Dark/Light Mode

Diduga Korban Bullying

Menkes Malaysia Minta, Kasus Bunuh Diri Dokter Di Sabah Diusut Tuntas

Selasa, 17 September 2024 18:05 WIB
Menkes Malaysia Dzulkefly Ahmad (Foto: Instagram)
Menkes Malaysia Dzulkefly Ahmad (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia Dzulkefly Ahmad dan Asosiasi Medis Malaysia mendesak pihak berwenang untuk melakukan investigasi menyeluruh atas tewasnya seorang dokter di Sabah, yang diduga bunuh diri akibat perundungan (bullying) di tempat kerja.

Dzulkefly menegaskan, pihaknya memegang teguh komitmen anti perundungan, yang telah disampaikan sejak dia menjabat Menkes pada tahun 2018.

“Saya akan tetap teguh pada kebijakan ini. Semua staf Kemenkes berhak atas lingkungan kerja yang aman dan adil. Saya paham, budaya kerja yang toksik masih ada. Ini harus dihentikan,” kata Dzulkefly via X, Selasa (17/9/2024).

Seruan serupa juga disampaikan Presiden Asosiasi Medis Malaysia, Kalwinder Singh Khaira. Menurutnya, aksi bunuh diri ini menggarisbawahi kekhawatiran serius tentang kesehatan mental dan kesejahteraan dokter, dalam sistem perawatan kesehatan publik.

Baca juga : Dorong Proses Hukum Kasus Bunuh Diri dr. Aulia Risma, Menkes: Saya Kasih Polisi

“Komunitas medis memantau situasi ini dengan cermat. Kami menghargai setiap tanggapan yang cepat dan transparan,” ujarnya.

Dr. Tay Tien Yaa (30) yang mengepalai Unit Patologi Kimia di RS Lahad Datu, ditemukan meninggal di rumah kontrakannya pada 29 Agustus 2024.

Kematian Dr. Tay menjadi sorotan publik, setelah saudara laki-lakinya mengunggah postingan Facebook pada Sabtu (14/9/2024) tentang bunuh diri, yang menurutnya disebabkan oleh perundungan di tempat kerja.

Survei tahun 2023 mengungkap, sekitar 30-40 persen dokter di Malaysia pernah mengalami beberapa bentuk perundungan. Asosiasi Medis Malaysia menyatakan keprihatinan yang mendalam soal ini.

Baca juga : SIM Keliling Bekasi Selasa 27 Agustus Hadir Di Pizza Hut Komsen Jatiasih

Asosiasi tersebut juga mendesak para dokter, untuk melaporkan perundungan di tempat kerja atau mengajukan laporan ke polisi.

Tanggapan Keluarga

Melansir The Star, polisi setempat mengatakan, tidak ada dugaan tindak pidana dalam kematian Dr. Tay.

Kepala Polisi Distrik Lahad Datu, Dzulbaharin Ismail menyebut, insiden ini diklasifikasikan sebagai kematian mendadak.

Keluarga Dr. Tay mengunggah foto di Facebook, menyatakan duka mendalam atas bunuh diri yang mereka klaim dipicu perundungan di tempat kerja.

Baca juga : SIM Keliling Bekasi Selasa 20 Agustus Hadir Di Pizza Hut Komsen Jatiasih

"Orang-orang yang mengenal Dr. Tay akan mengingatnya sebagai pribadi yang baik, peduli, bijaksana, setia. Serta seorang saudara perempuan, teman, kolega, mitra, dan pemimpin yang luar biasa," tulis saudara perempuannya.

Saudara laki-lakinya menambahkan, dalam keterkejutan yang luar biasa karena kehilangan Dr. Tay, keluarga dekat dan teman-temanmu merasa sangat menyesal, bersalah, sedih, dan menyalahkan diri sendiri.

Dr. Tay lulus dari Universitas Kedokteran Negeri Volgograd Rusia pada tahun 2013. Dia pernah bekerja di Johor dan Kuala Lumpur, sebelum menyelesaikan gelar masternya di bidang Patologi Kimia di Universiti Kebangsaan Malaysia, pada tahun lalu.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.