Dark/Light Mode

Karhutla 107 Ribu Ha, Menko Polkam Berharap Bisa Modifikasi Cuaca Jelang HUT RI

Senin, 10 Agustus 2026 18:47 WIB
Foto: M. Wahyudin/RM.
Foto: M. Wahyudin/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Luasan hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia telah mencapai lebih dari 107.000 hektare. Pemerintah pun berharap operasi modifikasi cuaca dapat dilakukan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026 untuk membantu menekan meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago mengatakan, fenomena El Nino yang cukup kuat belakangan ini turut mempercepat penanganan karhutla. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga awal September atau awal Oktober 2026.

“Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan dan lahan sudah 107.000 hektare lebih,” kata Djamari dalam konferensi pers di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Senin (10/8/2026).

Djamari mengatakan, pemerintah telah mengerahkan seluruh sumber daya, baik personel maupun peralatan, untuk menanggulangi karhutla. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas.

Baca juga : Pemerintah Intensifkan Penanganan Karhutla, 107 Ribu Hektare Lahan Terdampak

“Sebagai catatan, dalam langkah melaksanakan operasi udara yang dilakukan oleh Satgas Udara, kita mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed-wing juga bisa antara 10 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.

Selain mengerahkan kekuatan udara, pemerintah menyiapkan Satgas Darat untuk turut menangani karhutla.

Namun, menurut Djamari, operasi udara menjadi salah satu upaya yang paling efektif, termasuk melalui modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan buatan.

Operasi tersebut dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Baca juga : Menhut Raja Juli Antoni Cek Kebakaran Bromo, Pastikan Penanganan Terkoordinasi

“Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi yaitu kita menemukan ada awan hujan, istilahnya awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, tidak ada, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah terus memantau setiap perubahan kondisi cuaca. Jika diperkirakan muncul awan hujan, operasi modifikasi cuaca dapat segera dilakukan.

Menurut Djamari, modifikasi cuaca akan sangat membantu penanganan karhutla karena volume air hujan yang dihasilkan dapat cukup besar dengan cakupan wilayah yang luas.

Namun, kondisi saat ini membuat pemerintah tidak bisa hanya menunggu kemunculan awan hujan. Berdasarkan perkiraan cuaca, pada pekan ini hingga 18 Agustus 2026 terdapat sekitar tiga hingga empat kali peluang munculnya awan hujan.

Baca juga : DPR Minta Kebakaran Bromo Ditangani, Usut Penyebabnya

“Kalau itu ada, itu memang mungkin anugerah yang diberikan kepada kita, mungkin menjelang 17 Agustus ini. Semoga itu akan keluar awan hujan itu,” ucap Djamari.

Diketahui, Djamari Chaniago sebelumnya memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla bersama Astamaops Kapolri Komjen Pol Mohammad Fadil Imran, Asops Panglima TNI Letjen TNI Bobby Rinal Makmun, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, serta Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh. Jumhur Hidayat.

Lalu, Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto, Kepala BNPB Suharyanto, Deputi Penanganan Darurat BNPB Budi Irawan, serta Inspektur Utama KLH Winarto. Rapat koordinasi tersebut berlangsung di Gedung Utama Kemenko Polkam, Jakarta Pusat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.