antara kebutuhan operasional dan pengembangan solusi.
Masalah yang ditemukan di lapangan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi, sedangkan hasil riset dapat diuji untuk menjawab persoalan produksi yang dihadapi perusahaan.
Keterhubungan tersebut menentukan apakah inovasi berhenti pada tahap penelitian atau berkembang menjadi solusi operasional yang memberikan nilai tambah.
Menjaga Pasokan Sambil Menyiapkan Transisi Energi
Tantangan energi Indonesia tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi minyak. Perubahan lanskap energi global juga menuntut perusahaan energi menyiapkan bisnis yang lebih rendah karbon.
Hana menjelaskan, Pertamina menerapkan strategi ganda (dual strategy), yakni mempertahankan bisnis inti minyak dan gas bumi sekaligus mempersiapkan pengembangan bisnis rendah karbon (low-carbon business).
Pendekatan tersebut mempertimbangkan kebutuhan energi Indonesia yang masih besar, sementara pengembangan energi alternatif memerlukan kesiapan teknologi, infrastruktur, investasi, dan pasar.
Hana memaparkan, pengembangan lapangan migas baru atau greenfield membutuhkan waktu setidaknya lima tahun sebelum dapat berproduksi.
Karena itu, upaya meningkatkan pasokan dalam jangka pendek dan menengah juga perlu dilakukan melalui optimalisasi sumur eksisting.
Salah satu pendekatannya adalah Enhanced Oil Recovery (EOR), yaitu teknologi peningkatan perolehan minyak yang membantu mengeluarkan minyak tambahan dari reservoir.
CEOR merupakan salah satu pendekatan EOR yang memanfaatkan bahan kimia untuk memperbaiki proses pengurasan minyak sesuai karakteristik reservoir dan kelayakan penerapannya.
Diolah Rakyat Merdeka
Di luar peningkatan produksi migas, substitusi energi melalui bahan bakar nabati juga menjadi bagian dari upaya mengurangi tekanan kebutuhan minyak.
Pengembangan biodiesel dan bioetanol dapat menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar berbasis minyak bumi, dengan tetap memperhatikan kesiapan pasokan bahan baku, infrastruktur, dan keekonomian.
"Kita sering lupa bahwa meskipun memproduksi minyak, secara mayoritas kita adalah net importir, sehingga energi menjadi mahal. Ke depannya, strategi kita diarahkan untuk meredam krisis energi melalui substitusi energi dan efisiensi," tambahnya.
Strategi ganda tersebut menunjukkan bahwa transisi energi perlu mempertimbangkan keberlanjutan pasokan selama proses peralihan berlangsung.
Pada saat yang sama, efisiensi dan pengembangan energi rendah karbon perlu diperkuat untuk mendukung transformasi sistem energi.
Inovasi hulu migas dan pengembangan energi alternatif dengan demikian dapat berjalan beriringan, dengan tujuan menjaga pasokan sekaligus mempersiapkan sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Kolaborasi Menghubungkan Riset dan Kebutuhan Lapangan
Teknologi yang dikembangkan perusahaan tidak akan memberikan dampak maksimal jika berjalan sendiri. Penerapan inovasi membutuhkan dukungan riset, kepastian regulasi, kesiapan industri, dan pemahaman masyarakat.
Hana menekankan pentingnya pendekatan Pentalateral Collaboration, yakni kolaborasi lima unsur yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, media, dan masyarakat.
Dalam model ini, akademisi dan lembaga riset, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dapat menghasilkan pengetahuan dan teknologi. Industri berperan menguji, menyesuaikan, dan menerapkan hasil riset untuk menjawab kebutuhan operasional.
Hana menjelaskan bahwa hasil riset akademisi dan lembaga penelitian umumnya berada pada TRL level 4–5. Karena itu, diperlukan jembatan kolaborasi agar pengembangan tersebut dapat bergerak menuju tahap penerapan yang lebih matang.
Dukungan pemerintah melalui regulasi, peran industri sebagai pengguna teknologi, serta keterlibatan media dan masyarakat dalam membangun pemahaman publik turut menentukan keberhasilan proses tersebut.
Tanpa kolaborasi, hasil penelitian berisiko berhenti di ruang pengembangan. Sebaliknya, hubungan yang erat antara peneliti dan industri memungkinkan persoalan di lapangan menjadi masukan bagi riset berikutnya.
Proses tersebut membuka peluang penyempurnaan teknologi agar semakin sesuai dengan kebutuhan nasional. Bagi media, peran dalam ekosistem ini bukan sekadar menyampaikan pencapaian perusahaan.
Jurnalisme energi juga perlu menjelaskan tantangan produksi, risiko ketergantungan impor, manfaat inovasi, serta konsekuensi ekonomi dan lingkungan dari pilihan kebijakan energi.
Litta menilai, komunikasi yang jernih menjadi bagian penting dalam mendampingi masyarakat memahami perubahan sektor energi.
"Mari kita terus melangkah beriringan sebagai kawan seperjalanan, menghadirkan jurnalisme berkualitas yang menemani pembaca memahami dinamika energi negeri ini dari sudut pandang yang jernih," tuturnya.
Ilustrasi aktivitas produksi minyak lepas pantai untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.
Ketahanan Energi dan Stabilitas Ekonomi
Baca juga : Pertamina Foundation Cetak 362 Kelompok Pemimpin Muda Lewat PFmuda
Urgensi inovasi hulu migas tidak berhenti pada persoalan pasokan bahan bakar. Dampaknya juga berkaitan dengan stabilitas ekonomi nasional, mulai dari kebutuhan devisa hingga ruang fiskal pemerintah.
Komaidi menjelaskan, peningkatan impor energi berpotensi menambah tekanan terhadap devisa, memperlebar defisit transaksi berjalan (current account deficit), dan menekan nilai tukar rupiah.
Tekanan tersebut dapat memengaruhi ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan kondisi pembiayaan dunia usaha.
"Sektor konsumsi rumah tangga dan investasi menyumbang lebih dari 80 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Ketika PDB tertekan, penerimaan pajak yang menopang sekitar 85 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipastikan ikut terdampak. Artinya, ketahanan energi domestik adalah pondasi utama stabilitas APBN dan PDB kita," jelas Komaidi.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa ketahanan energi bukan semata-mata urusan perusahaan migas atau sektor industri.
Kemampuan memenuhi kebutuhan energi domestik turut memengaruhi daya tahan perekonomian dalam menghadapi gejolak eksternal.
Karena itu, penguatan teknologi dan peningkatan produksi perlu berjalan bersama dengan perbaikan iklim investasi.
Komaidi menilai kepastian hukum menjadi salah satu unsur penting untuk mendukung keberlanjutan investasi hulu migas.
Ia menyoroti perlunya penyelesaian Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) dalam revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
Kepastian regulasi diperlukan, agar pelaku usaha memiliki kejelasan dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang.
Dalam industri yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan lapangan, ketidakpastian kebijakan dapat memengaruhi keputusan eksplorasi.
Sebaliknya, regulasi yang jelas dan konsisten dapat mendukung investasi, pengembangan teknologi, dan peningkatan produksi. Namun, inovasi teknologi tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian solusi.
Keberhasilan menjaga ketahanan energi juga bergantung pada ketersediaan cadangan, keekonomian proyek, efisiensi konsumsi, pengembangan energi alternatif, dan kesinambungan investasi.
Mengubah Inovasi Menjadi Nilai Tambah
Perjalanan menuju ketahanan energi tidak dapat diselesaikan oleh satu teknologi atau satu perusahaan.
Tantangannya membutuhkan upaya yang saling terhubung: menemukan cadangan baru, meningkatkan perolehan minyak dari sumur eksisting, memperkuat layanan teknologi hulu, mengembangkan substitusi energi, dan memastikan investasi berlangsung dalam iklim regulasi yang mendukung.
Dalam ekosistem tersebut, Elnusa menghadirkan dukungan teknis di lapangan, sementara Pertamina memperkuat pengembangan teknologi melalui integrasi kebutuhan operasional dan pertimbangan komersial.
Kolaborasi dengan akademisi, pemerintah, media, dan masyarakat melengkapi upaya agar inovasi dapat diterapkan dan memberikan manfaat lebih luas.
Pekerjaan berikutnya adalah memastikan setiap teknologi menghasilkan dampak yang terukur.
Keberhasilan inovasi perlu dinilai dari kemampuannya meningkatkan produksi, memperbaiki efisiensi, mengurangi risiko operasi, dan mendukung transformasi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, ketahanan energi bukan berarti Indonesia harus memenuhi seluruh kebutuhannya dalam sekejap.
Ketahanan dibangun melalui kemampuan memperkuat pasokan domestik, mengurangi kerentanan terhadap gejolak global, dan mengambil keputusan energi berdasarkan kebutuhan jangka panjang.
Di tengah waktu yang terus berjalan, inovasi menjadi ikhtiar untuk mempersempit jarak antara kebutuhan dan kemampuan produksi nasional.
Bukan hanya tentang teknologi yang lebih canggih, melainkan tentang bagaimana riset berubah menjadi solusi, kolaborasi melahirkan terobosan, dan investasi menghasilkan nilai tambah bagi negeri.
Sebab, menjaga energi tetap menyala bukan sekadar urusan menghasilkan lebih banyak minyak dan gas. Lebih dari itu, Indonesia perlu memastikan setiap sumber daya dikelola secara efektif, setiap peluang inovasi dimanfaatkan, dan setiap langkah transisi membawa bangsa semakin dekat pada ketahanan energi yang tangguh. (FAZRY)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya