Dark/Light Mode

Presiden Korsel Bertemu Xi Jinping

Lee Jae Myung Boyong Pengusaha Kelas Kakap

Selasa, 6 Januari 2026 04:01 WIB
LAMBAIKAN TANGAN: Presiden Lee Jae Myung (kanan) melambaikan tangan saat dia dan Ibu 
Negara Kim Hea Kyung bersiap naik pesawat kepresidenan yang akan berangkat ke China, di Bandara 
Seoul di Seongnam, Provinsi Gyeonggi, Minggu (4/1/2026). (Foto via Yonhap)
LAMBAIKAN TANGAN: Presiden Lee Jae Myung (kanan) melambaikan tangan saat dia dan Ibu Negara Kim Hea Kyung bersiap naik pesawat kepresidenan yang akan berangkat ke China, di Bandara Seoul di Seongnam, Provinsi Gyeonggi, Minggu (4/1/2026). (Foto via Yonhap)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kunjungan Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung ke Beijing bersama 200 delegasi menjadi strategi Seoul menjaga keseimbangan di tengah rivalitas Amerika Serikat (AS)– China dan ketegangan di Asia Timur.

Korsel melangkah hati-hati di tengah lanskap geopolitik Asia Timur yang kian bergejolak. Di antara rivalitas AS dan China, serta memanasnya hubungan Beijing–Tokyo. Upaya itu tercermin dari kunjungan kenegaraan Presiden Lee Jae Myung ke China, awal Januari 2026.

Lee tiba di Beijing Capital International Airport pada 4 Januari 2026 pukul 13.30 waktu setempat. Dari pesawat kepresidenan, dia turun bersama Ibu Negara Kim Hye-kyung. Lee tampil dengan setelan hitam berdasi merah, sementara sang istri mengenakan mantel biru tua.

Lee datang atas undangan langsung Presiden China Xi Jinping. Kedatangannya disambut Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China Yin Hejun, Duta Besar China untuk Korsel Dai Bing, serta Duta Besar Korsel untuk China Noh Jae-heon.

Lee tidak datang sendiri. Lebih dari 200 delegasi turut menyertainya. Melansir South China Morning Post (SCMP), rombongan tersebut terdiri dari para pemimpin bisnis papan atas Korsel. Di antaranya Chairman Samsung Electronics Lee Jae-yong, Chairman SK Group Chey Tae-won, serta Executive Chairman Hyundai Motor Group Chung Eui-sun. Kehadiran para taipan itu menegaskan bahwa diplomasi kali ini tak hanya soal politik, tetapi juga ekonomi.

Baca juga : Temui Xi Jinping Di Beijing, Macron Mau Tekan Rusia Melalui China

Selama empat hari, Lee dijadwalkan mengunjungi Beijing dan Shanghai. Di Beijing, dia menghadiri forum bisnis Korsel–China dan melakukan pertemuan puncak dengan Presiden Xi Jinping di Istana Kepresidenan pada Senin (5/1/2026). Selain penandatanganan sejumlah nota kesepahaman, Xi juga menggelar jamuan makan malam kenegaraan untuk menghormati tamunya.

Menurut Penasihat Utama Korsel, Wi Sung-lac, Lee juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri China Li Qiang pada Selasa (6/1/2026). Pertemuan ini diharapkan memperkuat komunikasi strategis di tengah ketidakpastian global.

Usai dari Beijing, Lee melanjutkan perjalanan ke Shanghai, pusat keuangan China sekaligus rumah bagi komunitas bisnis Korsel. Di kota ini, Lee menghadiri pertemuan puncak perusahaan rintisan, serta mengunjungi bekas markas Pemerintah Korea di pengasingan pada masa penjajahan Jepang— sebuah simbol historis yang sarat pesan diplomatik.

Kunjungan ini berlangsung di tengah situasi regional yang bergejolak. Lee "menari" di tengah gejolak itu karena harus menavigasi persaingan AS–China, ketegangan China–Jepang, serta ancaman nuklir Korea Utara (Korut). Di saat yang sama, Korsel tetap ingin menjaga peluang kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan dengan Beijing.

“China adalah mitra kerja sama yang sangat penting dalam upaya menuju perdamaian dan penyatuan di Semenanjung Korea,” ujar Lee, dikutip dari Channel News Asia (CNA), Senin (5/1/2026).

Baca juga : Menteri Purbaya Pamer Jaket Varsity Produk Pengusaha Jebolan Ponpes Wali Barokah

Hubungan China dan Jepang berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Ketegangan memuncak setelah pernyataan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi pada November 2025. Saat itu, Takaichi menegaskan bahwa serangan lintas selat terhadap Taiwan dapat dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup Jepang, dan Tokyo tidak akan ragu merespons secara militer.

Beijing meradang. Pasalnya, Negeri Tirai Bambu itu menganggap Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah China. Isu inilah yang menjadi salah satu sumber ketegangan utama di Asia Timur.

Namun, Lee menegaskan Korsel tidak ingin terseret lebih jauh. Dalam wawancara dengan media China, CCTV, Lee menekankan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

“Terkait isu utama China, termasuk Taiwan, kami akan terus menjunjung tinggi prinsip One China,” ujarnya.

Kedatangan Lee ke Beijing juga diharapkan dapat membantu menyeimbangkan isu-isu keamanan regional, termasuk ancaman nuklir Korut. Lee berharap, China dapat memainkan peran lebih aktif dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di Semenanjung Korea.

Baca juga : Ditregident Korlantas Polri Instruksikan Penguatan Program Polantas Menyapa

Beberapa jam sebelum Lee bertolak ke Beijing, Korut menembakkan rudal balistik ke Laut Jepang. Militer Korsel menyebutnya sebagai uji coba rudal pertama Korut di awal 2026. Langkah ini sebagai pengingat bahwa ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda.

Selama puluhan tahun, Seoul terus berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan dua tetangganya, China dan Jepang, sembari tetap menjalin kemitraan erat dengan AS sebagai penjamin utama pertahanannya.

Profesor Universitas Studi Asing Hankuk, Seoul, Kan Ju-young, menilai kunjungan ini juga mencerminkan kepentingan Beijing. “China memandang Korsel sebagai mata rantai terlemah ketika kerja sama trilateral Korsel, Amerika Serikat dan Jepang semakin menguat,” ujarnya kepada AFP.

Di tengah perselisihan Beijing–Tokyo, Lee memilih tetap berada di luar pusaran konflik. Baginya, memihak hanya akan memperburuk ketegangan kawasan. Dalam bidang ekonomi, dia justru mendorong kerja sama yang lebih erat. “Korsel dan China harus bergerak menuju perdagangan yang saling menguntungkan,” pungkas Lee.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.