Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Sidang Gus Yaqut, Saksi Ceritakan Evaluasi Pelayanan Haji 2024
- KPK Lantik 7 Pejabat, Achmad Taufik Husein Jadi Direktur Penyidikan
- Ditelepon Teddy, Dirut KAI Merapat ke Istana
- Gunung Semeru 6 Kali Batuk-Batuk, Hindari Radius 13 Km Dari Pusat Erupsi
- Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Dimulai, Pendaftaran 5-10 November 2026
2 Naskah Nusantara Usulan Perpusnas Resmi Tercatat di Register MoW Asia Pasifik
Jumat, 6 November 2026 06:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dua naskah Nusantara yang diajukan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) bersama para mitra, yakni Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima, Saksi Erupsi Tambora 1815 dan Kidung Bhuwana Wināśa (Nyanyian tentang Dunia yang Telah Lenyap), resmi tercatat dalam Register Ingatan Dunia UNESCO untuk kawasan Asia dan Pasifik pada Pertemuan Umum ke-11 Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP), di Jakarta.
Terpilihnya kedua naskah tersebut menjadi bentuk pengakuan atas nilai sejarah dan pengetahuan yang terkandung dalam warisan dokumenter Nusantara. Keduanya memiliki keunikan yang tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi kawasan Asia Pasifik.
Pengajuan Bo’ Sangaji Kai dilakukan Perpusnas bersama Yayasan Museum Samparaja Bima dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sementara, Kidung Bhuwana Wināśa diajukan bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung, Gria Agung Mandara Pemaron, serta Gria Gede Belayu.
Penyerahan sertifikat Register Ingatan Dunia UNESCO untuk kawasan Asia dan Pasifik pada Pertemuan Umum ke-11 Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP), di Jakarta, Kamis (5/11/2026). (Foto: Dok. Perpusnas)
Baca juga : “Kupu-kupu Alam” Bawa Supriyono Raih Anugerah Pustakawan Indonesia 2026
Kepala Perpusnas, Prof. E. Aminudin Aziz, menjelaskan bahwa kedua naskah tersebut berasal dari koleksi yang telah ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON). Ia menambahkan, proses penilaian di tingkat nasional dilakukan oleh tim Memory of the World Indonesia bersama tim IKON untuk menentukan naskah yang layak diajukan ke tingkat regional Asia Pasifik.
Ia menguraikan, Bo’ Sangaji Kai memuat catatan perjuangan Kesultanan Bima sekaligus kesaksian mengenai peristiwa erupsi Gunung Tambora pada 1815. Catatan tersebut menjadi salah satu keunikan naskah yang memiliki nilai sejarah luar biasa. Sementara, Kidung Bhuwana Wināśa merupakan autograf karya Ida Pedanda Ngurah yang merekam peristiwa Puputan di Klungkung. Naskah tersebut juga memiliki nilai sastra yang tinggi.
“Kedua hal inilah yang kemudian dijadikan dasar bagaimana kita mengajukan sesuatu yang unik, yang tidak dimiliki oleh yang lain,” ujar Aminudin, di Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Baca juga : Perpusnas Kembangkan Human Library, Perjalanan Hidup Jadi Sumber Pembelajaran
Ia menyambut baik pengakuan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap catatan sejarah dan karya masyarakat Indonesia. “Pengakuan ini sekaligus menunjukkan bahwa upaya pelestarian naskah yang dilakukan selama ini memiliki arti penting, bukan hanya dari sisi keberadaan fisiknya, melainkan juga kandungan pengetahuan dan nilai sejarah di dalamnya,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa terpilihnya kedua naskah tersebut bukanlah akhir dari upaya pelestarian. Perpusnas bersama para mitra perlu melanjutkan upaya pengkajian dan pemanfaatan kandungan naskah, termasuk menjadikannya sumber rujukan untuk memperkaya pemahaman tentang masa lalu berdasarkan sumber dokumenter.
“Naskah ini perlu dimanfaatkan dan bisa menjadi sumber rujukan untuk pendidikan. Pendidikan karakter bagi bangsa kita,” tandasnya.
Kegembiraan menerima sertifikat MoW Asia Pasifik (Foto: Dok. Perpusnas)
Baca juga : Perpusnas-Kemenbud Bersinergi dalam 4 Ruang Lingkup Pemajuan Warisan Budaya
Setelah memperoleh pengakuan, Aminudin merinci bahwa langkah selanjutnya adalah mengolah, mempelajari, dan memanfaatkan kandungan pengetahuan dalam naskah. Salah satunya dengan menghadirkan isi naskah dalam bentuk bacaan yang dapat diakses generasi masa kini, sekaligus menggali nilai-nilai yang dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kepala Perpusnas mengingatkan, naskah-naskah Nusantara tidak cukup hanya dirawat dan disimpan. Kandungan di dalamnya perlu terus digali agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Perpusnas bersama para mitra juga perlu bekerja lebih terampil dan kreatif, baik dalam mengembangkan pemanfaatan naskah maupun mengidentifikasi naskah-naskah lain yang berpotensi diajukan sebagai bagian dari Memory of the World (MoW),” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya