Dark/Light Mode

Dirjen Tatang: Disiplin Dan Soft Skill Kunci Masa Depan Lulusan SMK

Selasa, 12 Mei 2026 15:47 WIB
Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin dalam Bincang Santai bersama media di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: BCG/RM.ID
Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin dalam Bincang Santai bersama media di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: BCG/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan, kebutuhan dunia industri terhadap lulusan SMK terus berubah. Dunia kerja kini tidak lagi hanya mencari kemampuan teknis, tetapi juga disiplin, soft skill, dan budaya kerja yang kuat.

Hal itu disampaikan Tatang dalam acara Bincang Santai bersama media bertajuk Dampak Nyata Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Penguatan Literasi melalui Sarana Perpustakaan yang Nyaman di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

“Kalau kita lihat trennya sekarang, tantangannya bukan lagi sekadar biaya atau hard skill. Soft skill itu justru makin penting. Soft skill terkait budaya kerja, dan di situ peran industri menjadi sangat penting,” ujar Tatang.

Menurutnya, perubahan kebutuhan industri membuat sekolah vokasi harus ikut beradaptasi. Bukan hanya memperbarui kurikulum, tetapi juga membentuk karakter dan etos kerja siswa sejak dini.

“Yang paling penting sebenarnya bukan hanya skill teknis, tetapi disiplin dan etos kerja. Itu harus dibangun sejak awal siswa masuk SMK,” katanya.

Ia mencontohkan di bidang teknik dan pengelasan, siswa harus dibiasakan bekerja sesuai standar industri serta mampu menjaga ritme kerja dengan baik.

Baca juga : Guru Yang Dimuliakan Dalam Pidato, Dilelahkan Dalam System

“Jangan sampai budaya kerjanya lemah. Baru bekerja satu jam sudah ingin berhenti atau main ponsel. Itu yang harus diperkuat,” tegasnya.

Tatang menilai praktik kerja lapangan (PKL) menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan kerja siswa. Menurutnya, siswa membutuhkan waktu adaptasi sebelum benar-benar memahami ritme kerja di industri.

“Biasanya tiga bulan pertama siswa masih belajar beradaptasi. Setelah itu baru benar-benar bisa praktik dan bekerja,” ujarnya.

Untuk mendukung kesiapan lulusan SMK, Kemendikdasmen terus memperkuat program revitalisasi sekolah. Salah satunya melalui pembangunan ruang praktik di berbagai satuan pendidikan vokasi.

Menurut Tatang, hingga saat ini pemerintah telah membangun lebih dari 7.586 ruang praktik di SMK, SLB, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

“Nah salah satu yang kami perkuat, terutama untuk pendidikan vokasional, adalah memastikan ruang-ruang praktik yang memadai,” katanya.

Baca juga : Lestari Moerdijat: Pentingnya Imunisasi Dasar Bagi Masa Depan Anak Bangsa

Ia menjelaskan, keberadaan ruang praktik membantu siswa lebih cepat beradaptasi dengan kondisi industri saat memasuki masa PKL maupun dunia kerja.

“Dengan adanya pembiasaan dan familiaritas, maka dia lebih mudah masuk ke industri. Adjustment-nya bisa lebih cepat,” ujarnya.

Meski demikian, Tatang mengakui fasilitas praktik di sekolah belum sepenuhnya menyamai kondisi industri yang sesungguhnya. Sebagian sekolah masih menggunakan peralatan manual, sementara industri sudah memakai teknologi modern dan otomatisasi.

“Memang apa yang disediakan di ruang praktik SMK masih jauh tertinggal dari kondisi riil di pabrik. Tapi setidaknya anak-anak sudah punya dasar,” katanya.

Menurut Tatang, perkembangan industri juga membuat kompetensi keahlian di SMK semakin fleksibel dan saling melengkapi. Jika dulu sekolah vokasi identik dengan bidang tertentu, kini banyak jurusan mulai menggabungkan berbagai keterampilan sesuai kebutuhan industri modern.

Ia mencontohkan sektor pertanian yang kini membutuhkan kemampuan mekatronika, mesin, dan elektronik untuk mendukung modernisasi alat produksi.

Baca juga : Harwan: Integrasi Etika Dan Compliance Kunci Kepercayaan Publik

“Pertanian ke depan memang membutuhkan teknologi. Jadi antarbidang keahlian sekarang saling melengkapi,” katanya.

Tatang menilai kualitas sekolah tetap menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan lulusan SMK. Terutama sekolah yang memiliki kemitraan kuat dengan dunia industri.

“Kalau SMK tidak punya mitra industri, kurikulumnya dibuat dengan siapa? Kurikulum SMK itu harus disusun bersama industri,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi antara sekolah dan industri terus diperkuat agar lulusan SMK semakin siap menghadapi perubahan dunia kerja yang bergerak cepat.

“Tantangannya memang alat-alat praktik modern itu mahal. Karena itu sekolah perlu kerja sama dengan industri,” katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.