Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wisata Kuliner Makanan Tradisional Swiss
Mencicipi Fondue, Lelehan Keju Yang Super Yummy
Minggu, 22 Februari 2026 17:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Traveling ke Swiss saat winter (musim dingin), tidak melulu hanya untuk melihat salju atau bermain ski. Tapi juga bisa sekalian mencicipi makanan tradisional khas negara yang dikelilingi Pegunungan Alpen itu. Wisata kuliner khas Swiss yang sering dicari para traveler adalah Fondue Cheese dan Raclette Cheese.
Saat dinner di pedesaan Murren, Pegunungan Schilthorn, Rakyat Merdeka dan peserta Media Trip mendapat kesempatan mencicipi Fondue, hidangan tradisional Swiss berupa lelehan keju yang dicampur dengan white wine dan bawang putih, disajikan dalam panci di atas pemanas.
Sedangkan Raclette Cheese adalah keju semi-keras (semi-hard) dari susu sapi yang terkenal karena teksturnya yang lembut dan mudah meleleh. Keju ini dirancang khusus untuk dipanaskan dan dikikis (diambil lelehannya) di atas hidangan seperti kentang rebus, daging, dan acar.
Selain Tour Leader dari Switzerland Tourism-Indonesia Ferani Heng, saat dinner malam itu, kami juga didampingi tour guide yang juga pelatih sledding, Jana Lorenzo. Ternyata Lorenzo bukan warga asli Swiss. Dia berasal dari Praha, Republik Ceko. Namun, ibu dua anak ini sudah lama menetap di Swiss bersama suaminya yang berasal dari Selandia Baru.
Baca juga : Jelajahi Kuliner Khas Kepulauan Riau, Cita Rasa Melayu Yang Autentik
Malam itu, dari hotel tempat menginap, kami naik kereta gantung (cable car) menuju sebuah restoran yang terletak di atas bukit bersalju. Pemandangan di restoran itu sangat indah. Kebetulan, malam itu bulan menyinari jalan berselimut salju yang kami lalui. Meskipun bukan bulan purnama, namun cahaya yang terpantul lumayan menerangi jalan di Pedesaan Murren yang sunyi dan tenang.
Fondue, makanan tradisional khas Swiss.
Tiba di restoran, pelayan langsung menyalakan kompor di atas meja. Setelah itu, dia menaruh sepanci keju cair di atas kompor. Tak lama kemudian, sang pelayan menyajikan kentang rebus dan roti.
Sambil menunggu keju di atas panci dipanaskan, Lorenzo mengisahkan tentang sejarah Fondue. Menurutnya, Fondue terkenal sebagai makanan khas Swiss, yang di masa lalu, dimakan oleh warga yang tinggal di pegunungan selama setahun penuh. Bukan hanya pada musim dingin. Karena ekstremnya medan pegunungan, tak mudah bagi mereka untuk mendapatkan bahan pangan selain susu, daging, keju dan kentang.
“Ceritanya saat belum ada kereta gantung, masyarakat yang tinggal di pegunungan, mau tidak mau harus makan Fondue setiap hari sepanjang tahun. Mereka jarang makan sayuran, karena di pegunungan banyak sayuran tidak bisa tumbuh. Makanya mereka hanya makan Fondue, karena mayoritas warga adalah peternak sapi,” ungkapnya.
Baca juga : Perkuat Keamanan Nasional, DPR Finalisasi RUU Pengelolaan Ruang Udara
Namun, lanjut Lorenzo, setelah Pemerintah membangun kereta gantung, kawasan pegunungan yang saat itu sangat terisolasi, akhirnya mulai bisa terhubung dengan masyarakat yang tinggal di lereng gunung atau pedesaan di dataran rendah.
“Kehadiran kereta gantung sangat membantu warga di pegunungan dan pedesaan untuk berinteraksi, bertukar makanan dan mulai terjadi perdagangan. Akhirnya setelah terhubung kereta gantung, masyarakat di pegunungan bisa makan sayur, serta makanan lainnya yang mereka beli di pedesaan,” kisahnya.
Rakyat Merdeka saat mencicipi Fondue.
Momen yang ditunggu-tunggu akhirnya datang: mencicipi Fondue. Lorenzo lalu mendemonstrasikan bagaimana cara makan Fondue. Cara makannya: mencelupkan potongan kentang atau roti menggunakan garpu panjang ke lelehan keju di atas panci. Lalu, kentang atau roti berlumur lelehan keju, kita makan.
“Usahakan kentang atau rotinya jangan sampai jatuh dan nyemplung di panci ya. Ada hukumannya lho,” canda Ferani.
Baca juga : Mendagri Apresiasi Daerah Yang Menjaga Kamtibmas
Ferani menceritakan, dalam tradisi makan Fondue di Swiss pada masa lalu, bagi mereka yang menjatuhkan roti atau kentang di dalam panci berisi keju, biasanya akan dihukum mencuci piring.
Hal itu dibenarkan Lorenzo. Namun, menurutnya, dia punya tradisi berbeda saat makan Fondue di rumah bersama keluarganya. “Kalau anak saya menjatuhkan roti atau kentang di dalam panci, biasanya hukumannya adalah bernyanyi,” ujarnya sambil tertawa.
Benar saja, tak lama kemudian, kami mendengar seorang perempuan yang duduk di meja sebelah, bernyanyi sambil berdiri. Dia datang bersama teman-temannya. Terdengar tepukan tangan dan tawa dari mereka. Sepertinya, perempuan itu “dihukum” untuk bernyanyi setelah mencemplungkan kentang di panci berisi keju.
Kesan saya tentang Fondue adalah rasanya sangat gurih dan super yummy. Lelehan kejunya juga terasa sangat strong di lidah. Ditemani white wine atau red wine, Fondue sangat cocok untuk dikonsumsi saat musim dingin, karena bisa membantu menghangatkan tubuh dari dinginnya suhu udara pegunungan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya