Dark/Light Mode

Osteoporosis Mengintai Lansia, Patah Tulang Panggul Bisa Berujung Fatal

Jumat, 16 Oktober 2026 18:41 WIB
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Panggul dan Lutut Siloam Hospital TB Simatupang Wijaya Johanes Chendra bersama Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Siloam Hospital TB Simatupang Bernadette Laura dalam acara Media Interview di Jakarta, Jumat (16/10/2026). (Foto: MER/RM)
Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Panggul dan Lutut Siloam Hospital TB Simatupang Wijaya Johanes Chendra bersama Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Siloam Hospital TB Simatupang Bernadette Laura dalam acara Media Interview di Jakarta, Jumat (16/10/2026). (Foto: MER/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Osteoporosis pada lanjut usia (lansia) perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan patah tulang yang berujung pada kecacatan, hilangnya kemandirian, hingga peningkatan risiko kematian, terutama jika terjadi pada bagian panggul.

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Konsultan Panggul dan Lutut Siloam Hospitals TB Simatupang, Wijaya Johanes Chendra, mengatakan osteoporosis merupakan kondisi penurunan kepadatan dan kualitas tulang yang membuat tulang lebih rentan patah. Penyakit tersebut kerap tidak menunjukkan gejala hingga terjadi patah tulang.

“Fraktur panggul merupakan salah satu komplikasi paling berat karena berkaitan erat dengan penurunan kemandirian, kecacatan jangka panjang, hingga peningkatan risiko kematian pada lansia,” kata Wijaya di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Secara global, lebih dari 500 juta orang diperkirakan hidup dengan osteoporosis. Risiko patah tulang akibat kerapuhan tulang juga cukup tinggi, yakni dialami sekitar satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia di atas 50 tahun.

Di Indonesia, risiko osteoporosis menjadi perhatian seiring bertambahnya jumlah penduduk lansia. Angka osteoporosis bahkan diproyeksikan meningkat hingga 135 persen pada 2050.

Baca juga : Beri Prioritas Pada Literasi Kesehatan

Wijaya menjelaskan tiga bagian tubuh yang paling rentan mengalami patah tulang akibat osteoporosis adalah panggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Patah tulang belakang terkadang tidak terdiagnosis, padahal dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan, perubahan postur tubuh, hingga penurunan tinggi badan.

Penanganan patah tulang akibat osteoporosis disesuaikan dengan lokasi cedera dan kondisi pasien. Patah tulang panggul umumnya membutuhkan operasi untuk memperbaiki atau mengganti bagian tulang yang rusak, dengan tindakan sedini mungkin apabila kondisi pasien memungkinkan.

Sementara itu, patah tulang pergelangan tangan dapat ditangani melalui operasi jika posisi tulang bergeser atau tidak stabil. Adapun patah tulang belakang umumnya ditangani tanpa operasi terlebih dahulu, kecuali terdapat indikasi medis tertentu.

Wijaya mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami kelemahan atau mati rasa pada tungkai, serta gangguan buang air kecil dan besar setelah cedera.

“Tidak semua patah tulang memerlukan operasi. Pilihan penanganan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan dikonsultasikan segera ke dokter,” ujarnya.

Baca juga : Dokter 92 Tahun Masih Lincah Di Ruang Bedah

Selain penanganan medis, pencegahan osteoporosis dapat dilakukan melalui gaya hidup sehat dan aktivitas fisik yang tepat. Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Siloam Hospitals TB Simatupang, Bernadette Laura, mengatakan olahraga yang memberikan beban pada tulang dapat membantu menjaga kepadatan tulang.

“Aktivitas fisik juga memperkuat otot, melatih keseimbangan, dan mengurangi risiko jatuh yang dapat berujung patah tulang,” kata Bernadette.

Jenis olahraga yang dapat dilakukan antara lain berjalan kaki, naik tangga, dan latihan beban. Latihan fleksibilitas serta keseimbangan juga penting untuk mengurangi risiko jatuh.

Namun, penderita osteoporosis perlu menyesuaikan jenis dan intensitas olahraga dengan kondisi masing-masing. Latihan sebaiknya dilakukan secara aman dan terstruktur dengan arahan tenaga medis untuk memperoleh manfaat optimal tanpa meningkatkan risiko cedera.

Executive Director Siloam Hospitals TB Simatupang, Mada Shinta Dewi, mengatakan deteksi dini dan penanganan osteoporosis membutuhkan dukungan berbagai disiplin medis.

Baca juga : Ongkos Pendamping Haji Lansia: Siapa Sebenarnya yang Membayar?

Dalam rangka memperingati Hari Osteoporosis Sedunia pada 20 Oktober, Siloam Hospitals TB Simatupang mengajak masyarakat menjaga kesehatan tulang melalui evaluasi faktor risiko, pemeriksaan sesuai indikasi, dan konsultasi dengan dokter spesialis.

Mengusung tema Hari Osteoporosis Sedunia 2026, Build, Protect, Strengthen Your Bones for Life, masyarakat diingatkan untuk menjaga kesehatan tulang sepanjang hidup guna menekan risiko patah tulang dan mempertahankan kualitas hidup hingga usia lanjut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.