Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Pertamina Buka Akses Digital bagi Anak Disabilitas Netra di MotoGP Mandalika
- Kinerja Melesat, Bank Mandiri Buyback Saham Dan Tebar Dividen
- Mbappe Brace, Real Madrid Hajar RB Leipzig
- Jakmania Dilarang Hadiri 6 Laga Tandang, PSSI Sanksi Persija-Persita
- Madura United Vs Persib Bandung, Jadwal Padat Jadi Kendala
Kunjungi Cimory, Menperin Tantang Industri Susu Bikin Keju Khas RI & Es Krim
Kamis, 22 Oktober 2026 14:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menantang industri pengolahan susu nasional untuk mengembangkan produk turunan susu, seperti keju bercita rasa khas Indonesia dan es krim, dalam satu tahun ke depan guna memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah industri.
“Tadi kami tantang Cimory untuk memproduksi lebih banyak produk turunan susu, seperti es krim dan keju khas Indonesia,” kata Sarmuji saat melakukan kunjungan kerja ke PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (Cimory) di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).
Sarmuji mengatakan, Cimory yang awalnya dikenal sebagai produsen yoghurt kini telah mengembangkan beragam produk olahan susu. Menurut dia, inovasi produk yang disesuaikan dengan karakteristik dan selera masyarakat Indonesia berpeluang membuka pasar yang lebih luas.
“Keju yang sesuai dengan selera orang Indonesia itu belum banyak dikembangkan. Kalau bisa dibuat keju ala Indonesia, mungkin akan lebih diminati dan pasarnya sangat terbuka. Begitu juga dengan es krim dan berbagai produk turunan susu lainnya,” ujarnya.
Dia memberikan waktu satu tahun kepada Cimory untuk merealisasikan tantangan tersebut. Diversifikasi produk diharapkan dapat memperkuat daya saing industri pengolahan susu sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri.
Selain inovasi produk, Sarmuji menyoroti tingkat utilisasi industri nasional yang masih perlu ditingkatkan. Dia menilai optimalisasi kapasitas produksi dapat memperbesar kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian.
Baca juga : Menperin Sarmuji: Kebijakan Tembakau Harus Perhitungkan Nasib Pekerja
“Kalau kita bisa memaksimalkan utilisasi industri sampai 80–85 persen dengan kapasitas yang sudah ada, kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) tentu bisa meningkat lebih signifikan,” katanya.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan memastikan ketersediaan bahan baku industri dalam jumlah memadai dan dengan harga kompetitif. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga akan memberikan kelonggaran impor bagi bahan baku yang belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
“Kalau bahan bakunya tersendat, tidak tersedia dalam jumlah cukup dan harga yang kompetitif, tentu utilisasi industri akan rendah. Kami akan memastikan kebutuhan bahan baku industri tercukupi dengan baik,” ujar Sarmuji.
Meski demikian, dia menegaskan bahan baku yang telah tersedia dan dapat diproduksi di dalam negeri harus tetap diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri nasional.
Perkuat Pasokan Susu Lokal
Sarmuji juga menekankan pentingnya memperkuat industri hulu melalui peningkatan produksi susu segar dalam negeri dan produktivitas peternak sapi perah.
Baca juga : Menperin Sarmuji: Impor Tanpa Batas Bisa Bikin Industri Dalam Negeri Tumbang
Menurut dia, upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor susu membutuhkan kolaborasi lintas kementerian, industri pengolahan, koperasi, dan peternak lokal. Pengembangan populasi sapi perah serta peningkatan kualitas susu segar menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan industri.
“Kita berharap susu bisa diproduksi semaksimal mungkin di dalam negeri. Kalau bisa, yang diimpor itu sapinya, kemudian dipelihara oleh peternak Indonesia. Peternaknya dilatih dan diedukasi agar menghasilkan susu yang banyak dan berkualitas,” katanya.
Berdasarkan data Kemenperin, kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional pada 2025 mencapai sekitar 4,95 juta ton setara susu segar. Sekitar 80 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.
Untuk memperkuat pasokan domestik, Kemenperin mendorong kemitraan antara industri pengolahan susu dan peternak lokal, antara lain melalui dukungan teknologi pendinginan, digitalisasi tempat penampungan susu, serta program restrukturisasi mesin dan peralatan industri.
Hingga 2026, digitalisasi telah diterapkan pada 96 tempat penampungan susu di sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur. Program tersebut melibatkan lebih dari 12.000 peternak sapi perah.
Sarmuji turut mengapresiasi kontribusi Cimory dalam menyerap susu segar dari peternak lokal. Sepanjang 2025, perusahaan itu bermitra dengan 18.458 peternak sapi perah dan menyerap sekitar 26,42 juta liter susu segar dalam negeri.
Baca juga : Menperin Sarmuji: Industri Jadi Daya Ungkit Pertumbuhan Ekonomi
Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk Pamungkas Bayu Triprasetyo menyambut positif tantangan pemerintah untuk memperluas diversifikasi produk olahan susu. Dia mengatakan Cimory akan mengkaji peluang pengembangan berbagai produk turunan susu yang sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
“Cimory telah melakukan banyak inovasi dan tentunya tantangan untuk mengembangkan produk baru akan kami jalankan. Kami tidak akan bergerak hanya pada produk susu cair, tetapi juga akan meninjau berbagai produk turunan susu lainnya yang berpotensi dikembangkan di Indonesia,” kata Pamungkas.
Terkait bahan baku, Pamungkas menjelaskan sekitar 20–30 persen kebutuhan susu Cimory saat ini dipenuhi dari susu segar dalam negeri yang dipasok peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur. Sementara itu, kebutuhan lainnya masih dipenuhi melalui susu bubuk impor karena pasokan susu segar nasional terbatas.
Dia menyebutkan kebutuhan susu segar untuk produksi Cimory mencapai sekitar 2.000 ton per bulan. Karena itu, peningkatan produksi susu segar nasional menjadi faktor penting untuk mendukung pengembangan industri pengolahan susu.
Di sisi lain, industri makanan dan minuman tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan manufaktur nasional. Pada semester I 2026, subsektor tersebut tumbuh 6,77 persen dan berkontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
Realisasi investasi industri makanan dan minuman pada periode yang sama mencapai Rp 47,74 triliun, terdiri atas penanaman modal asing sebesar Rp 19,46 triliun dan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp 28,28 triliun.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya