Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kemendikdasmen Dorong Kebijakan Gizi Berbasis Bukti untuk Murid lewat SEAMEO RECFON
Minggu, 13 September 2026 21:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemenuhan gizi yang berkualitas dinilai menjadi salah satu fondasi penting untuk mendukung keberhasilan pendidikan.
Karena itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) mendorong penguatan kebijakan gizi sekolah yang berbasis bukti ilmiah.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Konferensi Pers Pertemuan Dewan Pembina (Governing Board Meeting/GBM) ke-16 SEAMEO RECFON di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Pertemuan tahunan yang diikuti 11 anggota Dewan Pembina dari negara-negara anggota SEAMEO itu sekaligus meluncurkan tiga policy brief berbasis bukti ilmiah untuk mendukung kesehatan, gizi, dan kualitas pembelajaran murid di Indonesia serta kawasan Asia Tenggara.
Dalam pembukaan GBM ke-16, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menegaskan bahwa pemenuhan gizi berkualitas merupakan fondasi penting bagi keberhasilan pendidikan anak.
“Gizi yang baik adalah kondisi yang memungkinkan proses pembelajaran secara optimal. Murid mungkin belajar di sekolah yang bagus, guru yang profesional, dan kurikulum yang sesuai, tetapi jika murid tersebut datang ke kelas dalam keadaan lapar atau kurang gizi, pembelajaran yang optimal akan sulit terjadi,” tegas Suharti.
Baca juga : Kemendikdasmen Revitalisasi 1.487 Sekolah Di NTT, Termasuk SDN Mboeng yang Viral
Suharti juga mengapresiasi peran SEAMEO RECFON dalam mendukung Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang mencatat penurunan angka stunting balita dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen.
Ia juga menggarisbawahi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditargetkan menjangkau sekitar 60 juta murid pada 2027 sebagai peluang besar untuk mengintegrasikan edukasi gizi, keamanan pangan, dan kebiasaan hidup sehat.
Penguatan Data Gizi Direktur SEAMEO RECFON Rini Sekartini memaparkan policy brief pertama yang membahas penguatan sistem biomarker zat gizi mikro dalam SSGI 2026 melalui teknologi multiplex immunoassay dan peningkatan kapasitas laboratorium.
Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan akurasi data sekaligus efisiensi evaluasi percepatan penurunan stunting.
“Peluncuran policy brief ini merupakan wujud nyata mandat kami dalam menjembatani sains, kebijakan, dan praktik. Penguatan biomarker zat gizi mikro berguna untuk mendukung penetapan prioritas dan evaluasi kebijakan percepatan penurunan stunting di Indonesia yang lebih efektif dan efisien,” ujar Rini.
Sementara itu, Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON Brian Sri Prahastuti menekankan pentingnya mendeteksi akar penyebab anemia pada murid secara menyeluruh.
Baca juga : Mendikdasmen: Daerah yang Tidak Aman Tak Dianjurkan Tatap Muka di Sekolah
“Anemia menjadi perhatian kami karena berhubungan langsung dengan kemampuan murid untuk menangkap pelajaran akibat berkurangnya suplai oksigen ke sel-sel otak. Dengan sekali pemeriksaan darah yang lebih lengkap, kita dapat memberikan rekomendasi intervensi yang jauh lebih tepat sasaran,” tutur Brian.
Policy brief kedua mengangkat penerapan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) dalam kebijakan gizi sekolah.
Kajian tersebut didasarkan pada riset terhadap 4.219 murid berusia 7–18 tahun di 12 kabupaten/kota pada 12 provinsi dengan menggunakan WHO Optifood.
Penelitian itu mengidentifikasi adanya kesenjangan asupan sejumlah zat gizi mikro pada murid. Kesenjangan asupan folat mencapai 100 persen, kalsium 78 persen, dan vitamin A 25 persen, disusul vitamin C dan zinc.
Hasil penelitian kemudian diterjemahkan menjadi siklus menu tujuh hari berbasis pangan dan kuliner lokal.
Menu tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan sekolah dalam menyusun menu lokal untuk mendukung MBG.
Baca juga : Kemendikdasmen Komit Terus Beri Apresiasi Talenta Berprestasi Indonesia
Penelitian dilakukan sebelum MBG berjalan. Temuannya menggambarkan adanya variasi masalah gizi mikro antardaerah sekaligus pentingnya menyesuaikan menu dengan potensi pangan lokal.
Penguatan Program Gizi Sekolah Adapun policy brief ketiga berfokus pada penguatan implementasi paket program gizi sekolah di tingkat ASEAN melalui penjaminan mutu dan pemantauan regional.
Deputi Direktur Administrasi SEAMEO RECFON M. Dzaky F. Surapranata mengatakan, program unggulan Gizi untuk Prestasi atau Nutrition Goes to School telah diterapkan dengan mendampingi sejumlah negara mitra, seperti Laos dan Kamboja.
“Melalui program unggulan Gizi untuk Prestasi atau Nutrition Goes to School, kami telah mendampingi negara mitra seperti Laos dan Kamboja. Di Indonesia, langkah ini berjalan selaras dengan penguatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) di Kemendikdasmen, khususnya kebiasaan makan sehat bergizi,” ujar Dzaky.
Peluncuran tiga policy brief tersebut semakin mengukuhkan peran SEAMEO RECFON sebagai Centre of Excellence dan regional knowledge hub di bidang pangan dan gizi di Asia Tenggara.
Kemendikdasmen melalui SEAMEO RECFON berkomitmen memperkuat kebijakan gizi, pemanfaatan pangan lokal, dan edukasi di lingkungan sekolah guna mewujudkan generasi murid Indonesia dan Asia Tenggara yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya