Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Komut Pertamina: Inovasi, Profesionalisme, dan Empati Kunci Pelayanan ke Masyarakat
- De la Fuente: Spanyol Tampil Nyaris Sempurna
- Qodari: Stimulus Ekonomi Semester II Arahan Prabowo Jaga Daya Beli
- Bupati Langkat yang di-OTT Tiba di Gedung KPK, Jalani Pemeriksaan Lanjutan
- Tanjung Verde Siap Singkirkan Lionel Messi Cs
Dampak Gelombang Panas di Eropa: Kebakaran Hutan Meluas, Ban Mobil Meleleh
Jumat, 3 Juli 2026 21:33 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Gelombang panas yang melanda Eropa kian mengkhawatirkan. Cuaca di sebagian besar Benua Biru itu mencapai di atas 40 derajat celcius. Dampaknya, kebakaran hutan meluas, aspal dan ban mobil pun sampai meleleh.
Salah satu negara yang paling parah kena dampak adalah Prancis. Ribuan orang di negara pusat mode dunia itu meninggal dunia akibat sengatan panas. Kebakaran hutan muncul di Kota Sainte-Marie-la-Mer dan meluas hingga ke Canet-en-Roussillon. Para wisatawan dan penduduk setempat yang berjumlah sekitar 3.000 orang terpaksa mengungsi di dan
Seperti dilaporkan AFP, Jumat (3/7/2026), kebakaran bermula di sebuah area perkemahan. Kebakaran lalu meluas menghancurkan puluhan karavan dan merembet ke kawasan dermaga. Asap tebal menyelimuti dermaga dan wilayah sekitar.
"Hampir 3.000 orang telah dievakuasi. Separuh di antaranya berasal dari tiga lokasi perkemahan di wilayah yang terdampak," kata otoritas pemadam kebakaran setempat.
Pejabat daerah tertinggi wilayah Pyrenees-Orientales, Pierre Regnault de La Mothe, mengatakan sebanyak 200 petugas pemadam kebakaran dan empat helikopter pengebom air dikerahkan untuk memadamkan kobaran api. Dua petugas pemadam kebakaran mengalami luka ringan.
Baca juga : Pengembangan Panas Bumi jadi Katalis Kesejahteraan dan Pembangunan Daerah
"Kami juga memobilisasi jaringan sukarelawan dalam jumlah besar," ujarnya.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengungkapkan, petugas pemadam kebakaran telah menangani sekitar 122.000 operasi selama periode gelombang panas.
"Meski suhu mulai turun, aktivitas layanan darurat masih sangat tinggi. Kami mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama saat beraktivitas fisik di luar ruangan," pesannya.
Akhir Juni, Prancis dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor selama 11 hari berturut-turut, dengan suhu melonjak hingga di atas 40 derajat celcius di berbagai tempat. Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist menyampaikan, sejauh ini 2.025 orang meninggal dunia.
"Ada sekitar 2.025 kematian tambahan untuk pekan 22 hingga 28 Juni dibandingkan dengan pekan sebelumnya," kata Stephanie Rist, seperti dikutip France24, Jumat (3/7/2026).
Baca juga : Jemaah Gelombang Pertama Tuntas, Fokus Madinah
Warga Prancis pun dilanda kepanikan. Ratusan orang dilaporkan “mengepung” berbagai pusat perbelanjaan dan supermarket di pinggiran Kota Paris demi berebut unit pendingin ruangan atau Air Conditioning (AC). Warga yang frustasi bahkan saling sikut dan berkelahi. Di sejumlah lokasi, polisi sampai harus turun tangan mengendalikan situasi.
Kericuhan salah satunya pecah di Supermarket Lidl, yang menjual AC model dasar dengan harga miring sekitar 179 euro atau setara Rp 3,1 juta rupiah. Angka ini jauh lebih murah dibanding harga normal sebesar 1.200 euro atau sekitar sekitar Rp 24 juta.
Gelombang panas juga terjadi di Spanyol. Seperti dilaporkan AFP, Rabu (1/7/2026), Institut Kesehatan Masyarakat Carlos III Spanyol menyebut, 1.028 orang meninggal dunia akibat masalah kesehatan yang dipicu cuaca panas. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama setahun lalu, 407 kematian.
Di Spanyol, Kebun Binatang dan Akuarium di Ibu Kota Madrid bahkan memberikan makanan beku, pancuran air, hingga kolam renang bagi satwa untuk membantu menghadapi gelombang panas ekstrem. Dilansir Viory, Jumat (3/7/2026), sejumlah satwa seperti panda raksasa dan orangutan terlihat menikmati es berisi buah-buahan di tengah suhu udara yang terus menyengat.
Di Jerman juga sama. Suhu tertinggi tercatat hingga lebih dari 41 derajat celsius. Akibatnya, aspal pada jalur trem hingga ban mobil meleleh.
Baca juga : Firman Soebagyo: Kenaikan Pertamax Cs Tak Bebani Rakyat Kecil
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, 150 juta orang terpapar panas ekstrem di Eropa. Banyak sekolah terpaksa ditutup demi keselamatan.
"Lebih dari 1.300 kematian telah tercatat sejak 21 Juni 2026," kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pernyataannya, Selasa (30/6/2026).
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Plh Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ida Pramuwardani menjelaskan, Indonesia sangat kecil kemungkinan mengalami fenomena tersebut.
Ia menerangkan, gelombang panas ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti Asia Tengah, Eropa, dan Amerika. "Secara geografis, wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi," terangnya.
Selain itu, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat. "Maka, wilayah Indonesia kemungkinan kecil mengalami fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave," ucapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya