Dark/Light Mode

Pemerintah Siapkan 140 Ribu Peserta SMK Go Global Tahun Depan

Kamis, 15 Oktober 2026 20:40 WIB
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji (kiri) dan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin (kanan) memperlihatkan Nota Kesepahaman yang sudah ditandatangani bersama dalam rangka menyiapkan SDM industri nasional yang berdaya saing global di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta, Kamis (15/10/2026). (Foto: Kemenperin)
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji (kiri) dan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin (kanan) memperlihatkan Nota Kesepahaman yang sudah ditandatangani bersama dalam rangka menyiapkan SDM industri nasional yang berdaya saing global di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta, Kamis (15/10/2026). (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah menargetkan pelatihan sekitar 140 ribu peserta secara nasional pada 2027 melalui program SMK Go Global untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang kompeten dan mampu memenuhi kebutuhan pasar kerja internasional.

Program tersebut diperkuat melalui sinergi Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), terutama dalam penyediaan pelatihan vokasi, sertifikasi kompetensi, dan fasilitasi penempatan pekerja migran sesuai kebutuhan negara tujuan.

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin mengatakan, pelaksanaan program SMK Go Global membutuhkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga agar lulusan pendidikan vokasi memiliki keterampilan sesuai standar yang dibutuhkan pemberi kerja di luar negeri.

“Metodologi yang kita pakai mulai dari ada demand dulu, kemudian kompetensi yang dibutuhkan seperti apa, baru kita latih seperti apa,” kata Mukhtarudin di Balai Diklat Industri Jakarta, Kamis (15/10/2026).

Baca juga : Menperin Siapkan 11 Ribu Kapasitas Pelatihan Untuk Pekerja Migran

Menurut dia, pendekatan berbasis kebutuhan pasar diperlukan agar pelatihan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) lebih tepat sasaran. Dengan demikian, kompetensi yang diperoleh peserta dapat disesuaikan dengan kualifikasi pekerjaan di negara tujuan.

Mukhtarudin mengungkapkan, terdapat sekitar 291 ribu peluang kerja di luar negeri pada 2026 berdasarkan job orderyang telah terverifikasi. Namun, Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 25 persen dari peluang tersebut.

Kondisi itu menunjukkan masih terbukanya kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk mengisi kebutuhan pasar internasional. Karena itu, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas dan jumlah tenaga kerja terampil melalui penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan berbasis kompetensi.

Peluang kerja bagi pekerja migran Indonesia antara lain tersedia di sektor manufaktur, teknologi informasi, perhotelan, kesehatan, konstruksi, dan transportasi. Negara tujuan potensial mencakup Jepang, Korea Selatan, Jerman, Turki, serta sejumlah negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah.

Baca juga : Industri Ulos Jadi Peluang Perempuan Perkuat Kemandirian Ekonomi

Untuk mendukung program tersebut, KP2MI memperluas kerja sama dengan Kemenperin yang memiliki fasilitas pendidikan dan pelatihan vokasi industri. Kerja sama yang sebelumnya berfokus pada sektor manufaktur kini diperluas ke berbagai sektor sesuai kapasitas lembaga pendidikan dan pelatihan di bawah Kemenperin.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, Kemenperin memiliki ekosistem pendidikan vokasi yang mencakup balai diklat industri, politeknik, sekolah menengah kejuruan (SMK), dan akademi komunitas. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan calon pekerja migran sekaligus memperluas akses mereka terhadap peluang kerja global.

Kemenperin juga memiliki kapasitas pelatihan sekitar 11 ribu peserta per tahun melalui Balai Diklat Industri. Sementara itu, kerja sama pelatihan dengan KP2MI pada 2026 mencakup sekitar 1.066 peserta.

Sarmuji mengatakan, kedua kementerian telah memperbarui nota kesepahaman untuk memperluas cakupan sektor pelatihan dan meningkatkan pemanfaatan fasilitas vokasi. Selain balai diklat industri, Kemenperin memiliki 11 politeknik, dua akademi komunitas, dan sembilan SMK yang berpotensi mendukung penyiapan tenaga kerja berdaya saing global.

Baca juga : Menperin Dorong Industri Ulos Naik Kelas Lewat Inovasi Dan Perluasan Pasar

Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan, kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan Migrant Center sebagai pusat layanan terpadu serta pemetaan peluang kerja di luar negeri dengan potensi lulusan pendidikan vokasi industri.

Menurut Adie, identifikasi kebutuhan tenaga kerja akan dilakukan untuk sektor manufaktur maupun sektor lainnya di luar negeri. Langkah tersebut diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan pemberi kerja dengan ketersediaan lulusan vokasi yang memiliki kompetensi sesuai persyaratan.

Selain peningkatan keterampilan, pemerintah menekankan pentingnya pelindungan pekerja migran sejak tahap prapenempatan, selama bekerja di luar negeri, hingga purnapenempatan.

Melalui program SMK Go Global dan penguatan kolaborasi lintas kementerian, pemerintah berharap semakin banyak lulusan pendidikan vokasi yang memperoleh akses ke pasar kerja internasional, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pengangguran.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.