Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Dari Karawang ke Sigi: Listrik Menyalakan Asa dan Ekonomi Desa
- Maung Bandung Siap Salip Macan Kemayoran
- Pramono Gelar Rapat di 44 Kecamatan, Temui Warga Dan Serap Aspirasi dari Bawah
- Korea Open 2026 Digelar, 12 Wakil Indonesia Siap Bersaing di Yeosu
- Manchester United Vs AS Roma, Setan Merah Siaga Merah
Pemerintah-APKI Perkuat Daya Saing Industri Pulp & Kertas
Selasa, 3 November 2026 19:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah bersama pelaku industri memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan daya saing industri pulp dan kertas nasional di tengah dinamika pasar global, termasuk menghadapi tantangan ketersediaan bahan baku, energi, dan persaingan perdagangan internasional.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha diperlukan untuk mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi industri sekaligus mendorong peningkatan produktivitas.
"Kami melihat utilisasi industri agro sebesar 60,78 persen pada triwulan I 2026 masih memiliki ruang untuk ditingkatkan hingga 80 persen atau lebih," kata Sarmuji saat membuka Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) 2026 di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan optimisme terhadap pertumbuhan industri nasional didukung oleh Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang mencapai 54,0 pada Oktober 2026, tertinggi dalam 31 bulan terakhir. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat sebesar 53,77.
"Mari kita manfaatkan sinyal positif ini, tahap ekspansi ini kita jaga sama-sama, kita manfaatkan momentum ini supaya kita bisa tumbuh lebih tinggi lagi," ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, produksi pulp nasional pada 2025 mencapai 11,69 juta ton dengan kapasitas terpasang 14,48 juta ton per tahun. Adapun produksi kertas mencapai 18,65 juta ton dengan kapasitas terpasang 25,37 juta ton per tahun.
Baca juga : Menperin: Industri RI Sedang Bagus, Jangan Sia-siakan Momentum
Dari sisi perdagangan, industri pulp dan kertas konsisten mencatatkan surplus sepanjang 2021–2025, dengan nilai ekspor mencapai sekitar 8,2 miliar dolar AS pada 2025.
Kinerja ekspor tersebut berlanjut pada semester I 2026, dengan nilai ekspor pulp sebesar 1,68 miliar dolar AS dan kertas sebesar 2,35 miliar dolar AS.
Sektor tersebut juga menyerap sekitar 290 ribu tenaga kerja langsung dan 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung. Industri kertas dan percetakan turut memberikan kontribusi sebesar 3,73 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada 2025.
Sarmuji mengatakan peluang pengembangan industri masih terbuka melalui penguatan hilirisasi produk kemasan, tisu, hingga serat rayon untuk kebutuhan industri tekstil.

Selain itu, pemerintah mendorong perbaikan rantai pasok kertas daur ulang, penerapan ekonomi sirkular, dan dekarbonisasi. Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan pemasok bahan baku terhadap peraturan untuk mencegah kerusakan hutan serta kebakaran hutan dan lahan.
Sementara itu, Ketua Umum APKI Suhendra Wiriadinata mengatakan industri pulp dan kertas Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global yang perlu dipertahankan melalui peningkatan daya saing.
Baca juga : Menperin: Investasi Baterai Rp 9 T Di Batam Buah Kunjungan Prabowo Ke AS
Menurut dia, daya saing industri saat ini tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga efisiensi, teknologi, inovasi, kualitas sumber daya manusia, serta kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah sesuai kebutuhan pasar.
Suhendra juga menyoroti pentingnya kepastian kebijakan dan komunikasi terbuka antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menghadapi tantangan ketersediaan energi dan bahan baku, perdagangan internasional, akses pasar, serta tuntutan keberlanjutan.
"APKI senantiasa siap menjadi mitra pemerintah. Bagi kami, kemajuan industri membutuhkan kebijakan yang memberikan kepastian, dunia usaha yang terus berinovasi, serta komunikasi yang terbuka agar tantangan yang dihadapi industri dapat kita pahami dan diselesaikan bersama," katanya.
Dalam rangkaian kongres yang berlangsung pada 3–4 November 2026 tersebut, APKI juga menggelar diskusi bertajuk "Navigating Global Market Dynamics for Stronger Pulp and Paper Industry Growth".
Dalam diskusi tersebut, Asia Pulp Economist Fastmarkets RISI Minnie Kong menyoroti kondisi kelebihan pasokan di pasar global, terutama untuk produk kertas kemasan serta kertas cetak dan tulis. Pasar tisu juga menghadapi tekanan serupa seiring penambahan kapasitas produksi.
Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Kiki Verico memaparkan dinamika ekonomi global, termasuk perkembangan geopolitik, geoekonomi, dan perdagangan internasional, serta pentingnya reformasi struktural untuk memperkuat daya saing industri nasional.
Baca juga : Daya Beli Melemah, Toyota Minta Stimulus Penjualan Mobil Baru
Sementara itu, Direktur Komite Hukum dan Kebijakan APKI Thomas Kosim menyampaikan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang diolah APKI, volume ekspor pulp Indonesia pada 2025 tumbuh 7,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Volume ekspor kertas juga meningkat 9,6 persen, sehingga Indonesia tetap menjadi eksportir neto untuk kedua produk tersebut.
Kongres APKI 2026 yang merupakan forum tertinggi organisasi dan diselenggarakan setiap lima tahun itu juga menjadi momentum evaluasi serta penentuan arah strategis asosiasi dalam lima tahun mendatang.
Melalui penguatan sinergi pemerintah dan dunia usaha, APKI berharap industri pulp dan kertas nasional dapat meningkatkan produktivitas, memperluas pasar ekspor, mengembangkan produk bernilai tambah, serta menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya