Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Popularitas TikTok di Indonesia terus mengalami peningkatan signifikan, terutama di kalangan anak dan remaja. Platform ini bukan hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga sarana berekspresi dan berinteraksi. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, TikTok juga menghadapi sorotan serius terkait peredaran konten yang dinilai tidak aman bagi pengguna usia muda. Isu ini memicu kekhawatiran publik sekaligus menempatkan TikTok dalam situasi krisis reputasi.
Berbagai laporan dan diskusi publik menunjukkan bahwa algoritma rekomendasi TikTok masih memungkinkan anak dan remaja terpapar konten berisiko, mulai dari kekerasan verbal, perilaku berbahaya, hingga konten yang tidak sesuai dengan usia. Kondisi ini membuat peran platform digital tidak lagi dipandang netral, melainkan memiliki tanggung jawab sosial yang besar terhadap keamanan penggunanya.
Sorotan Publik dan Tekanan Regulator
Isu keamanan anak di ruang digital mendorong pemerintah Indonesia untuk bersikap lebih tegas. Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Pemerintah menegaskan bahwa platform digital wajib menjamin perlindungan anak dari konten berbahaya. Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan bahwa keselamatan anak merupakan prioritas utama dan platform harus bertanggung jawab penuh atas konten yang beredar di dalam ekosistemnya.
Selain pernyataan tegas tersebut, Komdigi juga menetapkan sanksi bagi platform yang dinilai lalai dalam menghapus konten bermuatan pornografi anak atau konten berbahaya lainnya. Aturan ini menegaskan bahwa moderasi konten bukan lagi sekadar komitmen moral, melainkan kewajiban hukum yang harus dipatuhi (Komdigi CSIRT, 2025).
Baca juga : Maroko, Afrika Selatan, dan Mali Lolos ke 16 Besar Piala Afrika 2025
Tekanan ini tidak hanya berdampak pada aspek regulasi, tetapi juga memengaruhi persepsi publik terhadap reputasi TikTok sebagai platform yang ramah bagi anak dan keluarga.
Respons TikTok terhadap Isu Konten Berbahaya
Menanggapi sorotan tersebut, TikTok Indonesia menyampaikan komitmennya untuk mematuhi regulasi yang berlaku, termasuk aturan pembatasan usia. TikTok juga menegaskan telah menyediakan fitur parental control yang memungkinkan orang tua mengatur jenis konten yang dapat diakses oleh anak.
Selain itu, TikTok menyatakan kesiapannya untuk menyesuaikan kebijakan internal apabila regulasi baru diterbitkan pemerintah. Pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk kepatuhan sekaligus upaya meredam kekhawatiran publik terkait keamanan pengguna muda.
Dari sudut pandang komunikasi krisis, langkah ini menunjukkan upaya TikTok dalam mengelola persepsi publik dengan menekankan kepatuhan terhadap regulasi dan keberadaan fitur keamanan. Namun, respons normatif saja belum tentu cukup untuk memulihkan kepercayaan publik secara menyeluruh.
Baca juga : Joss, Brimob Gencarkan Pengobatan Gratis & Bersihkan Sekolah di Palembayan Agam
Tantangan Moderasi dan Dinamika Algoritma
Meskipun kebijakan dan fitur keamanan telah tersedia, tantangan terbesar TikTok terletak pada skala platform dan kompleksitas algoritma rekomendasi. Beberapa studi dan laporan publik menunjukkan bahwa akun pengguna usia muda masih berpotensi menemukan konten tidak sesuai ketika menjelajahi halaman rekomendasi.
Hal ini mengindikasikan bahwa kontrol usia dan sistem penyaringan konten masih memiliki celah. Dalam konteks krisis reputasi, kondisi tersebut dapat memperpanjang persepsi negatif jika tidak diimbangi dengan komunikasi yang transparan dan perbaikan yang terukur.
Dengan kata lain, tantangan TikTok tidak hanya terletak pada aspek teknis moderasi, tetapi juga pada bagaimana perubahan dan perbaikan tersebut dikomunikasikan kepada publik.
Pendekatan TikTok dalam Memperkuat Reputasi
Baca juga : BSN Ajak Santri Perkuat Literasi Ekonomi Syariah
Untuk membangun kembali kepercayaan publik, TikTok perlu mengedepankan pendekatan komunikasi yang lebih terbuka dan berkelanjutan. Transparansi menjadi kunci penting, terutama dalam menjelaskan bagaimana sistem moderasi bekerja, bagaimana konten berbahaya diidentifikasi, serta peran pengguna dan orang tua dalam proses pelaporan.
Di sisi lain, membuka ruang dialog dengan regulator dan komunitas digital yang fokus pada keamanan anak dapat memperkuat citra TikTok sebagai platform yang bertanggung jawab. Kolaborasi ini bukan hanya bersifat simbolis, tetapi juga dapat memperkuat legitimasi kebijakan yang diambil platform.
Selain itu, TikTok dapat memanfaatkan strategi komunikasi publik yang lebih proaktif, seperti menyoroti peningkatan fitur keamanan, capaian moderasi konten, dan inisiatif perlindungan anak yang telah dilakukan. Penyampaian pesan yang konsisten dan terstruktur akan membantu menggeser narasi publik dari kontroversi menuju upaya perbaikan.
Kasus TikTok menunjukkan bahwa isu konten berbahaya dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis reputasi jika tidak dikelola secara strategis. Respons cepat saja tidak cukup; dibutuhkan komunikasi yang terbuka, konsisten, dan berbasis tanggung jawab sosial.
Melalui kombinasi perbaikan sistem, kolaborasi dengan regulator, serta strategi komunikasi yang terarah, TikTok memiliki peluang untuk memulihkan kepercayaan publik dan memperkuat posisinya sebagai platform digital yang aman bagi semua kalangan, khususnya anak dan remaja.
Tasya Fauzi
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya