Dark/Light Mode

Dari Sate Hingga Jajanan Kaki Lima,18 Chef Gali Inspirasi Kuliner Lokal

Jumat, 2 Oktober 2026 08:00 WIB
Culinary Roots dan Street Food Couture. (Foto: Merry Apriyani/Rakyat Merdeka/RM.id)
Culinary Roots dan Street Food Couture. (Foto: Merry Apriyani/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masa depan kuliner Indonesia tak harus dicari jauh-jauh. Dari sate yang dibakar di atas bara, tahu telur, tempe, hingga jajanan kaki lima, kekayaan kuliner lokal justru menyimpan banyak inspirasi untuk menciptakan menu yang relevan dengan selera masa kini.

Semangat itu dibawa Unilever Food Solutions (UFS) melalui inisiatif tahunan Future Menu 2026.

Tahun ini, UFS mengangkat dua tren utama, yakni Culinary Roots dan Street Food Couture, dengan mengajak 18 chef menjelajahi kekayaan kuliner Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Berbeda dari sekadar membaca laporan tren, para chef turun langsung ke lapangan.

Dalam perjalanan pada Juni-Juli 2026, mereka mengeksplorasi 12 titik dan mencicipi sekitar 175 restoran, rumah makan, hingga street food.

Para chef menggali bukan hanya rasa, tetapi juga cerita, bahan lokal, budaya, serta teknik memasak yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Sate Srepeh by Silk Bistro. (Foto: Merry Apriyani/Rakyat Merdeka/RM.id)

 

Baca juga : Dubes Meksiko Francisco de la Torre Galindo Pilih Rendang Dibanding Nasi Goreng

Country Lead Marketing UFS Indonesia Raditya Beer mengatakan, Future Menu dirancang sebagai panduan bagi chef dan pelaku bisnis kuliner dalam membaca perubahan preferensi konsumen.

“Future Menu 2026 dipersonalisasi untuk pasar Indonesia dengan menyoroti Culinary Roots dan Street Food Couture sebagai dua tren yang paling sejalan dengan dinamika preferensi konsumen saat ini,” ujar Raditya dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).

Raditya menambahkan, ketertarikan konsumen terhadap makanan lokal juga semakin kuat.

Data Jakpat 2025 yang dikutip UFS menunjukkan 61 persen masyarakat memilih makan di warung lokal dan 58 persen di pedagang kaki lima. Tren tersebut tidak hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman dan cerita di balik makanan.

Fenomena snackpacking, misalnya, memperlihatkan bagaimana perjalanan dilakukan dengan tujuan mengeksplorasi jajanan lokal.

“Kekayaan kuliner lokal adalah kekuatan yang dapat terus dieksplorasi menjadi pengalaman baru yang lebih elevated dan relevan,” kata Raditya.

Culinary storyteller sekaligus host Culinary Trip Future Menu 2026 Ade Putri mengatakan, perjalanan tersebut membuka perspektif baru mengenai kekayaan kuliner Indonesia.

Sebab, di balik makanan yang terlihat sederhana, tersimpan cerita mengenai bahan, teknik, budaya, hingga kehidupan masyarakat yang membuatnya.

Baca juga : Restoran Indonesia Pertama Hadir Di Cape Town Perkuat Kuliner Nusantara

“Selain berbagai hidangan yang sudah dikenal luas, ada tradisi budaya kuliner lokal yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Satu hidangan ternyata bisa menyimpan begitu banyak lapisan cerita,” ujar Ade.

Salah satu contohnya adalah teknik membakar sate. Sekilas terlihat sederhana, tetapi proses tersebut membutuhkan pengetahuan mengenai panas bara, posisi sate, waktu pembakaran, arang, hingga sirkulasi udara.

“Kelihatannya sederhana, padahal ada banyak hal yang terjadi,” ujar Ade.

Bagi para chef, pengalaman tersebut menjadi titik awal untuk melihat kembali pengetahuan kuliner yang sudah ada dan menerjemahkannya ke dalam konteks kekinian.

Salah satu chef peserta, Chef Freddie Salim dari SILK Bistro, mengatakan Culinary Trip memberinya perspektif baru mengenai kemungkinan mengembangkan kuliner Indonesia.

Terinspirasi sajian rumahan klasik Jawa Tengah, SILK Bistro menghadirkan Future Menu Collaboration bertema “Homage to Home”, terdiri dari Tahu Telur, Sate Srepeh, Beef Garang Asem, dan Ayam Bakar Kelopo.

“Dari inovasi, kita ingin tetap stay true. Kita tidak mau mengubah elemen kunci dari hidangan. Kita ingin mengangkat cerita lama menjadi cerita baru tanpa menghilangkan akarnya,” kata Freddie.

Bagi Freddie, perjalanan tersebut juga menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu berarti mencari sesuatu yang sepenuhnya baru.

Baca juga : Serodja Padukan Kuliner & Wastra Dan Seni Budaya Nusantara

“Kadang kita tidak cuma melangkah lebih jauh, tapi kita juga perlu pulang untuk melihat akarnya kembali,” ujar Freddie.

Semangat tersebut diterapkan pada sejumlah kreasi chef lainnya, antara lain Sate Kerbau Lilit dan Es Dawet Bango dari Dailah Sajian Kontemporer, Ikan Dasun Tuturuga dari Mata Karanjang, Sate Gurita Serapah dari Umatis, serta Pipi Sapi Sambal Tongkol dari Beer Hall.

Berbagai Future Menu Collaboration dapat dinikmati konsumen hingga November 2026 di sejumlah restoran mitra UFS.

UFS juga merangkum temuan dan inspirasi dari perjalanan tersebut dalam e-Magazine “Inspirasi Rasa Nusantara” sebagai referensi bagi pelaku industri kuliner.

Raditya mengatakan eksplorasi tersebut diharapkan mendorong lebih banyak chef melihat kekayaan kuliner Indonesia sebagai sumber inspirasi.

“Semakin dalam kita memahami akarnya, semakin luas ruang kita untuk berinovasi,” pungkas Raditya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.