Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Surat Haru Messi untuk Sang Ayah: Mengapa Tak Bertahan Sedikit Lebih Lama?
- Persik Bidik Trofi Internasional di Turnamen Pramusim Malaysia
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- Penyaluran KUR BRI Hingga Akhir Juni 2026 Capai Rp103,81 T Dukung Danantara
- Diperiksa KPK, Bebizie Sebut Hanya Jalani Profesi sebagai Penyanyi
Buku Takhta, Darma & Karsa Ungkap Warisan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia
Kamis, 13 Agustus 2026 21:36 WIB
Di tengah tantangan krisis karakter, pragmatisme, dan derasnya disrupsi digital, pemikiran serta keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX kembali dihadirkan untuk menjawab kebutuhan generasi muda Indonesia masa kini.
Melalui peluncuran buku “Takhta, Darma, & Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX”, Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas mengajak masyarakat, khususnya generasi muda dan keluarga besar Gerakan Pramuka, untuk tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi menghidupkan kembali semangat pengabdian yang diwariskan Sri Sultan HB IX.
Buku tersebut diluncurkan Kamis, 13 Agustus 2026, di Auditorium Sukarman, Lantai 2, Perpustakaan Nasional, Jakarta. Sri Sultan Hamengku Bawono X meluncurkan buku yang disusun sebagai bagian dari upaya mendukung pengembangan pendidikan kepramukaan.
Sebagai pembicara kunci, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu'ti menyoroti pentingnya buku ini sebagai rujukan utama pendidikan karakter dan kebijakan integrasi kepramukaan berbasis sekolah di Tanah Air. Mendikdasmen juga menegaskan bahwa keimanan kepada Tuhan merupakan salah satu hal yang membedakan Pramuka Indonesia dengan kepanduan yang lain, yang tertuang dalam Dasa Darma.
Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas bekerja sama dengan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (Kwarda DIY), ditulis oleh Dr. Harto Juwono, M.Hum. dan Anis Ilahi Wahdati, M.Si. Penerbitan buku ini juga didukung Perpustakaan Nasional, Arsip Nasional Republik Indonesia, Masyarakat Sejarawan Indonesia, dan Penerbit Andi Offset Yogyakarta.
Baca juga : JIA Communications Rilis Buku Panduan Praktis Pengukuran Dampak Keberlanjutan
Buku Takhta, Darma, & Karsa tidak hadir sebagai biografi yang sekadar mengisahkan perjalanan hidup seorang tokoh. Buku ini merupakan historiografi gagasan, karya, dan filosofi kepemimpinan Sri Sultan HB IX, khususnya dalam membangun Gerakan Pramuka sebagai instrumen pendidikan karakter dan pembangunan bangsa.
Trilogi Takhta, Darma, & Karsa menjadi gagasan utama buku ini: takhta adalah instrumen kekuasaan, darma adalah pengabdian, sedangkan karsa adalah kehendak luhur yang menggerakkan keduanya untuk kepentingan rakyat dan kedaulatan bangsa. Dengan demikian, kekuasaan tidak ditempatkan sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Pramuka, dalam pemikiran Sri Sultan HB IX, harus hadir menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Dalam pidato legendarisnya di Tokyo pada tahun 1971 berjudul “Scout Action for Community Development”, beliau mengubah kiblat kepanduan dunia dengan memindahkan ruang belajar dari sekadar rekreasi petualangan hutan (woodcraft) menjadi bakti nyata pembangunan masyarakat pedesaan (community/rural development).
Gagasan tersebut mendapat pengakuan internasional melalui penganugerahan Bronze Wolf Award, penghargaan tertinggi dalam gerakan kepanduan dunia, kepada Sri Sultan HB IX pada tahun 1973.
Bagi Sri Sultan Hamengku Bawono X, warisan Sri Sultan HB IX harus diteruskan bukan dengan sekadar menjaga bentuk-bentuk lama, melainkan dengan menghidupkan nilai dan semangat yang mendasarinya. Menurutnya, sebuah buku pada hakekatnya adalah menahan peradaban agar tidak segera berlalu. Laku dan keteladanan seorang manusia jawa, yang dipercaya sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
Baca juga : “Punya DNA Petarung, Bisa Jadi Pemimpin Yang Berhasil”
Pihaknya menegaskan bahwa takhta, sejatinya bukan privilege, melainkan tanggung jawab, karsa bukan ambisi pribadi tapi kehendak mengabdi dengan tulus. Hamengkubawono X berharap, buku ini menjadi jangkar bagi anggota pramuka di seluruh Indonesia, menghidupkan nilainya di masa kini.
Ketua Kwarda DIY GKR Hayu menegaskan, atu ajaran moral penting yang ditinggalkan oleh Sri Sultan HB IX dan terus direkonstruksi dalam buku ini adalah filosofi "Takhta untuk Rakyat" melalui pilihan "Jalan Mukti".
Pihaknya meyakini bahwa mengabdi di dalam Gerakan Pramuka bukanlah ruang untuk memburu tanda jasa, mencari panggung kehormatan, atau mengincar kedudukan, melainkan sebuah ruang suci kerelawanan tempat kita menempa kedaulatan mental dan ketahanan karakter generasi muda.
Sementara itu, Ketua Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas Acep Somantri memandang pemikiran Sri Sultan HB IX memiliki relevansi kuat bagi pembangunan karakter generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua Kwartir Nasional Kak Budi Waseso memberikan apresiasi kepada Yayasan dan Kwarda DIY atas peluncuran buku ini.Buku ini akan menjadi inspirasi bagi generasi saat ini dan masa datang. Ia menyatakan, Pramuka tidak boleh berhenti pada simbol, tetap dekat dengan masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan negara,” tegasnya.
Baca juga : Kemenag Terbitkan 40 Buku Digital PAI untuk Siswa PAUD hingga Mahasiswa
Menurutnya, warisan penting yang harus dihidupkan, keberanian untuk memberikan pembaruan, dan ketulusan untuk mengabdi. Tugas kita menjaga agar api karsa, api pengabdian, dan api keberpihakan pada generasi muda. Semoga keteladanan Kak Sultan harus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas akan membentuk “Bapak Pramuka Indonesia Fellowship” untuk melestarikan nilai-nilai keteladanan, darma dan karsa Sri Sultan HB IX, yang diharapkan dapat diluncurkan pada 12 April 2027.
Dengan demikian, ini bukan sekadar peluncuran buku biasa, namun menjadi ajakan untuk kepada generasi muda Indonesia menyalakan kembali api pengabdian yang tanpa batas.
Sehingga tidak lagi hanya mengetahui siapa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tetapi juga menyelami pemikiran besarnya dan bagaimana keteladanannya dapat dihidupkan kembali di era sekarang ini untuk mendukung pembentukan karakter bangsa dan pembangunan nasional.
Peluncuran buku ini turut dihadiri jajaran tamu dari Kwartir Nasional, Kwartir Daerah se-Indonesia, Kepala BPIP, perwakilan Lemhanas, Kepala ANRI, dan undangan lainnya.**
PramukaJogja
Pramuka Jogja
Pramuka Jogja
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya