Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Susu Sekolah dan Ujian Kesiapan Industri Nasional
Mengawal MBG Lewat Revolusi Industri Susu
Jumat, 27 Februari 2026 16:36 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Oleh: Muhammad Rusmadi
Ambisi menuju Indonesia Emas 2045 mensyaratkan satu hal mendasar: generasi yang sehat, cerdas, dan kompetitif. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang sebagai instrumen strategis membangun kualitas sumber daya manusia. Namun, efektivitasnya sangat ditentukan oleh keberanian menjadikan susu sebagai komponen utama asupan protein hewani anak sekolah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, konsumsi susu nasional baru sekitar 16,3 kg per kapita per tahun (BPS, 2024). Fakta ini ditegaskan kembali oleh pernyataan resmi PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak) pada 20 Januari 2026, yang menyebut angka tersebut masih jauh tertinggal dibanding Malaysia dan Singapura.
LamiPak juga merilis Lembar Fakta 2025/2026 yang menegaskan, konsumsi susu Indonesia sekitar 17,76 liter per kapita per tahun dan produksi dalam negeri baru memenuhi 20 persen kebutuhan nasional. Artinya, program susu sekolah bukan sekadar kebijakan populis, melainkan kebutuhan struktural.
Baca juga : SUN Dorong Kawasan Industri Hijau Lewat Energy-as-a-Solution
Untuk diketahui, berdiri pada 2007, demi memenuhi kebutuhan pelanggan dan membangun kemitraan yang kuat, LamiPak fokus dalam penyediaan produk kemasan yang berkelanjutan dan aman, dengan memberikan solusi dan layananan komprehensif.
Sejak berdiri, LamiPak telah berevolusi dan berkembang melayani pelanggan di lebih dari 86 negara di seluruh dunia.
Terkait tema susu sebagai komponen utama asupan protein hewani anak sekolah, Guru Besar IPB University sekaligus Dewan Pakar Bidang Susu BGN, Prof. Dr. Ir. Epi Taufik, dalam kajiannya “Tantangan Kesiapan dan Kapasitas Penyediaan Susu untuk Program MBG” menjelaskan, produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) 2024 mencapai 808 juta liter per tahun atau sekitar dua juta liter per hari.
Jika 60 juta siswa menerima susu dua kali seminggu, kebutuhan mencapai 144 juta liter per tahun atau sekitar 18 persen dari SSDN. Bila mencakup 74 juta siswa, kebutuhan naik menjadi sekitar 22 persen SSDN eksisting.
Baca juga : Jelang Ramadan, Haadiya Syari Ramaikan Industri Fashion Tanah Air
Persoalannya bukan semata ketersediaan, melainkan kompetisi antara pasar komersial dan program MBG. Mesin produksi UHT (Ultra High Temperature) nasional saat ini berkapasitas sekitar 4,32 miliar kemasan per tahun, sementara kebutuhan susu sekolah bisa menembus 5,7 hingga 7,1 miliar kemasan. Di sinilah potensi kelangkaan susu UHT full cream plain terjadi—bukan karena susu hilang, tetapi karena lini produksi terbatas.
Dalam press conference di Cikande, Banten (20 Januari 2026), Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia Hongbiao Li menegaskan, susu adalah instrumen vital melawan stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif.
Pernyataan itu relevan dengan laporan The Lancet, jurnal medis umum mingguan tertua, paling bergengsi, dan terkemuka di dunia, didirikan pada 1823 oleh Thomas Wakley di Inggris (Mei 2023), yang menegaskan asupan protein hewani berkorelasi positif dengan perkembangan kognitif anak usia sekolah.
Demikian pula laporan Food and Agriculture Organization (FAO) PBB, 12 Oktober 2023 tentang Dairy and Sustainable Food Systems, yang menyebut konsumsi susu berperan signifikan dalam pencegahan defisiensi mikronutrien.
Baca juga : IAA Jadi Simpul Inovasi Dan Solusi Industri Penerbangan
Namun, membangun ekosistem susu nasional tak cukup berhenti di hilir. Prof. Epi Taufik menghitung tambahan kebutuhan 144 juta liter setara dengan sekitar 31–37 ribu sapi laktasi tambahan. Angka ini relatif realistis dibanding wacana impor satu juta sapi. Tantangan berikutnya adalah produktivitas, pembiayaan, dan manajemen reproduksi ternak.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya