Dark/Light Mode

Beyond Beauty, Jalan Baru Reformasi Pemasyarakatan Lewat Fashion

Jumat, 19 Desember 2025 23:36 WIB
Karya fashion hasil kolaborasi desainer ternama dengan warga binaan dari 24 Lapas tampil di Bali Fashion Trend (BFT) 2026, Jumat malam (19/12/2025). (Foto: Dok. Ditjen Pemasyarakatan)
Karya fashion hasil kolaborasi desainer ternama dengan warga binaan dari 24 Lapas tampil di Bali Fashion Trend (BFT) 2026, Jumat malam (19/12/2025). (Foto: Dok. Ditjen Pemasyarakatan)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ajang Bali Fashion Trend (BFT) 2026 yang digelar di Onyx Park Resort, Ubud, Gianyar, Jumat (19/12/2025) malam, menjadi panggung kolaborasi strategis antara Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dengan industri fashion nasional. Melalui program Beyond Beauty, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan bersama Indonesia Fashion Chamber (IFC) menampilkan karya fashion hasil kolaborasi desainer ternama dengan warga binaan dari 24 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menegaskan program Beyond Beauty mencerminkan perubahan paradigma pemasyarakatan di Indonesia. Pemasyarakatan, kata dia, tidak lagi semata dipandang sebagai tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pembinaan yang memberi kesempatan kedua dan menyiapkan warga binaan kembali produktif di tengah masyarakat.

“Kolaborasi ini bukan hanya tentang fashion atau produk. Ini tentang manusia, tentang harapan, dan tentang masa depan yang lebih baik bagi warga binaan pemasyarakatan,” ujar Agus, saat membuka rangkaian kegiatan Bali Fashion Trend 2026.

Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto.

Baca juga : Perayaan Natal Dan Tahun Baru Tanpa Kemewahan, Pemprov DKI Jakarta Utamakan Doa

Melalui Beyond Beauty, warga binaan dilibatkan sebagai co-creator dalam industri fashion profesional. Beragam produk hasil pembinaan, mulai dari batik, anyaman, bordir, hingga kerajinan kulit, dikembangkan bersama para desainer Sofie, Lisa Fitria, dan Irmasari menjadi karya fashion kontemporer yang memiliki nilai estetika sekaligus daya saing komersial.

Agus menilai proses kolaboratif tersebut tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan identitas positif bagi warga binaan. “Ketika karya mereka diapresiasi publik dan pasar, di situlah proses pemulihan harga diri dan kepercayaan diri benar-benar terjadi,” katanya.

Selain mendapat apresiasi publik, karya hasil kolaborasi ini juga mulai menarik minat pasar internasional. Salah satu desainer, Sofie, mengungkapkan bahwa dalam rangkaian Bali Fashion Trend 2026 telah masuk permintaan awal (order inquiry) dari pembeli asal Prancis dan Malaysia. Minat tersebut menjadi sinyal positif atas kualitas dan daya saing produk warga binaan di pasar global.

Baca juga : OTT di Bekasi, KPK Amankan Bupati Bekasi Ade Kuswara Kunang

Salah satu koleksi yang ditampilkan memadukan batik tradisional dengan desain urban modern bergaya streetwear. Seluruh proses produksinya melibatkan warga binaan dari sejumlah lapas, antara lain Lapas Jambi, Bengkulu, Manado, Malang, Semarang, Pontianak, Sumenep, dan Madiun. Secara keseluruhan, terdapat 24 unit lapas yang berkolaborasi dalam ajang ini.

Karya fashion hasil kolaborasi desainer ternama dengan warga binaan dari 24 Lapas tampil di Bali Fashion Trend (BFT) 2026.

Karya-karya tersebut dipersiapkan melalui pendampingan intensif, mulai dari pengembangan desain hingga pemenuhan standar kualitas produk siap pasar. Agus pun menyampaikan apresiasi kepada Indonesia Fashion Chamber atas komitmennya membuka ruang kolaborasi lintas sektor.

Menurutnya, program ini sejalan dengan arah reformasi pemasyarakatan serta implementasi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Baru 2025 yang menekankan pendekatan rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Dari sisi sosial dan psikologis, program ini membantu memulihkan kepercayaan diri warga binaan, sementara dari sisi sistemik menjadi model integrasi pemasyarakatan dengan industri kreatif.

Baca juga : Penggunaan Produk Lokal, Perkuat Ekonomi Nasional

“Setiap warga binaan memiliki potensi untuk berubah dan berkontribusi. Tugas negara adalah membuka jalan, memberi kesempatan, dan menumbuhkan kepercayaan,” tegas Agus.

Melalui Bali Fashion Trend 2026, kolaborasi pemasyarakatan dan industri fashion ini diharapkan tidak hanya menghasilkan karya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi inspirasi lahirnya kerja sama transformatif lainnya, sekaligus menegaskan bahwa fashion bukan sekadar soal tren dan estetika, melainkan juga nilai kemanusiaan, inklusivitas, dan harapan masa depan yang lebih baik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.