Dark/Light Mode

Firewall Politik Runtuh

AfD Dan BSW Desak Jerman Stop Bantuan Militer Untuk Ukraina

Jumat, 16 Oktober 2026 07:20 WIB
Thomas Schulze (kiri) menyapa politisi AfD Hans-Thomas Tillschneider usai rapat parlemen Saxony-Anhalt pada 6 Oktober 2026. (Foto: Jan Woitas/Pool via REUTERS)
Thomas Schulze (kiri) menyapa politisi AfD Hans-Thomas Tillschneider usai rapat parlemen Saxony-Anhalt pada 6 Oktober 2026. (Foto: Jan Woitas/Pool via REUTERS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Partai sayap kanan Jerman Alternative für Deutschland (AfD) dan partai kecil berhaluan kiri Sahra Wagenknecht Alliance (BSW) mulai terlihat akrab. Keduanya satu suara mendukung mosi di parlemen yang mendesak Pemerintah Pusat menghentikan pengiriman bantuan militer untuk Ukraina.

Mosi simbolis ini diluncurkan, Rabu (14/10/2026), bertepatan dengan persidangan perdana pelaku pemboman pipa gas Nord Stream di Hamburg, Jerman.

Mantan perwira militer Ukraina Serhii Kuznietsov mulai diadili di Pengadilan Tinggi Daerah Hamburg, Jerman, atas tuduhan mendalangi pemboman pipa gas Nord Stream pada September 2022. Pemerintah Ukraina membantah Kuznietsov sebagai bagian dari personel militer mereka.

Pipa gas Nord Stream adalah jaringan pipa yang menyuplai gas alam dari Rusia menuju Jerman.

Pemerintah Jerman yang dipimpin Kanselir Friedrich Merz, merupakan penyedia bantuan militer terbesar di Eropa untuk Kiev.

Baca juga : Sudahkah Indonesia Mengubah Kekayaannya Menjadi Kekuatan Digital?

Pemerintah Jerman telah berulang kali menegaskan dukungannya dan terus menyalahkan Rusia yang menginvasi Ukraina pada Februari 2022, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas perang tersebut.

Meski mosi AfD dan BSW ini tidak membawa efek besar di parlemen, kesepakatan kedua partai ini menunjukkan AfD mulai dilirik partai kecil.

Pada 6 September lalu, AfD meraih kemenangan terbesarnya dalam sebuah pemilihan di negara bagian Saxony-Anhalt. AfD nyaris mencapai kemenangan mutlak dengan meraup 48 persen di Saxony-Anhalt.

Ketua AfD untuk Saxony-Anhalt Ulrich Siegmund menyatakan niatnya untuk mengupayakan konfirmasi parlemen secara resmi sebagai perdana menteri negara bagian (state premier) sebelum akhir tahun ini.

BSW, yang memisahkan diri dari partai sayap kiri jauh Linke, belum menyatakan secara terbuka keinginannya untuk berkoalisi secara formal dengan AfD. Namun, BSW menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan AfD dalam beberapa isu.

Baca juga : Pesan UI dari Skolkovo, Ajak Dunia Membesarkan Manusia

Dikutip dari Reuters, Kamis (15/10/2026), keduanya memiliki keinginan serupa untuk memulihkan hubungan diplomatik Berlin dengan Moskow dan membendung gelombang imigrasi.

“Tembok pemisah (firewall) telah gagal,” ujar Pendiri Partai BSW Sahra Wagenknecht kepada portal berita t-online.

Firewall dalam politik Jerman adalah metafora untuk kesepakatan tidak tertulis di antara partai-partai politik arus utama menolak segala bentuk kerja sama, koalisi atau aliansi politik dengan partai ekstrem kanan, khususnya AfD.

Baik AfD maupun BSW sangat vokal mengkritik dukungan Jerman kepada Ukraina. Kedua partai ini berpendapat, dukungan tersebut justru memperpanjang perang dan menghabiskan uang pajak. Mereka berharap, dana untuk membantu Ukraina bisa dihentikan dan dipakai untuk kepentingan dalam negeri.

“Apa yang terjadi selama beberapa bulan dan tahun terakhir dalam perang ini adalah salah satu permasalahan terbesar Jerman,” ucap Siegmund dikutip Reuters, Kamis (15/10/2026).

Baca juga : Delegasi Indonesia Temukan Wajah Diplomasi Baru di KBRI Moskow

Kanselir Jerman Friedrich Merz bersikeras mendukung Ukraina dengan bantuan militer dalam perang melawan Rusia.

“Kita mendukung Ukraina, dan kita akan terus mendukungnya, karena Ukraina juga sedang mempertahankan kebebasan kita,” tegasnya dalam sebuah debat di Parlemen Jerman, Bundestag, pada 9 September lalu.

Pernyataan Kanselir Jerman tersebut dialamatkan pada pemimpin Partai AfD Alice Weidel yang sebelumnya mendesak sang Kanselir mulai mendorong perundingan damai Rusia-Ukraina, seperti yang dilakukan AS.

Sayangnya, dukungan terhadap Ukraina, sebagaimana ditunjukkan dalam survei ARD Deutschlandtrend selama bertahun-tahun, makin tidak populer di mata rakyat Negeri Der Panzer.

Persentase orang yang menganggap dukungan militer sudah terlalu berlebihan terus meningkat, perlahan namun pasti dan kini mencapai 42 persen. [LDU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.