Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Penting, Dakwah Secara Konstruktif dengan Bingkai Kebangsaan
Selasa, 8 Oktober 2024 14:19 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Beberapa kalangan masih beranggapan bahwa konklusi dari dakwah keagamaan adalah konversi keimanan. Padahal, dalam konteks hidup bernegara sebagai bangsa Indonesia yang menganut prinsip Bhineka Tunggal Ika, berdakwah tidak bisa dimaknai hanya demikian. Dakwah atau dialog keagamaan juga perlu memperhatikan aspek kerukunan antarumat beragama.
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ahmad Zubaidi, menjelaskan bahwa esensi dakwah adalah mengajak umat manusia pada kebenaran. Kebenaran akan diterima sesuai dengan kemampuan dari masing-masing pendengarnya, yang berasal dari latar belakang berbeda.
“Pada dasarnya, dakwah itu mengajak kepada jalan kebenaran,” terang Kiai Zubaidi, di Jakarta, Selasa (8/10/2024).
Dia melanjutkan, dakwah terdiri dari dua macam. Pertama, mengajak orang lain untuk menganut agama Islam. Kedua, untuk mengajak umat Muslim yang berada di jalan yang salah untuk kembali ke jalan yang benar.
Baca juga : PKS Sindir Cawalkot Supian Suri Mau Urai Kemacetan Sawangan
“Apabila bicara dalam bingkai negara Indonesia, dakwah harus dilakukan secara beretika, mengingat masyarakat Indonesia sudah meyakini agamanya masing-masing,” terangnya.
Menurutnya, para dai yang menyampaikan dakwah juga perlu memerhatikan audiens atau orang yang hadir di tempat tersebut. Kiai Zubaidi selaku dai senior juga menekankan pentingnya makna dakwah melalui contoh atau perbuatan yang baik (dakwah bil hal). Seperti sikap yang santun, penuh kasih sayang, disiplin, lemah lembut, toleran, dan menjunjung tinggi rasa solidaritas.
“Bagi masing-masing diri seorang Muslim sebenarnya sudah punya kewajiban berdakwah, yaitu dengan mempraktikkan Islam dengan sebenar-benarnya, yang rahmatan lil alamin,” jelasnya.
Kiai Zubaidi juga menyoroti adanya diskusi keagamaan namun dengan agenda intoleransi, radikalisme, bahkan terorisme yang terselubung. Menurutnya, hal ini justru mencederai konsensus kebangsaan dan bahkan mengkhianati hak kebebasan beragama dan berserikat yang dijamin negara Indonesia.
Baca juga : Perumahan MGK Serang Raih Sertifikat Bangunan Gedung Hijau Kategori Utama
“Kita menyepakati NKRI dan Pancasila itu demi kemaslahatan bersama serta demi kedamaian Indonesia, kini, dan yang akan datang. Kita tidak ber-khilafah atau ber-daulah bukan berarti kita tidak mengamalkan ajaran Islam. Karena secara formal, substansial, dan esensial, ajaran Islam itu dapat diamalkan di negara Indonesia,” tambahnya
Kiai Zubaidi memandang, seharusnya dakwah yang mengandung ajakan intoleransi, radikalisme, atau bahkan terorisme sudah tidak laku lagi. Namun, potensi ancaman dari ideologi transnasional tetap harus diwaspadai, karena masih ada kalangan masyarakat yang mudah terprovokasi ajakan-ajakan seperti itu.
Menurutnya, kelompok masyarakat yang seperti ini sering punya semangat keagamaan yang tinggi, namun tidak disertai dengan pengetahuan agama yang komprehensif. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam mengundang penceramah, harus tahu persis apa yang sering disampaikan dalam ceramahnya.
“Insya Allah, dai-dai yang telah memperoleh sertifikat standardisasi Dai MUI, dalam berdakwah sudah inklusif dan berwawasan kebangsaan. Hal ini adalah salah satu upaya dari MUI untuk mencegah beredarnya dai-dai yang mengedepankan kebencian, intoleransi provokasi atau bahkan pemecahbelahan umat,” imbuh Kiai Zubaidi.
Baca juga : Pamitan Dan Minta Maaf, Jokowi Mengaku Banyak Kesalahan Dan Kekurangan
Mengenai dakwah keagamaan dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKTI), Kiai Zubaidi memahami bahwa kehidupan beragama tentu tidak bisa dilepaskan dari urgensi menjaga keutuhan persatuan bangsa. Indonesia berhasil tersusun dari kemajemukan yang luar biasa, sehingga perlu bingkai kebangsaan dalam menjalani keyakinan yang dianut masing-masing warga negara.
Dia berharap, para dai memiliki paham yang komprehensif terhadap Islam. Islam tidak boleh dipahami sepotong-sepotong sesuai dengan kepentingannya saja.
“Jika Islam dipahami secara komprehensif, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI sudah tidak perlu dipersoalkan lagi. Islam dapat hidup di mana saja dengan tetap menjaga perdamaian warganya,” pungkas Kiai Zubaidi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya