Dark/Light Mode

Synology Perkuat Infrastruktur Data Enterprise Untuk Era AI Dan Ancaman Siber

Sabtu, 6 Juni 2026 09:25 WIB
Chairman dan CEO Synology Philip Wong memaparkan pengembangan terbaru platform data enterprise untuk mendukung adopsi AI yang aman dan memperkuat ketahanan siber, Sabtu (6/6/2026).
Dok. Synology
Chairman dan CEO Synology Philip Wong memaparkan pengembangan terbaru platform data enterprise untuk mendukung adopsi AI yang aman dan memperkuat ketahanan siber, Sabtu (6/6/2026). Dok. Synology

RM.id  Rakyat Merdeka - Perusahaan penyedia solusi penyimpanan dan pengelolaan data, synology, mengumumkan pengembangan terbaru platform data enterprise guna membantu organisasi menghadapi tantangan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan meningkatnya ancaman siber.

Chairman dan CEO Synology Philip Wong memaparkan arah pengembangan platform data yang berfokus pada pemanfaatan AI secara aman, pengelolaan infrastruktur berskala besar, serta peningkatan ketahanan siber. Philip bilang, adopsi AI di lingkungan enterprise kini bukan lagi tantangan utama. Menurutnya, tantangan yang lebih penting adalah memastikan organisasi tetap memiliki kendali penuh atas data yang dimiliki.

“Adopsi AI di enterprise kini bukan lagi tantangan utama. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana organisasi tetap memiliki kendali penuh atas data mereka,” kata Philip Wong dalam, dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).

Ia menambahkan, dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Synology terus mengembangkan platform yang mampu mendukung kebutuhan AI. Juga, memastikan data tetap berada dalam lingkungan yang aman, terkelola, dan berada di bawah kendali organisasi.

Seiring meningkatnya pemanfaatan AI dan semakin kompleksnya ancaman siber, perusahaan membutuhkan infrastruktur yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan data. Namun, juga mampu mendukung pemanfaatan data secara aman, terkontrol, dan siap dipulihkan ketika terjadi insiden.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Synology memperkenalkan roadmap generasi berikutnya dari sistem operasi penyimpanannya, DiskStation Manager (DSM), serta pembaruan ActiveProtect Manager 2.0. Pengembangan ini memungkinkan organisasi menjalankan alur kerja AI secara privat di lingkungan on-premise tanpa harus memindahkan data sensitif ke layanan cloud eksternal.

Baca juga : Garuda Perkuat Koordinasi Dengan Saudi Untuk Pemulangan Jemaah Haji

Melalui DSM generasi terbaru, perusahaan dapat membangun basis pengetahuan (knowledge base) privat dari data internal yang dimiliki, mulai dari dokumen kerja, catatan operasional, hingga log sistem. Platform ini juga dilengkapi Synology Office Suite AI Assistant yang membantu meningkatkan produktivitas pengguna melalui dukungan AI dalam aktivitas sehari-hari.

Untuk kebutuhan AI yang lebih intensif, Synology menghadirkan dukungan melalui server rack berbasis GPU dan appliance AI khusus sehingga proses inferensi dapat dilakukan secara lokal.

Menurut Philip, perkembangan AI turut mendorong evolusi ancaman siber yang semakin cepat dan kompleks. Sehingga, organisasi membutuhkan perlindungan data yang tidak hanya andal, tetapi juga mudah diterapkan.

Executive Vice President Synology NAS Group, Bie-i Chu menjelaskan DSM generasi berikutnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan AI, sekaligus tuntutan operasional enterprise yang semakin kompleks.

“Platform ini memungkinkan organisasi menjalankan alur kerja AI secara privat, dengan tata kelola yang jelas, manajemen infrastruktur dalam skala besar, serta kontrol keamanan yang dibutuhkan tim IT untuk memenuhi tuntutan regulasi dan kepatuhan,” ujar Chu.

Selain mendukung pemanfaatan AI, Synology juga memperkuat kemampuan otomatisasi dan pengelolaan infrastruktur berskala besar. Fitur DSM Agent memungkinkan tim teknologi informasi menjalankan berbagai tugas administrasi lintas sistem melalui pengalaman terpandu. Sementara, Cluster Manager menyatukan pengelolaan berbagai perangkat Synology dalam satu antarmuka terpusat.

Baca juga : PLN EPI Siapkan Infrastruktur Gas untuk Jaga Pasokan Listrik

Layanan penyimpanan dan aplikasi juga dikemas dalam workload berbasis container sehingga memudahkan migrasi antar sistem, penerapan Quality of Service (QoS), serta pengelolaan kebijakan perlindungan data secara lebih fleksibel.

Sementara itu, Active Insight menghadirkan fitur Mass Deployment untuk mempercepat proses konfigurasi dan implementasi sistem baru, terutama pada lingkungan yang tersebar di berbagai lokasi. Dari sisi keamanan, DSM generasi terbaru memperluas penerapan Role-Based Access Control (RBAC) agar pengaturan hak akses dapat dilakukan secara lebih granular serta dilengkapi pembaruan Log Center untuk kebutuhan monitoring dan audit.

Synology juga memperkuat aspek keamanan perangkat melalui secure element bawaan dan proses sertifikasi FIPS 140-3 yang saat ini masih berlangsung.

Di bidang perlindungan data, ActiveProtect Manager 2.0 dirancang untuk menjawab kebutuhan enterprise yang kini mengelola workload di berbagai lingkungan, mulai dari cloud, virtualisasi hingga aplikasi Software as a Service (SaaS). Platform ini memperluas dukungan perlindungan data ke berbagai platform cloud, hypervisor, dan layanan SaaS utama, termasuk VMware, Microsoft Hyper-V, Proxmox VE, dan Google Workspace.

Selain itu, ActiveProtect Manager 2.0 memungkinkan pemulihan mesin virtual lintas platform, baik ke lingkungan cloud maupun on-premise. Dukungan backup copy ke Azure Blob Storage juga tersedia untuk membantu mempercepat proses pemulihan sekaligus menekan biaya operasional.

Executive Vice President Synology Data Protection Group, Jia-Yu Liu mengatakan ActiveProtect Manager 2.0 menghadirkan pendekatan perlindungan data yang lebih proaktif melalui deteksi ancaman berbasis AI.

Baca juga : Ace Jadikan Rupbasan Media Belajar Antikorupsi

“Dengan kemampuan ini, perlindungan data dapat bergerak dari pendekatan pemulihan yang reaktif menuju pertahanan yang lebih proaktif,” ujarnya.

Untuk memastikan data hasil pemulihan tetap aman, ActiveProtect Manager 2.0 dibekali teknologi deteksi anomali berbasis machine learning yang menganalisis versi backup historis guna mendeteksi perubahan data yang tidak wajar, penghapusan massal, maupun indikasi aktivitas berbahaya.

File yang teridentifikasi berisiko akan dikarantina secara otomatis agar tidak ikut dipulihkan ke sistem produksi. Solusi ini juga dapat terintegrasi dengan perangkat lunak antivirus pihak ketiga untuk memindai malware pada data cadangan sehingga hanya data yang bersih dan terverifikasi yang tersedia untuk proses recovery.

Selain itu, fitur Auto Fallback memungkinkan sistem secara otomatis mengarahkan pemulihan ke versi backup terakhir yang dinilai aman ketika terdeteksi adanya backup yang telah terkompromi. Dengan mekanisme tersebut, organisasi dapat memulihkan operasional dari baseline data yang lebih bersih dan tervalidasi.

Synology menyatakan fitur-fitur dalam roadmap DSM generasi berikutnya akan diperkenalkan secara bertahap melalui pembaruan DSM mendatang. Sementara itu, ActiveProtect Manager 2.0 dijadwalkan mulai tersedia pada kuartal ketiga 2026.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.