Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
“Hijrah Tapi Salah Circle? Ketika Pertemanan Diam-diam Membentuk Diri”
Sabtu, 3 Oktober 2026 20:18 WIB
Manusia adalah makhluk yang tidak pernah benar-benar terlepas dari pengaruh lingkungannya. Hal yang terus-menerus dilihat, didengar, dan dilakukan bersama orang-orang di sekitarnya, perlahan dapat membentuk cara berpikir, sikap, hingga perilakunya. Bahkan, sesuatu yang semula terasa asing, tidak lazim, atau dianggap salah dapat berubah menjadi hal yang biasa ketika terus hadir dan berulang dalam lingkungan sosial. Tanpa disadari, manusia tidak hanya hidup di dalam lingkungan, tetapi juga dibentuk oleh apa yang ia lihat dan alami di dalamnya.
Bayangkan seorang remaja yang sejak awal memiliki kebiasaan belajar dengan tekun. Ia mungkin memiliki cita-cita yang besar, tetapi dalam perjalanan mencapainya, semangat tidak selalu berada pada titik yang sama. Ada kalanya rasa malas datang, ada saatnya pelajaran terasa sulit, bahkan ada waktu ketika target yang ingin dicapai terasa begitu jauh.
Di sinilah lingkungan pertemanan memiliki peran penting. Ketika ia berada di tengah teman-teman yang memiliki semangat belajar dan cita-cita yang tinggi, energi positif itu dapat ikut membentuk dirinya. Saat mulai malas, ada teman yang mengajak kembali belajar. Ketika menghadapi kesulitan, ada ruang untuk berdiskusi dan saling membantu. Ketika memiliki target untuk masuk ke perguruan tinggi tertentu, mereka dapat saling menyemangati dan mengingatkan agar tidak mudah menyerah.
Perjalanan meraih cita-cita tidak selalu ditentukan oleh kemampuan seseorang semata. Siapa yang berada di sekelilingnya juga dapat memberi warna pada perjalanan tersebut. Lingkungan yang baik bukan hanya membuat seseorang merasa ditemani, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk bertumbuh, belajar, dan saling menguatkan dalam mengejar masa depan.
Sebaliknya, pengaruh lingkungan tidak selalu membawa seseorang ke arah yang lebih baik. Seseorang yang sebenarnya memiliki kemampuan akademik yang baik pun dapat mengalami perubahan ketika setiap hari berada dalam lingkungan yang kurang mendukung. Misalnya, ketika pertemanan lebih banyak diisi dengan kebiasaan nongkrong hingga larut malam, bermain game berjam-jam, membolos sekolah, menunda tugas, atau menganggap belajar sebagai sesuatu yang tidak penting.
Pada awalnya, mungkin seseorang hanya ikut sesekali. Namun, sesuatu yang dilakukan berulang kali dapat perlahan berubah menjadi kebiasaan. Waktu belajar mulai berkurang, kedisiplinan melemah, tanggung jawab terhadap tugas terabaikan, dan prestasi akademik pun dapat ikut menurun. Yang berubah bukan hanya rutinitas sehari-hari, tetapi juga cara seseorang memandang apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
Di sinilah pengaruh pertemanan menjadi menarik untuk direnungkan. Lingkungan tidak selalu memaksa seseorang untuk berubah secara langsung. Sering kali, perubahan justru terjadi secara perlahan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus diulang bersama. Apa yang awalnya hanya dilakukan karena ingin menyesuaikan diri, lama-kelamaan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan beragama. Pertemanan dapat menjadi salah satu ruang yang ikut membentuk kebiasaan dan cara seseorang menjalankan nilai-nilai agama. Berada di lingkungan yang terbiasa menjaga salat, rajin mengaji, memiliki akhlak yang baik, dan senang melakukan kebaikan dapat memberikan pengaruh positif dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika waktu salat tiba, ada teman yang mengingatkan. Saat semangat mengaji mulai menurun, ada yang mengajak untuk kembali meluangkan waktu. Ketika melakukan kesalahan, ada pula teman yang dengan tulus berani mengingatkan dan memberikan nasihat. Hal-hal sederhana seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi jika hadir secara konsisten, dapat membantu seseorang menjaga kebiasaan baik dan tetap berada di jalan yang ingin ia tempuh.
Pada akhirnya, teman yang baik bukan hanya mereka yang hadir ketika kita sedang bahagia, tetapi juga mereka yang bersedia mengingatkan ketika kita mulai menjauh dari nilai-nilai yang kita yakini. Dalam proses hijrah, kehadiran teman seperti ini dapat menjadi bagian penting dari perjalanan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga istiqamah.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ ١١٩
Baca juga : Aku adalah Siapa Teman Dekatku
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian orang-orang yang jujur/banar. Q.S. At-Taubat ayat 119.
Dalam ayat tersebut, Allah tidak hanya memerintahkan orang yang beriman untuk menjadi pribadi yang benar, tetapi juga mengajarkan pentingnya berada bersama orang-orang yang benar. Pesan ini menunjukkan bahwa kebaikan bukan hanya tentang bagaimana seseorang membentuk dirinya sendiri, tetapi juga tentang siapa yang hadir dalam perjalanan hidupnya.
Lingkungan yang baik dapat menjadi ruang yang membantu seseorang menjaga nilai-nilai yang diyakininya. Ketika berada di tengah orang-orang yang berusaha menjaga kebaikan, seseorang mendapatkan teladan, pengingat, sekaligus dukungan untuk tetap berada pada jalan yang telah dipilihnya. Dengan demikian, memilih lingkungan pertemanan bukan sekadar persoalan menemukan orang yang menyenangkan untuk diajak bersama, tetapi juga bagian dari ikhtiar untuk menjaga diri dan mempertahankan kebaikan.
Rasulullah SAW juga memberikan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari tentang pengaruh pertemanan. Beliau mengumpamakan teman yang baik seperti penjual minyak wangi, sedangkan teman yang buruk seperti pandai besi. Seseorang yang berada di dekat penjual minyak wangi dapat memperoleh minyak wangi, membelinya, atau setidaknya mencium aroma harum yang terbawa dari tempat tersebut. Sebaliknya, orang yang berada di dekat pandai besi dapat terkena percikan api atau setidaknya mencium bau yang kurang sedap.
Perumpamaan tersebut menggambarkan bahwa seseorang dapat membawa pengaruh dari lingkungan yang sering ia datangi dan orang-orang yang sering berinteraksi dengannya. Pengaruh itu tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat atau ajakan secara langsung. Terkadang, ia hadir melalui sesuatu yang lebih sederhana: apa yang setiap hari dilihat, didengar, dibicarakan, dan dilakukan bersama.
Karena itu, seorang perlu berhati-hati dalam memilih lingkungan pertemanan. Jangan terlalu yakin dengan mengatakan, “Saya hanya berteman”, “Saya tidak akan ikut”, “Saya bisa menjaga diri”, atau “Saya tidak akan terpengaruh”. Keyakinan untuk menjaga diri memang penting, tetapi manusia tetap memiliki keterbatasan. Ketika seseorang terus-menerus berada dalam lingkungan yang sama, melihat kebiasaan yang sama, dan berinteraksi dengan orang-orang yang sama, sesuatu yang awalnya terasa asing dapat perlahan menjadi biasa.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya mampu memengaruhi teman saya?”, tetapi juga, “Ke arah mana pertemanan ini sedang membawa saya?” Sebab, tanpa disadari, orang-orang yang paling sering kita temui dapat ikut membentuk kebiasaan, cara berpikir, dan bahkan arah perjalanan hidup kita.
Yunus Pramono
Penulis dan pendidik di Yayasan Rizki Basitho Insani dan Universitas Pancasila
Penulis dan pendidik di Yayasan Rizki Basitho Insani dan Universitas Pancasila
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya