Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kepercayaan Publik terhadap Media Mainstream Dinilai Masih Tinggi
Sabtu, 3 Oktober 2026 14:39 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Gempuran informasi dari media sosial yang diproduksi content creator, influencer hingga netizen sempat memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan profesi jurnalis dan media arus utama. Namun, di tengah maraknya hoaks, disinformasi dan konten hasil rekayasa artificial intelligence (AI), media mainstream justru dinilai memiliki peran semakin penting sebagai sumber informasi yang valid dan terverifikasi.
News Production Dept Head MNCTV Rachmat Hidayat mengatakan, anggapan profesi jurnalis akan punah dan industri pers akan mati tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, masyarakat tetap membutuhkan media yang mampu menyajikan informasi secara terverifikasi.
“Profesi jurnalis katanya akan punah dan industri pers akan mati? Saya sih tidak meyakini itu. Sebaliknya, peran jurnalis dan media mainstream semakin penting di era transformasi digital,” ujar Rachmat dalam kegiatan kuliah dosen tamu di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Fikom Ubharajaya), Kamis (19/9/2026).
Menurut Rachmat, loyalitas pemirsa dan kepercayaan publik terhadap media penyiaran mainstream masih terjaga. Masyarakat yang semakin jenuh dengan hoaks dan disinformasi dinilai kembali mencari informasi dari media yang memiliki proses verifikasi.
“Ketika masyarakat semakin jenuh dengan hoaks, disinformasi atau bahkan berita rekayasa menggunakan AI, akhirnya mereka kembali ke media mainstream untuk mencari kebenaran dan menghindari galau informasi,” katanya.
Dia menambahkan, kecenderungan tersebut semakin terlihat ketika masyarakat membutuhkan informasi mengenai isu penting, termasuk menjelang pemilihan umum maupun pemilihan presiden. Pada momentum tersebut, masyarakat cenderung mencari informasi melalui televisi terestrial maupun media massa lain yang telah terverifikasi.
Baca juga : Danantara Dorong Perubahan Budaya Korporasi
Hal tersebut disampaikan Rachmat dalam kegiatan bertema “Pengembangan Konsep Jurnalisme Ekstensi pada Siaran Televisi Terestrial dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”.
Dalam kesempatan itu, Rachmat menjelaskan perbedaan antara kerja jurnalistik dengan produksi informasi di media sosial. Jurnalis, kata dia, dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan untuk menghasilkan karya jurnalistik sesuai standar penyajian berita.
Selain memenuhi prinsip keberimbangan atau cover all sides, jurnalis juga dituntut mematuhi kode etik jurnalistik. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan informasi yang disampaikan valid, terkonfirmasi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Meski demikian, Rachmat menilai content creator maupun netizen juga dapat menjalankan fungsi jurnalistik apabila karya yang dihasilkan memenuhi kaidah jurnalistik, mengedepankan kode etik dan memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan.
Dia mencontohkan praktik jurnalisme warga yang dilakukan masyarakat dalam melaporkan bencana, persoalan lingkungan maupun perkembangan pembangunan. Informasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan sejalan dengan konsep jurnalisme ekstensi atau jurnalisme yang berorientasi pada penyuluhan.
“Konsep jurnalisme penyuluhan atau extension journalism menurut saya adalah bagian dari jurnalisme positif yang akan semakin menunjukkan manfaat dan peran pers dalam pembangunan,” ujarnya.
Baca juga : E-Voting Kemenkum Dinilai Positif, Pakar Soroti Kesiapan dan Roadmap
Menurut Rachmat, konten jurnalistik yang mengandung unsur edukasi dan persuasi sebenarnya memiliki peluang untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Namun, pemberitaan mengenai pembangunan jembatan, desa dan berbagai inovasi belum selalu dapat ditayangkan secara konsisten.
“Sayangnya memang berita-berita bermuatan edukasi dan persuasif seperti pembangunan jembatan, desa dan inovasi lainnya belum dapat ditayangkan konsisten. Persoalannya balik lagi ke nilai berita dan konsumsi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Fikom Ubharajaya, Dr. Yessi Sri Utami, mengapresiasi kehadiran praktisi media dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman praktisi dari industri penyiaran dapat membantu mahasiswa memahami dunia kerja media secara lebih dekat.
“Kehadiran praktisi jurnalis khususnya dari stasiun televisi siaran terestrial akan membantu mahasiswa mengenali dunia industri media dan penyiaran,” kata Yessi.
Dia berharap kegiatan kuliah dosen tamu yang melibatkan profesional dan terintegrasi dengan riset dosen pengampu mata kuliah dapat memperluas wawasan sekaligus memotivasi mahasiswa dalam mempersiapkan karier.
Dosen pengampu mata kuliah Penulisan Media, Dr. Metha Madonna, mengatakan kegiatan tersebut sebelumnya diawali Focus Group Discussion (FGD). Kegiatan ini juga terintegrasi dengan penelitian hibah internal Ubharajaya mengenai pengembangan jurnalisme ekstensi untuk siaran televisi terestrial.
Baca juga : FIKOM UMB Dorong Kreativitas Digital Remaja Masjid
Metha menjelaskan, jurnalisme ekstensi merupakan pengembangan dari konsep jurnalisme pembangunan. Jika jurnalisme pembangunan sebelumnya lebih banyak berfokus pada penyampaian informasi mengenai pembangunan, jurnalisme ekstensi diarahkan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang informatif, edukatif dan persuasif.
Tujuannya, kata dia, tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong terjadinya perubahan perilaku di masyarakat.
“Jurnalisme ekstensi merupakan mekanisme produksi karya jurnalistik yang informatif, edukatif dan persuasif dengan harapan terjadi perubahan perilaku pada masyarakat,” ujarnya.
Konsep tersebut juga menempatkan pers dan komunitas jurnalis warga sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan melalui karya jurnalistik yang dihasilkan.
Konseptualisasi jurnalisme ekstensi yang digagas Metha sebelumnya telah dipublikasikan dalam Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), edisi Juni 2026, Volume 11, Nomor 1. Artikel tersebut ditulis bersama Saeful Mujab dan Fikri Reza.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya